Eka Sari Lorena, Menaklukkan Bisnis Kaum Lelaki

Kesuksesan grup usaha Lorena yang berkecimpung di bidang transportasi dan jasa logistik, tidak terlepas dari sosok feminin Eka Sari Lorena. Putri sulung GT Soerbakti ini mampu mempertahankan kelangsungan bisnis keluarga hingga kini telah sukses go public.

Eka yang kini menjabat CEO Lorena Transport Group, selalu mengedepankan prinsip kerja keras dan berupaya fokus pada bisnis yang digeluti. Ini dibuktikan melalui usaha bus Lorena yang dibangun perlahan, namun terus mengalami pertumbuhan kinerja yang signifikan. Eka merupakan generasi kedua keluarga GT Soerbakti yang didapuk melanjutkan estafet kepemimpinan, sebagai pelestari sekaligus pengembang mulai tahun 2000.

Awal 1970, ayahanda Eka yang masih aktif di militer ingin berbisnis di bidang transportasi. Dikarenakan keterbatasan dana, sang ayah meminjam uang di bank dengan sertifikat rumah dan tanah sebagai jaminan. Dari pinjaman tersebut, dua bus Mercedes-Benz berhasil didapat dengan rute pertama yang dilayani Jakarta-Bogor PP via Parung.

“Perlahan kami membangun bisnis transportasi ini dengan memaksimalkan kecerdasan sumber daya manusia. Dengan demikian, rencana bisnis bisa dijalankan dengan optimal,” katanya.
Ketangguhan Eka di dunia transportasi, yang biasanya dipimpin kaum Adam ini, terbentuk dari pengalaman-pengalamannya sejak kecil. Ia selalu bangga menceritakan ketika menghabiskan akhir pekannya di garasi (pul) Lorena. Bahkan, kamar tidurnya pun berada di ruang teknik yang membuatnya sangat akrab dengan suara-suara mesin.

Ada kalanya Eka kecil “menghilang” sehingga membuat sebagian orang panik. Namun, ia kemudian ditemukan di ruang operasional. Di sana, Eka kecil duduk dengan tenang. Ia datang dan melihat, walaupun belum memahami seluruh dinamika di ruang operasional. Kendati demikian, dari usia sangat dini, sejak belum sekolah, jelas ia telah bersinggungan dengan dunia transportasi darat. Hingga dewasa, hidup di lapangan tetap hal menarik bagi Eka, ketimbang harus memelototi angka-angka di laporan keuangan.

Ujung Tombak
Menurutnya, keberhasilan Lorena Group saat ini karena perseroan berhasil mengedepankan sumber daya manusia sebagai ujung tombak perseroan, di samping penggunaan sistem IT yang menunjang pekerjaan dan monitoring, serta mendorong revitalisasi manajemen dan teknologi serta perluasan jaringan. Eka menyebutkan langkah besar Lorena yang mulai melayani trayek bus ke Jawa Timur pada 1980-an. “Dulu, trayek kami paling jauh itu ke Surabaya,” katanya.

Ekspansi ke Jawa Timur tersebut menjadi tonggak pesatnya laju pertumbuhan bisnis Lorena. Nama Lorena memang diambil dari namanya, sebagai privilege khusus menjadi anak tertua. Lorena berarti arah atau jalan yang baik. Nama ini cukup membawa keberuntungan, karena layanan bus cepat diterima dan mendapatkan kepercayaan masyarakat.

Akhirnya, pada 1989, Lorena Grup mengembangkan usahanya dengan mendirikan PT Ryanta Mitra Karina yang biasa disebut Karina, yang juga bergerak di bidang jasa angkutan umum bus Antar-Kota Antar-Provinsi (AKAP) melayani trayek Jakarta, Surabaya, Malang, Madura, dan Denpasar. Kala itu, Lorena juga menjadi salah satu perusahaan autobus yang menjadi andalan pengguna angkutan umum antarkota di kawasan tersebut.

