Persiapan Perayaan Waisak 2560 BE

Sejumlah Biksu mengambil air suci dalam rangkaian hari Tri Suci Waisak 2560 BE/2016 di kawasan lereng Gunung Sindoro Umbul Jumprit, Ngadirejo, Temanggung, Jawa Tengah, Jumat (20/5). Air suci selanjutnya disemayamkan bersama api abadi di candi Mendut untuk diarak menuju candi Borobudur pada puncak peringatan Waisak. ANTARA FOTO/Anis Efizudin/aww/16.

Sejumlah Biksu mengambil air suci dalam rangkaian hari Tri Suci Waisak 2560 BE/2016 di kawasan lereng Gunung Sindoro Umbul Jumprit, Ngadirejo, Temanggung, Jawa Tengah, Jumat (20/5). Air suci selanjutnya disemayamkan bersama api abadi di candi Mendut untuk diarak menuju candi Borobudur pada puncak peringatan Waisak. ANTARA FOTO/Anis Efizudin/aww/16.

Ketua Umum Perwakilan Umat Buddha Indonesia Walubi yang dipegang Hartati Murdaya (kanan) melepas burung bersama perwakilan terkait saat mengawali rangkaian hari Tri Suci Waisak 2560 BE/2016 di taman Lumbini, kawasan Taman Wisata Candi Borobuidur (TWCB) Magelang, Jawa Tengah, Kamis (19/5). Pelepasan seribu burung berbagai jenis tersebut sebagai simbol kebebasan dan cinta kasih terhadap sesama dan alam semesta. ANTARA FOTO/Anis Efizudin/foc/16.

Ketua Umum Perwakilan Umat Buddha Indonesia Walubi yang dipegang Hartati Murdaya (kanan) melepas burung bersama perwakilan terkait saat mengawali rangkaian hari Tri Suci Waisak 2560 BE/2016 di taman Lumbini, kawasan Taman Wisata Candi Borobuidur (TWCB) Magelang, Jawa Tengah, Kamis (19/5). Pelepasan seribu burung berbagai jenis tersebut sebagai simbol kebebasan dan cinta kasih terhadap sesama dan alam semesta. ANTARA FOTO/Anis Efizudin/foc/16.

Seorang biksu melakukan ziarah di Candi Borobudur, Magelang, Jateng, Jumat (20/5). Ziarah yang diikuti oleh para biksu dan umat Budha itu guna merefleksikan ajaran Sang Budha serta untuk menyambut Waisak 2560 BE/2016. ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko/aww/16.

Seorang biksu melakukan ziarah di Candi Borobudur, Magelang, Jateng, Jumat (20/5). Ziarah yang diikuti oleh para biksu dan umat Budha itu guna merefleksikan ajaran Sang Budha serta untuk menyambut Waisak 2560 BE/2016. ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko/aww/16.

Sejumlah umat Budha membawa Api Dhamma setelah prosesi pengambilan dari sumber Api Abadi Mrapen di desa Manggarmas, Godong, Grobogan, Jawa Tengah, Jumat (20/5). Prosesi pengambilan api abadi yang akan disemayamkan di Candi Mendut dan akan dibawa menuju altar utama di Candi Borobudur pada puncak Prosesi tersebut merupakan rangkaian dari ritual jelang hari raya Waisak, Minggu (22/5). ANTARA FOTO/Yusuf Nugroho/ama/16.

Sejumlah umat Budha membawa Api Dhamma setelah prosesi pengambilan dari sumber Api Abadi Mrapen di desa Manggarmas, Godong, Grobogan, Jawa Tengah, Jumat (20/5). Prosesi pengambilan api abadi yang akan disemayamkan di Candi Mendut dan akan dibawa menuju altar utama di Candi Borobudur pada puncak Prosesi tersebut merupakan rangkaian dari ritual jelang hari raya Waisak, Minggu (22/5). ANTARA FOTO/Yusuf Nugroho/ama/16.


Menyambut Hari Raya Waisak 2560 BE yang jatuh pada hari Minggu, 22 Mei 2016, umat Buddha di seluruh Indonesia mulai melakukan berbagai persiapan untuk merayakannya. Waisak merupakan hari suci yang selalu diperingati oleh seluruh umat beragama Buddha. Di India hari Waisak disebut dengan hari Visakah Puja atau juga Buddha Purnima, di Tibet disebut hari Saga Dawa. Malaysia dan Singapura serta Sri Lanka menyebutnya Vesak, dan Thailand menyebutnya Visakha Bucha.

Hari Raya Waisak ini diperingati pada bulan Mei pada saat Purnama Sidhi atau terang bulan untuk memperingati 3 peristiwa penting: lahirnya Pangeran Siddharta pada tahun 623 sebelum masehi, penerangan agung Pangeran Siddharta menjadi Buddha di tahun 588 sebelum masehi, dan peristiwa wafatnya Buddha Gautama di tahun 543 sebelum masehi.

Ketiga peristiwa ini kemudian disebut dengan istilah Trisuci Waisak. Pada detik detik Hari Raya Waisak ini digelar ritual pindapatta dengan memberikan dana berupa makanan pada para Anggota Sangha yang dilakukan oleh seluruh umat Buddha dengan tujuan memberikan kesempatan pada seluruh masyarakat yang ingin melakukan kebajikan.

Kemudian rangkaian berikutnya yang dilaksanakan sebelum Hari Raya Waisak yaitu samadhi pada saat bulan purnama akan mendekati puncak. Bulan purnama ini ditentukan oleh perhitungan falak dimana bulan purnama ini terjadi dan memuncak di siang hari. Ini merupakan 3 hal pokok yang berupa upacara khusus untuk memperingati hari Waisak yang kemudian juga diikuti dengan adanya pradaksina, pawai, dan berbagai acara kesenian lainnya.

Hari Waisak ini juga dimanfaatkan oleh umat Buddha untuk menghormati dan merenungkan segala sifat luhur dari Tri Ratna yaitu Buddha, Dharma, dan Sangha. Kemudian memperkuat saddha atau keyakinan yang benar berdasarkan tekad, membina paramita atau sifat baik yang berasal dari para leluhur, mengulang kembali dan merenungkan khotbah dari Sang Buddha.
(*)