Jokowi Unggul Dibandingkan Prabowo, Pelaku Ekonomi Minta Pemerintah Lanjutkan Pembangunan Infrastruktur

Pengamat ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin.Ist

Medan | Jurnal Asia
Versi hitung cepat, Jokowi unggul dibandingkan Prabowo. Presiden terpilih nantinya akan memulai babak baru dengan pertama kali mengajak masyarakat untuk mengakhiri perdebatan Pemilihan Presiden (Pilpres)

Pengamat ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin mengatakan, masyarakat berharap Presiden terpilih dapat segera memenuhi janji kampanyenya. Janji kampanye yang sering didengungkan adalah terkait dengan 3 kartu yakni kartu sembako murah, kartu Indonesia pintar kuliah dan kartu pra kerja.

“Masyarakat menanti janji ke tiga kartu itu mampu berjalan di tahun 2019 ini dan saya optimis ketiga kartu tersebut mampu untuk direalisasikan segera oleh pemerintahan,” katanya, Rabu (17/4).

Untuk program ekonomi, kata dia, pelaku usaha ingin pemerintah tetap melanjutkan program pembangunan infrastruktur sehingga mendukung konektifitas antar wilayah. Baik infrastruktur laut, darat dan udara (langit).

“Pengembangan ekonomi digital seperti yang sering disuarakan juga harus bisa cepat di realisasikan,” tegasnya.

Kalau berbicara mengenai pertumbuhan ekonomi, sambungnya, ia melihat pertumbuhan ekonomi nasional masih akan berkutat dalam angka 5,3% hingga 5.5% dalam 2 tahun kedepan. Kinerja pertumbuhan ekonomi ini tidak bisa terlepas dari kondisi ekonomi global yang masih mendapatkan ancaman perang dagang dari AS serta ketidak stabilan politik di Eropa.

Di mana perang dagang dan Brexit masih akan terus menghantui kinerja ekonomi nasional. Selanjutnya, pemerintah harus berupaya untuk menyerap komoditas lokal seperti sawit, karet maupun komoditas lain agar lebih banyak dikonsumsi di dalam negeri.

“Kita harus belajar dari tahun 2018 silam, di mana harga komoditas sempat membuat daya beli anjlok karena harganya turun lebih dari 50%,” ucapnya

Untuk itu, pemerintah harus mampu membuat produk hilirisasi seperti kelapa sawit untuk bio diesel. Tidak hanya berhenti di B20, tetapi diupayakan terus untuk B100. Begitu juga untuk karet yang bisa dioptimalkan untuk pembangunan infrastruktur.

Dari sisi eksternal, juga akan terus membayangi perekonomian. Terlebih jika dilihat ada sejumlah masalah pada beberapa negara berkembang yang tengah terlilit krisis ekonomi. Belum lagi jika seandainya tren kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral AS terulang dan seandainya perang dagang menyeret kepada masalah geopolitik yang lebih luas.

Menurutnya, ancaman eksternal ini sangat potensial mengganggu stabilitas ekonomi makro. Begitupun, ia meyakini bahwa kinerja ekonomi makro di tahun ini akan tetap stabil dengan kecenderungan membaik.

“Salah satu keberhasilan pemerintah Jokowi sebelumnya adalah dengan pengendalian inflasi yang mampu di tekan di bawah 3%,” tuturnya.

Jadi, lanjutnya, kemenangan ini tidak semestinya membuat pemerintah merasa nyaman. Masih ada sejumlah tantangan ekonomi kedepan yang masih penuh ketidakpastian.

“2018 memang menjadi bukti bahwa pemerintahan Jokowi mampu melewati masa masa sulit ditengah tekanan ekonomi global,” tambahnya.

Sedangkan dari sektor keuangan, ia memprediksi ada potensi IHSG yanh mampu naik di atas Rp5.800 di tahun ini. Pemilu yang berjalan lancar dan damai menjadi salah satu pemicunya.

Sementara itu, nilai tukar rupiah berpeluang bergerak dalam rentang Rp13.700 hingga 14.300 di tahun ini. Di mana pasar keuangan kita juga masih banyak dipengaruhi oleh kondisi pasar keuangan global.

“Selain pembangunan infrastruktur, kita mengharapkan adanya upaya serius dalam pengembangan sumber daya manusia yang terampil dan tersertifikasi. Kemudian memaksimalkan arus investasi yang masuk baik itu PMDN maupun PMA, melakukan upaya hilirisasi komoditas unggulan nasional hingga revitalisasi BUMN,” pungkasnya.(nty)