Tidak puas hanya menjelajah sekitar pulau Jawa, giliran Sumatera dibidik dengan rute Jakarta-Pekanbaru, Riau. Kini, Lorena Group telah memiliki dan mengoperasikan 500 bus besar, 250 truk, dan 57 armada TransJakarta. Jika ditambah kendaraan-kendaraan kecil, total ada sekitar 1.000 kendaraan yang dioperasikan.

Ia mengungkapkan, Lorena Group saat ini tidak hanya mengedepankan transportasi penumpang seperti AKAP, BRT, sewa, dan feeder, tetapi juga di bidang kurir dan logistik dengan brand ESL Express, ESL Logistics, dan ESL International.

Lorena Group kini telah memiliki 667 kantor di seluruh Tanah Air. “Sekarang, dari Sabang sampai Merauke, Lorena ada benderanya,” kata peraih Master of Business and Administration dari University of San Francisco, California, AS, tersebut.

Kiprah di Organda
Pada 2010, tepatnya Selasa (23/10), Eka yang menjadi pemilik sekaligus CEO Lorena Transport Group, didapuk sebagai Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Organda. DPP Organda telah memiliki tujuh Ketua Umum DPP dan Eka Ketua Umum ketujuh. Sebelumnya Lorena tidak pernah dipimpin kaum hawa.

“Mau laki atau perempuan, profesionalisme yang sangat dibutuhkan dalam melaksanakan kegiatan transportasi darat, baik manajemen operator maupun regulatornya. Organda itu harus mengayomi Operator Angkutan Umum Penumpang Perkotaan, Pedesaan, AKAP, Antar Kota Dalam Provinsi, sewa juga angkutan barang (pelat kuning) yang memiliki representasi di 33 provinsi dan 415 DPC (Dewan Pimpinan Cabang),” katanya.

Menurutnya, Organda harus berperan aktif membangun industri transportasi darat yang mampu menampung aspirasi anggota dalam meningkatkan kinerja, layanan, serta pendapatan. Itu guna mampu memberikan layanan yang memperhatikan sungguh akan aspek keselamatan bagi pengguna jasa/masyarakat.

“Visi Organda menjadi organisasi profesional dan independen yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat dan industri dengan membangun kolaborasi effektif dengan regulator dan stakeholders penting lainnya,” tuturnya.

Eka memandang selama ini angkutan umum jalan raya telah dibiarkan berjalan sendiri, dengan banyak regulasi yang tidak berpihak pada kemajuan angkutan itu sendiri. Eka khawatir, terhambatnya mobilitas orang dan distribusi barang dapat menghambat pertumbuhan ekonomi.

“Hasilnya bisa dilihat, macet di mana-mana. Angkutan umum, terutama angkutan umum jalan raya di perkotaan dan pedesaan tidak mampu merevitalisasi armada mereka secara signifikan. Sebaliknya, pertumbuhan kendaraan pribadi yg menerima banyak kemudahaan, terlalu cepat dibandingkan kemampuan pertumbuhan dan peremajaan angkutan umum. Ini masih menjadi PR besar,” kata dia.

Eka mengingatkan, butuh kerja ekstra keras dan cerdas untuk mencapai negara dengan perekonomian terbesar ketujuh di dunia pada 2030. “To get things done. Berkali-kali saya tekanan pentingnya membangun infrastruktur dan transportasi, juga untuk membatasi pergerakan kendaraan yang tidak dibutuhkan. Pasalnya, ancaman kemacetan total (gridlock) bukan isapan jempol,” kata dia.

Sejauh ini, Eka membuktikan diri mampu memimpin Organda. Ia membuktikan dirinya bukan pelaku bisnis karbitan dalam dunia transportasi darat. Apalagi, dengan kenaikan harga BBM subsidi beberapa waktu lalu, ia terus memperjuangkan agar angkutan jalan mendapatkan insentif fiskal maupun penyesuaian tarif. Tujuannya cuma satu, eksistensi angkutan dapat terus bertahan, tetapi perusahaan angkutan juga tidak bangkrut. (shc)