Preman Rampok dan Aniaya Wanita Penjual Tuak

Viral di Media Sosial

Medan | Jurnal Asia

Seorang wanita muda menjadi viral di media sosial (medsos) setelah menceritakan aksi premanisme yang dialaminya. Ibunya diikat dan diarak oleh sekelompok preman, hanya karena tuduhan penadah, Rabu (12/9) malam.

Lewat akun facebooknya, Siliyana Angelita Manurung, menceritakan kejadian bermula ketika ibunya didatangi oleh dua laki-laki yang menjual sepatu di kediamannya Jalan Jermal 15 Ujung Medan.

“Saat itu ibu saya menolak. Namun kedua pemuda tersebut tetap memaksa dengan alasan hendak membeli nasi, karena mereka belum makan. Akhirnya mamaku membeli sepatu, daan menyerahkan uang Rp 15 ribu,” ungkap Siliyana saat dikutip wartawan dari video yang beredar, Kamis (13/9).

Rabu pagi Siliyana yang saat itu sedang tidur di kamarnya tiba-tiba dibangunkan oleh pekerja di lapo tuak milik ibunya yang mengatakan ibunya diarak-arak oleh orang kampung ini lantaran membeli sepatu dari Basir.

Siliyana langsung bergegas keluar rumah untuk melihat ibunya. Sesampainya di lokasi, sejumlah preman sudah berkumpul dan ia melihat ibunya diikat di pohon.

“Hati seorang anak begitu sampai di TKP melihat kondisi ibu saya diikat layaknya seperti binatang dan hanya menggunakan baju dalam dikalungkan karton juga dikalungkan sepatu yang dibeli. Hati saya sebagai seorang anak sangat teriris,” katanya sembari meneteskan air mata.

Ketika berusaha menolong ibunya yang dipasangi kalung karton bertulis “Saya Penadah”, Siliyana mengaku dianiaya oleh seorang pria. Siliyana mengatakan jika pria itu tak ada hak menghakimi ibunya. Namun pria tersebut kembali memukul wajahnya hingga 2 kali.

“Saya ingin maju lagi, tetapi masyarakat memegangi saya sampai terjatuh ke tanah. Kemudian mama diarak-arak lagi sampai di lapangan bola samping rumah saya,” beber anak yatim tersebut.

Masih katanya, setelah diarak, preman memberikan 2 pilihan kepada ibu dan anak tersebut, diantaranya pindah dari lokasi atau warga akan menghancurkan lapo tuak milik ibunya. Namun kenyataannya para pelaku justru memporak-porandakan kedai tuak semi permanen milik ibunya itu.

Menurut Siliyana, pelaku juga mengambil paksa 2 sepedamotor dan menuduh bahwa itu merupakan barang curian. “Saya sudah melaporkannya ke Polrestabes Medan dan juga sudah ke rumah sakit untuk visum. Ibu dan saya bukanlah orang yang sempurna, namun kami berharap mendapatkan keadilan,” katanya.

Lanjutnya lagi, ia sebagai warga Indonesia menanyakan dimana keadilan itu. Siliyana hanya anak dari keluarga tidak mampu yang dianiaya. “Kemana masyarakat Indonesia yang cinta kedamaian. Lihat si pemilik mobil putih yang menganggarkan harta dan premanismenya menganiaya seorang anak gadis yang hanya ingin membela seorang ibunya. Bagaimana mereka yang memakan uang rakyat,” curhatnya.

“Lalu apa bedanya kami yang justru melakukan sebuah kekeliruan kecil yang dibesar-besarkan kami dan menambah fitnah. Saya harap buat saudara-saudara semua yang melihat postingan saya untuk meluangkan waktu menshare kisah seorang anak yang ingin menyelamatkan ibunya,” tutupnya.

Sementara itu Kasat Reskrim Polrestabes Medan AKBP Putu Yudha Prawira yang dikonfirmasi menegaskan jika pihaknya saat ini sedang memproses laporan korban.

“Kita saat ini sedang mengumpulkan seluruh alat bukti. Kasusnya sedang kita proses intensif. Saya menegaskan akan menangkap pelakunya,” tegasnya. (bowo/hut)