Junita Liesar Bukan Sekadar Sosialita

Tubuh langsing menjulang, wajah cantik, dan balutan fesyen kelas dunia, Junita Liesar mencuri perhatian dimanapun berada. Namun wanita keturunan Tionghoa–anado ini mengaku tak suka keramaian mal, nongkrong di kafe, apalagi kumpul-kumpul sosialita. ”Jujur menghadiri berbagai acara high class itu bukan aku banget,” katanya tersenyum. Kalaupun Junita terlihat di premier film atau launching produk tertentu, itu demi menjaga relasi. Jika sekali waktu ia hadir di acara ulang tahun salah satu sosialita Jakarta, itu karena dia kenal baik.

Tapi jangan harap akan menemukannya pada acara arisan yang kerap digelar di hotel atau restoran ternama. Karena Junita bilang, tak ada satupun arisan dia ikuti. “Sebisa mungkin aku memang menghindari kumpul-kumpul sosialita. Karena aku melihat kebanyakan arisan itu hanya menjadi ajang pamer kepunyaan, saling bertukar barang, atau malah menggosip. Sementara aku tidak tahan mendengar gosip,” ujar Junita.

Sebenarnya Junita lebih dari memenuhi syarat untuk bergabung di kelompok semacam ini. Namanya tercatat di jajaran direksi perusahaan pertambangan dan properti milik sang suami.
Dia sendiri punya perusahaan yang seratus persen dikelolanya, Quality Holiday. Dengan aset itu ia dapat memiliki berbagai fasilitas kelas atas. Mulai dari tempat tinggal di kawasan elit semacam Penthouse Da Vinci, mobil mewah, hingga balutan fesyen ternama.

Namun ketimbang menghabiskan waktu hanya untuk kumpul-kumpul, Junita memilih berada di kantornya. Mengurus dokumen penting, menjumpai beberapa klien, atau berbincang dengan para karyawan. Begitulah kesibukan Junita sehari-hari di kawasan Jaln Thamrin, Jakarta Pusat.

Bahkan untuk berbincang pada pengujung 2015, ia harus meluangkan waktu diantara jeda makan siang. Mengenakan celana putih dan blazer senada rancangan Victoria Beckham, wanita 45 tahun ini tampil mempesona seperti biasanya. Dengan tambahan sepatu hak tinggi dan tatanan rambut ekor kuda, tubuhnya terlihat kian menjulang. Siapa yang bisa acuh jika berada di sekitarnya.

”Bahkan jika aku hanya mengenakan jins dan kaos pun, ketika lewat di suatu tempat pasti ada yang sedikit meleng, mungkin mereka bertanya, Oo siapa dia? Ada yang bilang ‘mungkin karena kamu cantik.’ Menurutku tidak juga, banyak orang cantik di luar sana, apalagi yang usia 20-30 tahun,” kata Junita.

Bukan alasan Junita berkata seperti itu. ”Aku apa sih, umurku sudah 45 tahun lho! Anakku sudah seusia mereka. Lalu aku pikir-pikir, oh mungkin karena postur tubuhku di atas rata-rata orang kebanyakan, ditambah pula aku senang mengenakan hak tinggi. Coba hitung, tinggiku 184 cm ditambah hak sepatu belasan cm. Tapi ya sudahlah, orang hanya lihat sedikit kok, hehe..”
Junita Liesar memang bukan orang yang suka memperlihatkan kegiatan yang dia lakukan.

“Aku bukan socialite, aku bukan orang yang terlalu suka datang ke function atau pesta-pesta. Aku sangat menjaga kehidupan pribadiku supaya benar-benar tetap personal,” kata Junita yang merasa dalam acara seperti itu tidak bisa menjadi diri sendiri. Karena itu, wajah dan namanya jarang muncul dalam kolom “apa dan siapa” majalah-majalah gaya hidup.

Padahal, dia memiliki syarat untuk menjadi bagian dari komunitas orang yang itu-itu saja yang tampil di lembaran-lembaran majalah mengilat. Penampilan yang menarik, kehangatan dalam berkomunikasi, dan kemampuan ekonomi yang jauh di atas rata-rata sudah cukup untuk membuat seseorang diterima di dunia yang mengandaikan tampilan adalah segala-galanya.

