Selama Pandemi, Pasar Modal Bertahan di Tengah Fluktuasi

Ilustrasi pasar keuangan tetap bertahan di tengah fluktuasi.Ist

 

Jakarta | Jurnal Asia
Pasar Modal Indonesia masih mengalami fluktuasi dan berada di bawah level 5.000 atau di bawah resisten level selama pandemi Covid-19. Sejumlah investor saham yang bertahan memiliki saham-saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) tengah mengalami potential loss yang besar.

Perlu diingat, ini baru merupakan potensi kerugian, belum menjadi kerugian yang sesungguhnya, hingga investor menjual sahamnya. Artinya, potensi kerugian ini akan berubah menjadi keuntungan, jika harga saham membaik kembali.

Namun, jika investor yakin, setelah pandemi Covid-19 berakhir, ekonomi pulih kembali baik di tataran global maupun di dalam negeri, maka kurva Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diharapkan kembali naik. Artinya, harga-harga saham pun ikut terkerek kembali.

Baca Juga : Peduli Covid-19, UBN Indonesia dan FBC Serahkan Bantuan ke Kanwil Kemenag Sumut

Bagi investor yang berorientasi jangka panjang, dan memiliki tujuan yang jelas di depan, seharusnya tidak perlu panik dengan melakukan aksi merealisasikan kerugian atau cut loss. Tetap tenang dan bertahan.

Kepala Kantor Perwakilan BEI Sumut, M Pintor Nasution melalui rilis dari TIM BEI menatakan, di tengah risiko penurunan harga ini juga tetap terbuka peluang keuntungan. Investor bisa melakukan pembelian saham-saham yang harganya sedang murah, tetapi memiliki kinerja fundamental yang baik.

‘Sejalan dengan prinsip high risk high return yang berlaku di pasar saham. Strategi pembelian saham ketika harga sedang turun dikenal dengan istilah average down,” katanya, Senin (18/5/2020).

Pendekatan average down biasa digunakan ketika harga satu saham yang dianggap potensial dalam jangka panjang mengalami penurunan. Sementara para investor yakin pada posisi tertentu saham akan mencapai posisi bottom dan akan kembali naik. Ketika investor meyakini bahwa saham tersebut akan turun untuk kembali menanjak, investor bisa menerapkan strategi ini.

Pembelian dilakukan secara bertahap mengikuti tren penurunan. Misalnya, perusahaan dengan harga saham Rp5.000 per lembar saham, berdasarkan analis diperkirakan akan turun hingga posisi terendah Rp3.000 per lembar saham. Setiap terjadi penurunan, investor bisa melakukan pembelian secara bertahap.

Menurutnya, investor bisa meminta kepada Perusahaan Efek tempat investor menjadi nasabah. Setiap Perusahaan Efek memiliki tim riset, yang biasanya terdiri analis-analis saham yang secara regular menerbitkan analisa kinerja fundamental dan teknikal saham-saham yang tercatat di BEI.

“Meski pasar sedang melewati periode fluktuatif dengan tren koreksi, tidak berarti tidak ada peluang untuk meraih keuntungan
dari berinvestasi saham. Dan jika saat ini investor merasa terpukul karena nilai investasinya menurun tajam, ini juga dialami banyak investor lainnya di seluruh dunia. Pertimbangkan dengan matang apabila akan menjual saham dengan harga rugi,” tegasnya.

Pasar saham di seluruh dunia sudah banyak melewati berbagai peristiwa seperti pandemi covid-19 saat ini. Mulai dari wabah penyakit, krisis ekonomi global, teroris hingga kondisi politik. Dan dalam sejarah, selalu ada saatnya kondisi pasar membaik bahkan mencapai titik puncak.

Investor tidak perlu trauma menghadapi situasi ini, karena siklus penurunan harga saham sepuluh tahunan tengah terjadi. Data statistik menunjukkan, ketika terjadi krisis global pada tahun 2008, IHSG anjlok hingga minus 50,64%. Namun demikian, pada tahun selanjutnya, 2009, IHSG kembali pulih dan menguat 86,98% pada tahun 2009.

“Investor yang memiliki tujuan investasi jangka pendek, atau memiliki horizon jangka panjang namun saat ini sudah waktunya sesuai goals merealisasikan hasil investasi, bisa siap-siap melakukan penjualan saat harga mulai kembali naik. Penjualan bisa dilakukan secara bertahap untuk meminimalisir kerugian,” pungkasnya.(nty)

 

Tinggalkan Balasan