Film Ajari Aku Islam Dirilis September 2019 di Bioskop

Penulis naskah AAI, Yunita Saragi (kiri-kanan) dan Eksekutif Produser AAI, Jaymes Riyanto beri keterangan pers, Senin (3/6).Netty

Medan | Jurnal Asia
Film Ajari Aku Islam (AAI) yang dibintangi oleh Roger Danuarta dan Cut Meryska akan dirilis September 2019 mendatang di bioskop di Indonesia. Film religi yang diproduksi Jaymes Riyanto ini mengangkat kisah dua sejoli yang terhalang perbedaan suku dan agama.

Eksekutif Produser AAI, Jaymes Riyanto mengatakan, proses pembuatan film ini dimulai Oktober 2018 dan Maret 2019 sudah kelar syuting. Saat ini sedang dalam proses editing suara dan gambar dan diprediksi selesai bulan Juli mendatang.

“Bukan Juli ini kemungkinan kelar dan kemudian diajukan ke pihak bioskop. Harapan kita, Film AAI ini akan tayang di bioskop sekitar September 2019 dan kita targetkan akan meraih sekitar 4 juta penonton,” katanya di Medan, Senin (3/6).

Melalui film ini, lanjutnya, dirinya ingin mengeksplorasi Kota Medan karenanya hampir 50 persen pembuatannya mengambil beberapa lokasi di Medan diantaranya Masjid Raya Al Mashun, Istana Maimun, Bundaran Majestik dan Kota Tua Kesawan. Selebihnya di Jakarta dan Tanggerang.

Selain itu, film yang diangkat dari kisah nyata dari salah satu keluarganya, lelaki Tionghoa yang menyukai gadis Melayu muslim ini diharapkan dapat menginspirasi penonton bahwa perbedaan suku dan agama jangan dipandang negatif. Tetapi justru hal tersebut memberikan keunikan dalam keberagaman yang ada.

“Saya ingin mengangkat citra Islam di dunia bukan dari sisi agamanya tetapi kehidupannya yang universal. Saya berharap, semua perbedaan, suku agama dan ras bisa dipersempit agar jangan ada lagi perpecahan ataupun ujaran kebencian,” ujarnya.

Ia menambahkan, dipilihnya Roger Danuarta dan Cut Meryska karena mereka berdua adalah sosok yang tepat untuk memainkan film ini. Karena memang keduanya mengalami hal tersebut.

Menurut penulis naskah AAI, Yunita Saragi, pembuatan naskah film ini memiliki tantangan tersendiri. Apalagi, proses naskah film diramu sebaik mungkin sehingga produksi bisa berjalan lancar.

“Saya seorang novelis dan saya ditantang untuk membuat naskah yang mengangkat tentang perbedaan agama dan suku. Ini sangat riskan dan saya mengemasnya dengan hal yang ringan diramu dengan roman dua sejoli,” ujarnya.

Intinya, lanjutnya, film religi menceritakan pemuda keturunan Tionghoa yang jatuh cinta dengan gadis muslim. Roger Danuarta bertemu dengan Cut Meryska yang lembut dan keduanya saling mencintainya tetapi terhalang oleh suku, budaya dan agama.(nty)