Anantya Van Bronckhorst | Untuk Kebahagiaan Banyak Orang

”Tap your RFID and good luck.” Itulah kalimat pendek yang menyambut karyawan Think Web di mesin absen super besar. Mesin ini bahkan mendominasi lobi kantor yang hanya berukuran sekitar 3,5 x 3,5 meter persegi. Membuat suasana terasa khas kantor perusahaan digital.

Ketika karyawan menempelkan kartu identitasnya, mesin ini akan menyapa hello, diikuti nama si karyawan. ”Mesin ini kami iseng buat sendiri. Tadinya untuk klien, ketika ada event yang dimeriahkan dengan game. Mesin ini dihadirkan untuk orang-orang yang ingin menari, berkaraoke, dan sebagainya.

Kalau si peserta menang, ada hadiah yang keluar dari sana. Nah ketika tidak dipakai untuk klien, kami manfaatkan untuk absensi. Agar lebih seru kadang kami juga sediakan hadiah, siapa yang rajin ketika suatu saat absen akan muncul hadiah apa yang didapatnya,” cerita Anantya Van Bronckhorst, pemilik perusahaan agensi digital, Think.Web.

Berbelok ke kiri dari mesin absen, lukisan-lukisan kecil karya para pekerja kreatif Think Web menghias beberapa sisi dinding. Salah satunya berjudul Have Fun karya Prima dan Kinu.
Di bawah goresan kanvas membentuk aneka benda mulai dari buku, layar komputer, cangkir, hingga kata Puk-puk Day yang mengelilingi tulisan 8th Anniversary Think Web, pelukisnya menulis kata: we are playing not working (kita bermain bukan bekerja).

”Kita memang berusaha menciptakan suasana kerja semenyenangkan mungkin. Karena ini kerja kreatif, semua harus dipancing untuk mengeluarkan ide-ide mereka yang tak biasa,” sambung Anan, demikian sapanya.

Tak Melulu Tentang Materi
Tentang kata Puk-puk Day, Anan menjelaskannya sebagai salah satu tradisi akhir tahun di kantornya. Terinspirasi dari kebiasaan orang menepuk pundak atau punggung orang lain untuk mengurangi beban dan kesedihannya.

”Intinya adalah untuk mem­bangunkan lagi semangat diantara sesama karyawan, untuk mengucapkan terima kasih atas kerjasamanya dan mencairkan suasana. Biasanya kita akan membuat lingkaran besar, dimulai dari saya dan partner owner yang lain berkeliling memeluk, menepuk punggung dan mengucap terima kasih. Selanjutnya diikuti yang lain,” jelas wanita kelahiran 23 November 1979 ini.

Anan mengatakan, momen ini selalu ditunggu 80-an karyawannya. Mereka ingin menutup kerja keras selama satu tahun dengan segala suka dukanya. Sehingga di tahun yang baru dapat memulai kerja dengan semangat baru lagi.

Soal lukisan, Anan bercerita, dia dan partnernya, Ramya Prajna Sa­hisnu, sepakat menyusun berbagai langkah untuk menyulut kreativitas para karyawan. Salah satunya dengan memberi workshop melukis guna memperkaya diri. ”Hasil workshop mereka bikin beberapa lukisan tadi,” katanya, tersenyum.

Sejak awal membangun usaha ini, Anan dan Ramya sepakat tak melulu bicara keuntungan materi. Salah satu targetnya, membuat wadah kreativitas dan menciptakan kebahagiaan untuk karyawan. Sehingga mereka memang senang bekerja di Think.Web, sebuah perusahaan agensi digital ternama di Tanah Air.

”Awalnya kita berikan imbalan sebagaimana perusahaan lain, ada gaji, bonus, asuransi kesehatan dan seba­gainya. Tapi lama-lama kami mikir, perusahaan kami memang berbeda dan karyawan harus diberikan suasana yang berbeda pula,” terang Anan.

