Israel Terus Gempur Gaza

Upaya PBB Tak Berhasil

Gaza | Jurnal Asia

Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) kemarin, Selasa (13/11), menggelar rapat tertutup terkait pertempuran di Jalur Gaza, Palestina antara Hamas dan Israel. Namun, kabarnya pertemuan itu sia-sia lantaran tidak ada satupun kesepakatan yang dihasilkan guna mencegah peperangan berlanjut.

Kekecewaan atas pertemuan DK PBB itu disampaikan oleh Duta Besar Palestina, Riyad Mansur. Dia menyatakan dalam rapat selama 50 menit itu tidak menghasilkan keputusan apapun karena dianggap ada pihak-pihak yang menghambat.

“DK PBB seperti lumpuh dan gagal memikul tanggung jawab atas kejadian itu. Ada satu negara yang tidak membolehkan masalah itu (Jalur Gaza) dibahas di dewan,” kata Mansur, seperti dilansir AFP, Rabu (14/11).

Senada dengan Mansur, Duta Besar Kuwait Mansur al-Utaibi juga merasa kecewa dengan sikap DK PBB soal konflik terbaru di Jalur Gaza, Palestina. Menurut dia seharusnya dewan menggunakan pengaruhnya untuk bertindak dan bukan malah berdiam diri.

Duta Besar Israel untuk PBB, Danny Danon justru menuding pemicu pertempuran itu adalah Hamas. Dia juga menyatakan tidak menanggapi kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hamas di Jalur Gaza, dan menaytakan pemerintahnya masih bersikap ofensif.

“Kami tidak akan menanggapi permintaan untuk menahan diri,” kata Danon.

Kabarnya, rapat darurat soal keamanan di Israel juga menyatakan sikap yang sama. Yaitu memerintahkan angkatan bersenjata untuk terus melanjutkan operasinya. Sumber di PBB menyatakan situasi di Jalur Gaza masih sangat rawan. Sebab perang bisa pecah kembali kapan saja lantaran Hamas dan Israel tetap siaga.

“Apa yang kita lihat selama 48 jam sangat membahayakan dan tidak ada upaya apapun yang dilakukan (DK PBB) untuk mencegah hal itu (perang) kembali terjadi,” kata sumber itu.

Hamas menyatakan pertempuran terjadi setelah serdadu Israel menembaki pasukan Brigade Izzudin Al Qassam yang sedang berjaga di Khan Yunis dari dalam mobil biasa, pada Minggu pekan lalu. Serdadu Israel itu lantas kabur kemudian dikejar oleh pasukan Hamas.

Ternyata pesawat tempur Israel yang mengawal para prajurit lantas menyerang pasukan Hamas yang sedang mengejar target dengan dalih melindungi rekan mereka. Hamas kemudian membalasnya dengan serangan roket ke selatan Israel.

Israel mengklaim operasi militer yang digelar pada Minggu pekan lalu bersifat intelijen mengumpulkan informasi, dan bukan bertujuan membunuh atau menculik. Mereka juga mengakui kalau operasi itu tidak berjalan sesuai rencana. Namun, Hamas tidak terima dengan alasan itu.

Bentrokan ini terjadi dua hari setelah Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu membolehkan Qatar mengirim bantuan uang kepada Hamas di Jalur Gaza. Dia pun memangkas lawatannya dalam peringatan berakhirnya Perang Dunia I, dan pulang untuk memimpin rapat darurat.

Hamas sudah menggelar pemakaman untuk tujuh pejuang mereka yang gugur pada Senin kemarin.
Hamas dan Israel sudah terlibat tiga kali peperangan sejak 2008. Dikhawatirkan hal ini bisa memicu perang baru. Sebab, sudah berbulan-bulan situasi di Jalur Gaza memanas akibat sikap represif Israel yang membunuh warga sipil, saat unjuk rasa besar-besaran di kawasan perbatasan sejak 30 Maret lalu. Sekitar 231 warga Palestina meninggal karena dibunuh pasukan Israel dengan ditembak ketika demonstrasi, lainnya akibat serangan udara dan tank.

Pemerintah Mesir menyerukan Israel untuk menghentikan aksi militernya di wilayah Jalur Gaza. Seruan ini disampaikan setelah para milisi Palestina di Gaza menyetujui gencatan senjata yang dimediasi pemerintah Mesir untuk menghentikan eskalasi kekerasan.

“Mesir mengulang permintaannya pada Israel untuk segera menghentikan semua bentuk aksi militer di Gaza,” demikian disampaikan Kementerian Luar Negeri Mesir dalam sebuah statemen seperti dilansir kantor berita AFP, Rabu (14/11).
(cnn-dc-adp)