Serangan Bersenjata di Rumah Sakit Afghanistan Tewaskan Bayi dan Perawat

Seorang tentara Afghanistan menggendong seorang bayi yang menjadi korban serangan di Kabul, Selasa (12/5/2020).EPA

 

Afghanistan | Jurnal Asia
Serangan kelompok militan di sebuah rumah sakit di ibu kota Afghanistan, Kabul, Selasa (12/5/2020) tewaskan dua bayi, 12 ibu dan sejumlah perawat.

Sebanyak 15 orang lainnya, termasuk beberapa anak terluka dalam serangan yang dilakukan sekelompok pria bersenjata, demikian keterangan pejabat keamanan.

Serangan dimulai sekitar pukul 10.00 waktu setempat, dan warga setempat mengaku mendengar dua ledakan dan disusul bunyi tembakan.

Baca Juga : Pusat Pasar Kabanjahe Diawasi, Masyarakat Tidak Pakai Masker Ditertibkan

Seorang dokter yang berhasil melarikan diri selama serangan itu mengatakan kepada BBC bahwa ada sekitar 140 orang berada di rumah sakit saat orang-orang bersenjata menyerang.

Masih belum jelas siapa yang melakukan serangan terhadap sebuah rumah sakit, dan kelompok Taliban membantah keterlibatannya.

Ruang bersalin di rumah sakit itu dijalankan oleh yayasan kesehatan internasional Medicins Sans Frontieres (MSF) dan beberapa orang yang bekerja di sana adalah warga negara asing.

Pasukan khusus Afghanistan menyelamatkan 100 orang perempuan dan anak-anak, termasuk tiga orang asing, kata seorang pejabat kepada BBC.

Para penyerang, yang dilaporkan mengenakan seragam polisi, semuanya dibunuh oleh petugas keamanan setelah terjadi baku tembak selama berjam-jam.

Melansir BBC, Rabu (13/5/2020), Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo menyebut serangan di rumah sakit sebagai “kejahatan luar biasa” dan “serangan tidak bermoral”.

Dalam sebuah pernyataan dia mendesak pemerintah Afghanistan dan kelompok Taliban agar bekerja sama untuk menyeret pelaku serangan ke pengadilan.

Sementara itu, di kawasan timur Afghanistan, serangan bom di kompleks pemakaman telah menewaskan sedikitnya 24 orang.

Setelah rangkaian serangan tersebut, Presiden Afghanistan, Ashraf Ghani, mengatakan telah memerintahkan dimulainya kembali operasi ofensif terhadap Taliban dan kelompok lainnya.

Dia menuduh kelompok-kelompok militan mengabaikan seruan berulang kali agar mengurangi aksi kekerasan.

Kelompok yang menyebut ISIS atau Negara Islam mengatakan berada di balik serangan pemakaman komandan polisi di Nangarhar, di wilayah timur negara itu.(nty)