Pergilah Corona… Kota Berastagi Tidak Akan Pernah Mati

Tugu Kota Berastagi. Herman

 

Karo | Jurnal Asia
Kota sejuk Berastagi merupakan satu daerah tujuan wisata yang ada di Sumatera Utara (Sumut) yang memiliki berbagai pesona alam yang menakjubkan.

Kota ini sudah terkenal bagi kalangan tamu domestik dan mancanegara dengan keramah tamahan masyarakatnya, kaya akan budaya dan adat istiadatnya begitu juga objek objek wisata unggulan yang dimiliki Tanah Karo Simalem dengan keindahan alam,udaranya yang sejuk serta nyaman yang setiap saat dapat menghipnotis wisatawan untuk bertahan lebih lama untuk menghabiskan masa liburan bagi para pelancong dan wisatawan.

Kota sejuk Berastagi Tanah Karo ini terletak di dataran tinggi pegunungan Bukit Barisan, berada pada ketinggian 400-1600 m diatas permukaan laut yang berjarak 75 km dari kota Medan ibukota propinsi Sumatera Utara.

Baca Juga : Matahari Medan Fair Kembali Dibuka, Pengunjung Wajib Kenakan Masker

Potensi pariwisata alam yang dimiliki Kabupaten Karo diantaranya pegunungan seperti Gunung Sibayak, pemandian air panas, air terjun Sikulikap, panorama Daolu, Lau Debuk debuk, Taman Hutan Raya Bukit Barisan, pasar tradisional bunga dan buah, Taman Mejuah juah Berastagi, Bukit gundaling, dan masih banyak lagi objek wisata unggulan yang biasanya setiap hari dikunjungi oleh wisatawan terlebih hari besar dan libur kota dingin ini seakan tak pernah mati dengan hiruk pikuknya tamu yang datang dari luar daerah dan mancanegara untuk menikmati sejuk dan damainya kota kecil yang juga dijuluki “Bumi Turang” ini.

Tamu Tak Diundang Covid-19
Tapi setelah virus Covid-19 menerjang Sumatera Utara, kota kecil ini juga ikut terdampak yang melumpuhkan berbagai sektor seperti Pariwisata dan pertaniannya yang merupakan Pendapatan Asli Daerah (PAD) seakan ikut tergulung oleh ganasnya pandemi wabah Corona tak ayal para pelaku pariwisata,pertanian,UMKM, pengusaha dan pelaku perhotelan terpuruk akibat sepinya tingkat kunjungan wisatawan.

Hampir semua objek wisata di kota ini tergerus karena tidak adanya wisatawan yang datang berkunjung, salah satunya pasar bunga dan buah yang terletak di jantung kota Berastagi, dimana pada hari hari sebelum datangnya tamu yang tak diundang virus Corona ini datang suasana pasar bunga dan buah ini tak pernah sepi selalu saja ada kelihatan kesibukan para pedagang dan tamu yang berkunjung.

Suara delman yang unik dan tawa riang pak kusir yang sedang membawa tetamu berkeliling bukit gundaling dan yang mengelilingi sudut kota kecil Berastagi begitu juga tak ketinggalan senyum pedagang ternak kelinci yang asik bercengkerama dengan pembeli namun saat ini pemandangan itu tidak terlihat lagi seakan sirna diderpa oleh ganasnya wabah virus Corona yang menakutkan.

Suasana di Pasar Berastagi sepi kosong. Ist

 

Duka Corona ini juga diungkapkan oleh salah seorang pedagang ternak kelinci Jaya Sembiring (30) warga desa Jaranguda ketika ditemui Jurnal Asia, Sabtu (2/5/2020) yang tetap memilih untuk selalu menguji nasib berdagang ternaknya ditengah pandemi walaupun sama sekali tidak ada tamu dan pembeli.

“Ini semua dilakukan untuk memenuhi kebutuhan keluarga jika saya tetap dirumah mau makan apa lagi istri dan anak-anak sedangkan sampai hari ini bantuan belum ada yang kami terima,” ujarnya.

Pilihan tetap berniaga ternak ini terpaksa harus dijalani walau pun terkadang tidak ada buka dasar. “Ini pilihan yang harus dilakoni karena masalah perut biasanya hewan ternak ini juga kami kirim ke berbagai kota seperti Aceh,Bagan Batu tapi melihat kondisi seperti ini tak mungkin,” ungkapnya.

Sedangkan Tulus (45) pedagang bunga dan buah mengatakan ditengah pandemi ini mengaku kalau saat ini kami tetap berbuka walaupun tidak ada pengunjung, ia masih menggantungkan harapan yang besar dari berdagang buah.

“Meskipun tamu dari luar seperti Medan, Siantar, Aceh,dan kota lainnya tidak ada masuk berbelanja saat ini kami hanya berharap pembeli lokal itupun kalau ada,” ungkapnya.

Baca Juga : Update 1 Mei, PDP Covid-19 Meningkat 160 Orang di Sumut

“Satu bulan ini sejak merebaknya covid-19 kami berjualan bukan lagi membawa untung kerumah tetapi uang yang dari rumahlah dikorek dan saya tetap optimis badai ini pasti berlalu kota ini akan kembali bergerumuh dengan hiruk pikuk wisatawan dan kita semua akan siap menyambut dengan senyum atas kembali hadirnya pelancong,” sambungnya.

Sementara itu amatan Jurnal Asia di pasar bunga dan buah kondisi pasar hanya terlihat dan dapat dihitung jari para pedagang yang membuka dagangan mereka, pedagang jagung bakar dan rebus yang biasanya berjejer kini seperti tidak ada penghuni begitu juga pedagang oleh oleh Berastagi seperti baju aksesoris,dan lainnya sama sekali tidak ada dihuni wisatawan.

Pemandangan ini membuat hati merasa sedih melihat kota yang memiliki berbagai pesona alam yang selalu disebutkan oleh para pelancong serta penikmat udara dingin selalu riuh tapi kali ini seakan menjadi kota mati dan kita semua berharap semoga tamu yang tak diundang ini cepat pergi dan berlalu,semoga keceriaan kembali menjadi milik kita.(Herman)

0 responses to “Kompol Ronni Bonic : Peran Polri Sebagai Social Engineering

Close Ads X
Close Ads X