62 Persen Penggunaan Uang Elektronik Terfokus di Medan

 

Penggunaan uang elektronik di tol.Netty

Medan | Jurnal Asia
Transaksi uang elektronik di Sumatera Utara (Sumut) pada Mei 2019 mencapai 1,44 juta transaksi uang. Dari jumlah itu, pangsa terbesar adalah Medan sebanyak 62 persen atau 892.800 transaksi.

Kepala Bank Indonesia (BI) Perwakilan Sumut, Wiwiek Sisto Widayat mengatakan, penggunaan uang elektronik di Sumut terus meningkat setiap periodenya. Ia menyayangkan, penggunaannya masih terfokus di Kota Medan saja.

“Selain Medan, penggunaannya dalam jumlah terbatas baru ada di Deli Serdang, Binjai, Tebing Tinggi dan Pematang Siantar,” katanya, Rabu (14/8).

Kondisi ini, kata dia, kemungkinan besar disebabkan oleh faktor kebiasaan dalam menggunakan pembayaran secara tunai. Jadi masyarakat Kota Medan lebih cepat mengadopsi pembayaran non tunai atau dengan elektronik.

“Itu yang membuat transaksinya masih berpusat di Medan,” tegasnya.

Wiwiek mengatakan, transaksi non tunai terus digenjot dengan meningkatkan ketersediaan infrastruktur hingga ke daerah-daerah agar bisa meningkatkan sistem pembayaran secara non tunai.

Pertumbuhan penggunaan uang elektronik di Sumut salah satunya didukung oleh kegiatan elektronifikasi jalan tol berkat fasilitasi yang dilakukan Bank Indonesia kepada Badan Usaha Jalan Tol (BUJT), perbankan dan integrator sistem, baik di tingkat pusat dan daerah.

Dari sisi transaksi uang elektronik, saat ini terjadi shifting (peralihan) transaksi dari mayoritas transaksi top up menjadi transaksi pembayaran. Hal tersebut menunjukkan jika penggunaan uang elektronik semakin luas.

“Tentu diharapkan ke depan transaksinya terus meningkat karena ini bagian dari cash less society. Bukan hanya di Kota Medan saja tapi juga daerah lain di Sumut,” katanya.

Sementara itu, perkembangan Lembaga Keuangan Digital (LKD) juga meningkat signifikan, dengan total 14.361 agen.(nty)