Dibantu Ventilator, Stephen Cameron Pasien Covid-19 dengan Peluang Hidup 10%

Stephen Cameron.BBC

 

Skotlandia | Jurnal Asia
Seorang pilot Skotlandia, Stephen Cameron terinfeksi virus corona (Covid-19). Peluang hidupnya saat itu hanya 10% dan dia menghabiskan waktu dua bulan dengan bantuan ventilator saat melawan Covid-19 di Vietnam, 10.000 kilometer jauhnya dari tempat asalnya di Skotlandia.

“Ada beberapa gumpalan darah dalam tubuh saya, saya mengalami gagal ginjal, dan beberapa organ lainnya juga gagal, kemampuan paru-paru saya turun hingga 10% pada suatu waktu,” katanya melansir BBCIndonesia, Sabtu (1/8/2020).

Kasusnya sangat parah sehingga dia diawasi dengan ketat oleh dokter, otoritas setempat, dan diliput media Vietnam.

Baca Juga : Lagi, Tambahan di Atas 2.000, Total Ada 108.376 Kasus Covid-19 di Indonesia

“Saya diberitahu bahwa saya adalah pasien yang sakit paling parah di Asia dalam suatu periode,” ujarnya.

Kasus Cameron adalah yang terburuk yang harus dihadapi para dokter Vietnam selama wabah negara itu. Dia masih menghadapi “jalan panjang” untuk benar-benar pulih, menurut dokternya. Kini ia memberitahu orang-orang untuk tidak lengah menghadapi virus itu.

“Saya adalah contoh hidup dari apa yang dapat dilakukan oleh virus ini dan seberapa seriusnya,” katanya kepada BBC dari tempat tidur rumah sakitnya di Skotlandia.

“Orang tidak bisa menganggap ringan hal ini sampai kita benar-benar memberantas virus ini,” tuturnya.

Selama koma, Cameron bergantung pada mesin Ecmo, alat yang hanya digunakan dalam kasus yang paling ekstrem, untuk bertahan hidup.

Mesin itu mengekstrak darah dari tubuh pasien dan mencampurnya dengan oksigen, sebelum dipompa kembali ke dalam tubuh pasien.

“Pada satu titik, teman saya Craig diberitahu oleh Kementerian Luar Negeri bahwa peluang hidup saya hanya 10%, jadi dia merencanakan yang terburuk – dia menyewakan apartemen saya dan mulai melakukan hal-hal yang akan dilakukan seseorang jika saya pulang ke rumah dalam peti,” katanya.

Petugas rumah sakit sempat berencana melakukan transplantasi paru-paru padanya saat kemampuan paru-parunya turun hingga 10%. Dia juga menderita beberapa kegagalan organ.

Terlepas dari apa yang dia alami, Cameron percaya bahwa ia beruntung sakit di Vietnam, negara berpenduduk 95 juta orang yang hanya memiliki 420 kasus terkonfirmasi Covid-19. Sedikit pasien rawat inap intensif, dan tidak ada kematian karena Covid-19.

“Jika saya berada di tempat lain di planet ini, saya akan mati. Mereka akan mematikan alat yang membantu hidup saya setelah 30 hari,” katanya Juni lalu.

Warga Skotlandia itu kehilangan berat badan sebanyak 30 kg dalam keadaan koma, dan masih berjuang untuk berjalan meskipun telah menjalani rehabilitasi yang ekstensif.

Cameron berencana mengemudikan pesawat lagi “awal tahun depan”. Tetapi rehabilitasinya akan lama dan sulit, dan nasib pekerjaannya belum jelas akibat dampak Covid-19 pada industri penerbangan.(nty)

 

 

Close Ads X
Close Ads X