Tanoto Foundation Gelar Pelatihan Dosen di Medan

Pelatihan modul II di Medan. Netty

Medan | Jurnal Asia
Dosen menjadi role model (panutan) bagi mahasiswa calon guru. Karena itu, seiring dengan perkembangan zaman dan tuntutan, kemampuan dosen mengelola pembelajaran penting bagi pendidikan tinggi.

Teacher Training Institut ( TTI) Coordinator Provinsi Sumut, Sri Minda Murni mengatakan, mahasiswa calon guru bakal menirukan cara mengajar dari dosen. Jika dosen kaku atau lebih banyak ceramah di depan, maka itulah yang akan diterpakan saat mahasiswa menjadi guru.

Untuk itu, kata dia, Tanoto Foundation melakukan pelatihan modul II adaptasi program PINTAR bagi dosen di Medan. Sebelumnya, modul I juga sudah diterapkan di 2 Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) yakni Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) dan Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU).

“Pelatihan modul 2 dirancang agar dosen memiliki pengetahuan dan pengalaman terkait metodologi/proses khas tiap mata pelajaran, keterampilan dan pemodelan belajar,” katanya di acara pelatihan modul II untuk mitra LPTK UINSU dan UMSU di Medan, Selasa (10/3/2020).

Ia berharap, ke 76 dosen yang mengikuti pelatihan modul 2 ini dapat merancang skenario yang mencerminkan pembelajaran aktif. Sehingga saat mahasiswanya menjadi guru bisa menerapkannya di sekolah-sekolah.

Deputy Head of TTI Development, Stephanie Hardjo menambahkan, pelatihan modul II ini selaras dengan kampanye Kemendikbud Merdeka Belajar. Di mana mahasiswa ataupun pelajar dituntut aktif untuk cari tahu sendiri terkait pembelajaran.

“Pendekatan yang dilakukan Tanoto Foundation berbeda dengan organisasi lainnya karena bentuknya jangka panjang dan terus dilakukan pendamping. Kita ingin menyasar perubahan pendidikan yang sistemik,” ujarnya.

Wakil Rektor I UINSU, Prof.DR Syafaruddin, M.Pd mengungkapkan, dengan adanya pelatihan modul II ini ada percepatan perubahan pengajaran di perguruan tinggi. Selain itu, juga memberikan pembelajaran aktif ke calon guru yang sejatinya mahasiswa sudah merekam kegiatan untuk mengajar.

“Perguruan tinggi mendapat manfaat yang sangat besar dengan pelatihan modul 11 ini. Ini merupakan kemudahan dalam mengembangkan dosen-dosen untuk mengajar serta memastikan perubahan itu terjadi sesuai tuntutan Kemendikbud yakni Merdeka Belajar,” tuturnya.

Senada dikatakan Wakil Dekan 3 FKIP UMSU, Dewi Kusuma Nasution bahwa program modul memberi perubahan pola mengajar. Yang bisanya lebih banyak ceramah tetapi sekarang sudah berkurang.

“Memang saat dosen mengajar itu identik dengan ceramah. Tapi dengan penerapan program PINTAR ini, persentase ceramah dikurangi proses belajar lebih menarik,” pungkasnya.(nty)