Agar karyawan lebih tertantang dan bersemangat, dia juga punya program 70 20 10. Penggemar olah raga ini menjelaskan, dari total 40 jam kerja dalam seminggu, dia memberi kesempatan pada karyawan untuk memanfaatkan 70 persennya untuk menyelesaikan pekerjaan utama.

Yang 20 persen dapat mereka pakai untuk merasakan kerja di divisi lain, sementara 10 persen sisanya dapat digunakan untuk kebutuhan sosial. Salah satu karyawan misalnya memanfaatkannya untuk berbagi semangat membangun usaha melalui siaran radio.

Namun Anan sadar, semangat boleh saja membara, tapi tak ada gunanya jika tubuh sakit-sakitan. Dengan pertimbangan ini, dia menginisiasi kegiatan preventif kesehatan dengan menyediakan makan siang dan memberi kesempatan berolah raga.

Belum Mencapai Puncak
Bicara soal bisnis, di era ekonomi internet ini bisa dibilang Think.Web tinggal memetik hasil. Anan dan Ramya sudah memprediksi hari ini akan tiba sejak merintisnya pada 2006.
”Walau sebenarnya ini juga belum puncaknya ya. Ke depan peluangnya masih banyak,” ucap Anan.

Dia menjelaskan, perusahaannya bukan sekadar mengembangkan web, tapi memberikan solusi komunikasi dan pemasaran digital serta media sosial bagi kliennya. Acer adalah salah satu perusahaan besar yang pernah memercayakan layanan komunikasi digitalnya pada mereka. Selebihnya ada berbagai produk Unilever, Bank Danamon, CIMB Niaga, LippoBank, Hewlett-Packard dan masih banyak lagi.

Dalam perkembangannya, Think.Web bahkan punya beberapa anak per­usahaan. Ada Website Developer (digify), Digital PR (TalkLink), Digital Content Managemen (TRys), Mobile and Game Developer (Inmotion) dan sebagainya.

Tentu tak langsung mekar seperti saat ini. butuh proses panjang juga perjuangan yang dilakukan Anan dan para partner bisnisnya. Bahkan mereka sem­pat menumpang pada PT lain sebe­lum dinyatakan siap berjalan sendiri.

Kini, setelah bisnis yang dibangunnya pa­da usia 20-an sudah tinggal me­nga­wasi, Anan yang juga menjadi salah satu dosen di UI mulai menekuni hobinya yang lain, merajut. Bahkan dia bersiap membangun wadah untuk memberi kesempatan pada pegiat seni ini untuk mengembangkan bisnis.

Langkah lain, Anan membangun komunitas Girls In Tech, berisi wanita-wanita yang aktif di bisnis start up untuk melakukan berbagai aksi sosial. Anan sendiri menginisiasi bioskop bisik untuk tuna netra. Dia juga mengajak beberapa teman untuk menulis ulang beberapa buku yang kemudian dibuat braille-nya. ”Karena tidak semua buku ada soft copy-nya. Sementara para tuna netra butuh bacaan,” pungkas Anan, tersenyum.

Kerja Keras Berbuah
Anantya Van Bronckhorst adalah anak sulung yang lahir dan besar di keluarga pecinta olahraga. Kebiasaan hidup aktif pun menurun kepadanya. Hingga kini ia masih rutin bermain basket, yoga, dan kadang mengikuti ajang lari 5-10 km. nya.

Setelah lulus dari FISIP UI jurusan Komunikasi, Anan, begitu panggilan akrabnya, pernah menekuni banyak profesi. Ia pernah bekerja di sebuah production house, menjadi reporter untuk sebuah website lifestyle, scriptwriter/produser yang mengurus beberapa program TV, dan pernah menjadi PR executive.

