Akademisi: Matematika Bukan Sekadar Hitung-hitungan

Anda mungkin salah satu yang berpendapat bahwa matematika adalah pelajaran sekolah yang menjengkelkan dan ditakuti banyak murid. Ini karena matematika dianggap sebagai mata pelajaran yang hanya memerlukan kemampuan berhitung.

Sejatinya, matematika lebih dari sekedar berhitung. Menurut Dhitta Puti Sarasvati, seorang akademisi dari Sampoerna University, matematika seharusnya lebih dari sebuah hitung-hitungan, melainkan melibatkan nalar manusia.

“Belajar berhitung saja belum tentu belajar matematika. Matematika itu soal nalar. Makanya perlu pengenalan topik seperti problem solving, alasan dibalik temuan, komunikasi, hubungan, dan representasi,” kata Dhitta saat menjadi narasumber dalam kegiatan Gerakan Nasional, Berantas Darurat Matematika, kemarin.

Selama ini, sebagian besar anak yang masih bersekolah dari SD hingga SMA, masih menyematkan label mengerikan bagi matematika. Ini berdampak pada lemahnya perkembangan kemampuan matematika pelajar Indonesia.

Menurut Niken Rarasati, seorang peneliti dari SMERU Research Institue, selama 14 tahun terhitung dari tahun 2000 hingga 2014, perkembangan pemahaman matematika pada pelajar Indonesia hanya meningkat 11 persen.

“Apa yang terjadi kalau kondisi ini didiamkan? Indonesia akan mampu mengejar rata-rata matematika internasional pada tahun 2065 dengan asumsi laju peningkatan dunia sama dengan kita. Makanya ini mungkin saja bisa berabad-abad,” ujar Niken pada kesempatan yang sama.

Oleh karenanya, Dhitta menegaskan bahwa matematika sebaiknya tidak dianggap sebagai pelajaran hitung-hitungan yang menyulitkan.

Matematika seharusnya dapat dikemas menjadi hal yang menyenangkan seperti disisipkan dalam permainan atau diubah ke dalam benda yang menarik. Selain itu, untuk meluruskan hal ini, perlu adanya kerjasama baik dari guru di sekolah mau pun orangtua di rumah. Dhitta percaya bahwa anak-anak berada di dalam sebuah sistem yang sangat dipengaruhi orang dewasa sekitarnya.

Jadi, penyadaran akan matematika bukan dengan memaksa anak belajar matematika; tetapi justru mendorong orangtua, sekolah, dan masyarakat untuk memberikan lingkungan yang kondusif sehingga anak-anak bisa bermatematika dengan menyenangkan dan bermakna.

“Saya percaya anak Indonesia punya potensi. Tapi, apakah orang dewasa memfasilitasi supaya matematika mereka berkembang? Belum tentu. Karena kadang dari mereka, matematika menjadi menakutkan,” jelas Dhitta.

“Saya tidak berharap semua anak jadi matematikawan. Tapi saya percaya mereka bisa menjadi pemecah (persoalan) dan meningkatkan nalar mereka lewat matematika,” tutup Dhitta. (kc/hut)