Pendeta Adventus: Natal Sebagai Perayaan Perdamaian

Damai : Pendeta Adventus Nadapdap, S. Th memberikan pesan Hari Natal sebagai perayaan perdamaian. Vii

Medan | Jurnal Asia
Bulan Desember adalah bulan suka cita yang selalu dirayakan oleh umat Kristiani. Karena pada bulan Desember adalah hari kelahiran sang Juru Selamat yaitu Yesus Kristus yang jatuh pada tanggal 25 Desember. Disamping itu bagi umat Kristiani, Natal adalah perayaan kehidupan.

Demikianlah yang disampaikan oleh Kepala Departemen Diakonia Huria Kristen Indonesia (HKI), Pendeta Adventus Nadapdap, S. Th.

“Sebab Yesus Kristus yang lahir datang ke dunia untuk memberikan kehidupan baru bagi umat manusia yg telah jatuh ke dalam kematian kekal karena dosa,” ucapnya, Sabtu (22/12).

Lebih lanjut Pendeta Adventus juga menuturkan bahwa disamping perayaan kehidupan, Natal juga adalah perayaan perdamaian karena kristus yang lahir adalah pembawa damai. Yesus mendamaikan hubungan manusia dan Allah, manusia dengan Manusia dan manusia dengan alam semesta yang telah rusak karena dosa ketamakan manusia mengeksploitai alam.

Kemudian adalah, lanjutnya beliau, bagi dunia kelahiran Yesus, kematian, kebangkitanNya dan salibNya adalah kebodohan. Tetapi itulah sesungguhNya hikmat Allah untuk memberi keselamatan bagi dunia. Kristus itulah sumber hikmad yang menyelamatkan dan mendamaikan.

Oleh karena itulah Natal seharusnya dirayakan dalam hikmat Allah agar perayaan itu mencerminkan peryaan kehidupan dimana umat percaya dalam perayaan natal menghormati kehidupan dengan cara menghormati Hak asasi manusia dan keadilan ekologis.

“Biarlah melalui Natal ini bangsa Indonesia saling bertoleransi dan menghargai HAM, menghormati kebebasan beribadah. Umat percaya juga dalam perayaan natal ini dipanggil untuk berjuang menegakkan keadilan ekologis, dimana semua ciptaan berhak untuk memiliki keberlanjutan mempertahankan spesiesnya, semua makhluk harus merasakan keadilan pendistribusian kekayaan alam, itulah perayaan kehidupan dan perdamaian,” tegas beliau.

Dalam perkembangan teknologi informasi yang berkembang hari ini, sisi negatif ya adalah bahwasannya penyebaran informasi bohong serta isu SARA juga berkembang dengan sangat pusat.

Untuk itu, Pendeta Adventus menegaskan bahwa alangkah baiknya kita pandai dalam memfilter setiap informasi yang tersebar, apalagi pada momen pilkada yang akan berlangsung.

“Dalam hikmad dari Kristus mari kita lebih bijaksana memfilter segala informasi yang lebih mempermainkan emosional massa dengan isu agama tanpa berdasarkan kebenaran dan objektivitas,” tutur beliau.

“Mari kita melaksanakan pesta demokrasi 2019, yaitu pilpres dan pileg dengan menghormati perbedaan, menghargai HAM dan semakin membangun perdamaian. Kemudian mari kita lawan segala informasi-informasi yang melanggar nilai kebenaran dan tidak berbasis data dan hanya mengedepankan permainan emosional,” tandasnya. (Vii/Wo)