Dari beberapa lini pekerjaan yang pernah dipegang, yang dilakoni Anan secara terus-menerus adalah segala yang berhubungan dengan situs. Sejak tahun 2002, Anan sering melakukan pekerjaan mengurusi content website dan melakukan planning activity yang dapat dilakukan di dalam dunia digital.

“Saat itu memang tools dan activity yang dapat dilakukan secara online belum sebanyak dan seberagam sekarang. Sejak tahun 2002 hingga 2004, divisi yang saya pegang berkembang cukup pesat, dari hanya satu website kemudian berkembang menjadi beberapa website, dan di saat itu saya juga mendapat challenge untuk mencari client, target billing dan juga memperbesar tim,” ujar Anan yang sejak dulu sudah tertarik kepada dunia tulis-menulis.

Kerja kerasnya berbuah diakhir tahun 2004. Target billing berhasil tercapai dan tim yang tadinya berjumlah dua orang menjadi lima orang. Dengan pengalaman selama dua tahun menangani klien sekaligus melakukan edukasi digital, di awal 2005, Anan dan salah seorang partner dalam tim, Ramya Prajna, memikirkan untuk mengembangkan divisi lebih lanjut.

Anan mengatakan, “Kami sukses mencari bisnis, membuat plan campaign, mengeksekusi plan, dan kami melihat bisnis digital akan terus berkembang. Namun karena visi dan kebetulan arahan perusahaan yang berbeda, akhirnya yang kami coba godok pembuatan sebuah perusahaan baru.”

Mereka berdua kemudian membuat perencanaan sebuah perusahaan yang akan dibuat, dari perencanaan bisnis hingga keuangan. Anan mengenang saat itu ia dan partner-nya tidak memiliki dasar bisnis sama sekali. “Yang kami lakukan saat itu adalah belajar dan bertanya pada sebanyak mungkin orang. Kami bertanya pada pemilik perusahaan tempat kami bekerja sebelumnya, dan juga membeli banyak sekali buku seputar bagaimana membuat perusahaan sendiri. Dari sana kami kemudian membentuk cikal bakal Think.Web diakhir 2005 dengan anggota sekitar enam orang,” ungkapnya.

Anan mengakui secara jujur bahwa ia sama sekali tak memiliki jawaban untuk pertanyaan tentang alasannya mendirikan startup. Baginya saat itu ia merasa menemukan mitra yang tepat dan memiliki kesamaan visi.

“Saya termasuk orang yang tidak bisa diam, mungkin salah satunya karena saya terbiasa mengerjakan banyak hal yang berbeda dalam waktu yang bersamaan. Pekerjaan pertama saya juga bahkan mengasah saya dalam hal ini, dalam satu waktu yang sama saya pernah mengerjakan pekerjaan PR executive, script writer/produser dan juga mengurus website,” tutur Anan lagi.

Saat memutuskan untuk memulai bisnis sembari melanjutkan kuliah ke jenjang master, Anan merasa bahwa kemampuannya makin terasah. “Siang hari saya dedikasikan benar-benar untuk mengurus bisnis, dan malam hari saya dedikasikan untuk menyelesaikan S2,” ujar lulusan program Magister Komunikasi Univesitas Indonesia ini.

Selain itu Anan juga merasa kegemarannya untuk selalu belajar sesuatu yang baru dan belajar banyak hal sangat berguna dalam menjalankan startup. Karena memang terbiasa hidup aktif, kesibukan di dunia bisnis digital dan rutinitas olahraga tidak membuatnya menghentikan hobinya yang unik, yaitu membuat crochet. “Saya bisa menghabiskan berjam-jam membuat crochet. Crochet adalah merajut dengan hanya menggunakan satu jarum dan hasil rajutannya memiliki pattern yang lumayan rumit.”

Ia mengakui mengalami yang namanya susah-senang, jatuh bangun menjadi entrepreneur dan melalui banyak hal, termasuk kesulitas keuangan, permasalahan SDM, dan belajar bertahan agar perusahaan tetap berjalan. (wic)