Kemandirian Ekonomi Berbasis Pesantren

Dalam lingkungan pesantren, para pengelolanya kebanyakan mempunyai sistem ekonomi sendiri, pemasukan dan pengelolaan keuangannya sendiri yang salah satunya dengan dibentuknya suatu unit usaha atau kegiatan yang bergerak di bidang Agrobisnis dan Agroindustri.

Eksistensi Pondok Pesantren masih tetap mengakar dan menyatu dengan kehidupan masyarakat Islam, yang senantiasa diharapkan memberi jawaban alternatif terhadap perubahan dan perkembangan dewasa ini, dengan kemampuan mendayagunakan potensi sumber daya insani secara maksimal untuk menggali potensi sumber daya alam melalui penyerapan alih teknologi.

Hal ini menjadi tantangan dan tuntutan dalam era globalisasi, khususnya bagi Pondok Pesantren yang tengah mengembangkan sayapnya di bidang Agro (Agrobisnis). Pertanian dan Budidaya Tanaman Pondok Pesantren menjadikan kegiatan pertanian dan budidaya tanaman untuk menjadi suatu bidang keahlian bagi masyarakat pesantren.

bibit ikan dengan induknya. Biasanya satu indukan dapat bertelur dan memijahkan ribuan bibit atau anak ikan. Bibit ini kemudian ditempatkan dalam kolam tersendiri dan sudah siap jual atau dipelihara, di mana keuntungannya murni untuk kepentingan Pesantren.

Mengikuti perkembangan zaman, beberapa pesantren mulai memasukkan pelajaran keterampilan sbagai salah satu materi yang diajarkan. Ada keterampilan berternak, bercocok tanam, menjahit berdagang dan lain sebagainya. Disisi lain ada juga pesantren yang cenderung mengimbangi dengan pengetahuan umum.

Seperti tercermin dalam madrasah yang disebut dengan “modern” dengan menghapuskan pola pembelajaran wtonan, sorogan dan pembacaan kitab-kitab tradisional.

Dengan mengadopsi kurikulum modern, pesantren yang terakhir ini lebih mengutamakan penguasaan aspek bahasa.Program pemberdayaan ekonomi berbasis pondok pesantren, seperti memberikan pelatihan ketrampilan usaha, kewirausahaan dan bentuk kegiatan ekonomi lainnya, bertujuan sebagai penunjang dari tugas utama pondok pesantren yaitu membekali ilmu agama. Sehingga pondok pesantren diharapkan tidak hanya sebagai pencetak generasi intelektual yang produktif dan kompeten secara spiritual, namun juga produktif dan kompeten secara ekonomi.

Pilihan kegiatan pemberdayaan ekonomi ditentukan oleh kemampuan pengelola pondok pesantren dalam membaca, mendefinisikan, memanfaatkan, dan mengorganisasi sumberdaya, baik internal maupun eksternal.

Berbagai jenis pemberdayaan yang dapat dikembangkan pada pondok pesantren di antaranya adalah bidang agribisnis, jasa, perdagangan, dan industri. Bidang usaha yang dikembangkan biasanya mengikuti usaha lokal yang banyak dikembangkan di wilayah pondok tersebut.

Gerakan pemberdayaan ekonomi yang dimiliki oleh keluarga pengasuh dengan memberdayakan sekitar di antaranya adalah usaha pembuatan songkok/peci, usaha pembuatan tas, usaha pembuatan tempe, dan usaha pembuatan tahu. Ada juga usaha dalam bidang jasa, yaitu usaha jasa warnet.

Pondok juga mempunyai usaha dalam bidang perdagangan, yaitu toko sembako, toko material bangunan, dan toko kitab.

Ada juga usaha bidang peternakan, pertanian, dan perikanan. Pengasuh mulai mendirikan unit usaha yaitu dengan membuka usaha pembuatan songkok/peci dan toko material bangunan. Usaha pembuatan songkok/peci yang kini memperdayaan sekitar 20 santri, rata-rata per hari mampu memproduksi 10 kodi (200 buah) songkok. Harga satuan songkok tersebut bervariasi mulai dari duapuluh ribu rupiah, duapuluhlima ribu rupiah, dan tigapuluh ribu rupiah.

Pengasuh juga mendirikan unit usaha baru, yaitu dengan membuka usaha pembuatan tempe, pembuatan tas dan juga mendirikan toko sembako. Usaha pembuatan tempe yang kini memperdayakan sekitar 21 santri, setiap hari mampu memproduksi tempe dengan bahan kedelai.

Kemudian untuk usaha pembuatan tas, kini memperdayaakan sekitar 11 santri dengan produksi rata-rata per hari mencapai 1 sampai 2 kodi (20 sampai 40 buah). Jenis tas yang dibuat bermacam-macam mulai dari tas kecil, sedang, dan besar. Harganya juga bervariasi sesuai ukuran tas, mulai dari harga duapuluh ribu rupiah, tigapuluh ribu rupiah, sampai tujuhpuluh ribu rupiah.
Penulis Alumni UMSU