Pilkada Cuma Loncatan

Berdasarkan hasil hitung cepat ketiga pasangan calon gubernur DKI Jakarta, Pasangan Basuki Tjahja Purnama (Ahok) – Djarot Saiful Hidayat berada di posisi teratas disusul oleh pasangan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno. Namun pasangan Agus Yudhoyono dan Sylviana Murni berada diposisi terakhir dengan kata lain pasangan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Sylviana Murni gugur dalam putaran pertama.

Saat banyak orang menertawai Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) karena kekalahan AHY dalam Pilgub Jakarta, penulis tiba-tiba berpikir lain, bahwa sesungguhnya yang tengah berjalan adalah skenario SBY. Ingatan pada kekalahan SBY dari Hamzah Haz pada Pemilihan Wakil Presiden tahun 2001, menguatkan pikiran ini.

SBY memang tidak menargetkan Jakarta. Ia tengah mempersiapkan AHY untuk sesuatu yang lebih besar. Dan, untuk itu, AHY harus menjadi kesatria, berjiwa besar dan negarawan muda. Kekalahan adalah ujian yang diharapkan. Dan, AHY bukan dikorbankan, tapi tengah ditempa.

AHY juga sekaligus untuk memecah ombak. Tanpa AHY, bisa jadi Ahok menang satu putaran. Jauhnya elektabilitas Anies dibanding Ahok sebelum penetapan calon gubernur menjadi alasan utama perlunya pemecah ombak.

Dan, SBY kali ini jitu. Ahok hanya mampu mendulang suara jauh di bawah dari setengah pemilih Jakarta yang memberi suara. Saat bersamaan, elektabilitas Anies merangkak naik.

Berjalannya skenario SBY juga terindikasi saat AHY menyampaikan pidato kekalahan. Pendukungnya malah sudah berteriak AHY for President. Saat bersamaan, jutaan orang yang melihat, termasuk yang bukan pendukung AHY, bahkan pendukung die hard Ahok, termasuk Jokowi, berdecak kagum lalu memuji AHY: kesatria. Sebuah tanda lahirnya rasa suka yang kelak berpotensi menjadi keinginan untuk memilihnya.

Ini artinya, jangankan untuk jabatan politik setara dua bintang, untuk empat bintangpun, AHY sudah mendapat dukungan untuk itu. Jalannya lempang. Hanya tsunami politik yang bisa menghadang.

Apa yang didapat AHY ini adalah sebuah mukjizat bagi seorang mayor. Untuk menjadi jenderal, seorang mayor memerlukan waktu lebih dari sepuluh tahun. Dan, tak ada jaminan AHY mendapatkan itu. Apalagi kian tahun, SBY kian kehilangan pengaruh karena usia renta, juga dinamika kehidupan.

SBY tak mau itu terjadi pada putra sulungnya. AHY harus menjadi jenderal secepatnya. Dan itu tercapai, tak sampai setahun setelah AHY berhenti menjadi tentara aktif. Kini, popularitas, juga elektabilitas AHY jauh mengungguli para jenderal aktif sekalipun.

Pilkada serentak merupakan momentum bagi kemajuan kehidupan demokrasi daerah-daerah yang menyelenggarakan Pilkada khususnya, dan demokrasi Indonesia pada umumnya. Hal ini tentu saja dikarenakan para calon kepala daerah tersebut mempunyai komitmen yang tinggi dalam memajukan berbagai segi kehidupan terutama kesejahteraan masyarakat yang dituangkan dalam visi dan misi mereka.

Pilkada ini diharapkan dapat menjadi momentum bagi kemajuan di berbagai bidang, baik kemajuan secara fisik maupun secara non-fisik. Pun tentu saja dapat menjadi momentum bagi bangkitnya pendidikan di Indonesia. Betapa tidak, hampir seluruh pasangan calon (paslon) memasukkan peningkatan di bidang pendidikan ini ke dalam visi misi mereka dengan berbagai terobosan-terobosan dan program-program unggulannya.

Kita peduli, meskipun saya bukan warga DKI. Semakin hari, konstelasi perpolitikan bangsa ini semakin menjadi jadi. Sudah selayaknya kita patut berbangga diri, ketika mendapati bahwa demokrasi di negeri ini sudah semakin matang, bahkan dunia pun mengakui.

Terlebih lagi, toleransi yang dijunjung tinggi mampu menambah khasanah damainya Indonesia ini. Tentu saja, hal ini adalah sebuah pencapaian yang luar biasa, sehingga harus dijaga agar tetap lestari dan indah tiada terperi.

Toleransi sendiri dapat diartikan secara bahasa sebagai suatu sifat atau sikap menghargai pendirian yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri.

(*)