Konsumen Mulai Berburu Pernak-pernik Imlek

Hiasan Imlek : Seorang pembeli sedang melihat-lihat hiasan Imlek.Netty

Medan | Jurnal Asia
Perayaan tahun baru Imlek tinggal sepekan lagi. Bersih-bersih rumah dan hias rumah yang menjadi tradisi rutin ini berdampak kepada peningkatan penjualan pernak-pernik Imlek di sejumlah toko di Medan.

Seperti yang terlihat di toko Acai Jaya di Jalan Brigjen Katamso Medan. Masyarakat Tionghoa mulai membeli pernak-pernik Imlek mulai dari pohon sakura, lampion dan lainnya.

Pemilik toko, Aliansyah mengatakan, jelang Imlek ini memberikan berkah tersendiri bagi mereka. Pasalnya, penjualan pernak-pernik Imlek tahun ini meningkat sekitar 20 persen dibandingkan tahun lalu.

“Ada peningkatan penjualan sekitar 20 persen. Ini dikarenakan banyak model baru mulai dari hiasan lampion ataupun lainnya,”katanya.

Biasanya, sambungnya, konsumen mulai berbelanja kebutuhan Imlek itu sepekan jelang lmlek. Begitupun, sejak awal Januari toko miliknya sudah penuh dengan hiasan yang didominasi warna merah tersebut.

Tahun ini, sambungnya, ada model baru. Seperti pohon sakura misalnya, itu dibuat dengan menggunakan bahan bekas yang sudah tidak terpakai lagi.

“Khusus pohon sakura yang memanfaatkan bahan bekas seperti batang pohon dan kertas sangat laris. Pembelinya bukan hanya dari Kota Medan tetapi juga dari luar Kota Medan,” ungkapnya.

Terkait harga, sambungnya, di mulai dari Rp1.500 untuk angpao. Sedangkan hiasannya di mulai dariĀ  puluhan ribu hingga jutaan rupiah.

“Yang paling murah kita jual angpao dan yang paling mahal itu lampu lampion karena saya jual itu lengkap satu paket,” pungkasnya.

Penjualan pernak-pernik Imlek juga membanjir di pasar tradisional. Seperti di Pasar Ramai Medan, pilihan aksesori Imlek juga sudah banyak dijual.

“Sekarang sudah mendekati Imlek dan sudah banyak yang membeli. Hiasan yang banyak dibeli itu seperti lampion dan pohon sakura karena ini sudah menjadi ciri khas Imlek,” kata seorang pedagang, Asiong.

Ia melanjutkan, untuk harga bervariasi dan sedikit meningkat dibandingkan tahun lalu sekitar 5-10 persen. Meski begitu, masih banyak konsumen yang membelinya.(net)