Sekitar separuh harinya dalam setahun habis untuk menemani perjalanan bisnis suaminya yang bergerak dalam bidang properti dan pertambangan. Diantara waktu-waktu antara Jakarta, Singapura, Australia, dan Inggris itulah Junita membagi hidupnya antara membesarkan dua anaknya, kegiatan sosial, dan mengurus bisnisnya sendiri.

“Yang membuat aku merasa lebih senang kalau sedang di luar negeri karena kalau sedang di restoran atau bahkan ketika bertemu di jalan, mereka datang ke aku dan mengatakan hal yang aku percaya tulus dari hati mereka,” tambah dia.

Tahap kehidupan
Bila sedang berada di Jakarta, Junita lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Kata dia, dia tidak menghabiskan waktu ke mal. Kalaupun ada acara ke luar rumah, itu antara lain makan siang dengan sahabat-sahabatnya.

“Saya lebih menjadi a shoulder to cry on buat teman-teman dekat. Kalau mereka sedang ada masalah, mereka bisa bicara ke aku supaya tidak down. Saya kalau bisa menjadi orang yang selalu membangkitkan semangat untuk teman-teman. Dari kecil aku diajar orangtua untuk menjadi terang di mana pun aku berada,” tutur Junita.

Segala sesuatu dia kerjakan dari rumah. Penata rambut hingga pelatih khusus yoga dan pilates dia undang ke rumah dan semua dikerjakan di rumah. Juga bila dia memerlukan sesuatu. “Mereka biasanya akan mengirim barang-barang ke rumah. Misalnya, orang dari Roberto Cavalli datang ke sini membawakan baju-baju terbaru mereka,” kata Junita.

Begitu juga mengurus perusahaan biro perjalanan yang pelanggannya perusahaan, toko kue yang hanya melayani pesanan, atau usaha properti dan pertambangan. Semua dikendalikan dari rumah. Alasan Junita, perusahaan itu sudah berjalan sehingga sekali-sekali saja dia meminta orang dari kantor datang ke apartemennya.

Kehidupan yang sangat privat itu dia jalani setelah menikah. Padahal, Junita yang kelahiran Ternate, Mantan Sersan Militer Inggris Maluku, dan besar di Surabaya itu pernah menjadi model pada usia 15-18 tahun di Kota Buaya itu.

Setelah itu, ibu dari Gabriella Lovisa Lyanto dan Gilvin Leonard Lyanto ini bersekolah ke Inggris dan menyelesaikan pendidikan sarjana bidang hospitality di Bournemouth University. Dia sempat bekerja di beberapa perusahaan sebelum akhirnya menikah 17 tahun lalu.

“Setelah menikah aku menarik kehidupanku ke dunia yang sangat privat. Tentu aku pernah mengalami masa berasa sepi, tetapi aku menjalaninya dengan sukacita. Aku sudah melewati masa-masa itu dan menjalani kehidupan ini sebagai tahapan-tahapan yang harus aku lewati,” kata Junita. Dia mengatakan, pilihan itu adalah penghargaan kepada suaminya yang memilih kehidupan yang lebih privat.

Ketika berada di Jakarta, waktunya akan banyak dia habiskan untuk menunggu dua anaknya pulang sekolah. “Dengan anakku yang Lihat Daftar Tokoh Perempuan perempuan aku seperti teman, kami mengobrol banyak hal. Aku juga bertanya, apakah mereka kehilangan mamanya kalau aku pergi,” kata Junita yang mengatakan liburan Lebaran ini rencananya akan mereka habiskan bersama di Hawaii, menebus waktu bersama yang hilang.

Perpindahan ke kehidupan yang sangat privat ini di sisi lain membuat dia tidak henti bersyukur. “Aku bersyukur hidupku seimbang, dalam perkawinan, dalam materi,” tutur Junita.
Dalam keseimbangan itulah, dia berusaha berbagi. Dia menjadi penyandang dana untuk yayasan sosial yang didirikan ayahnya, seorang pendeta. “Kalau seseorang sudah punya semua, harus berbagi lebih banyak lagi dengan yang lain. Tidak mungkin semuanya dia habiskan sendiri,” kata Junita.

Itu sebabnya juga dia mengaku merasa lebih bahagia ketika bisa menyapa dan mengusap pundak para janda miskin dan anak-anak yatim piatu yang disantuni yayasan tersebut. “Cinta, peduli, berbagi, itu tidak bisa hanya diomongin, tetapi harus dilakukan dengan tindakan. Aku mendapatkan ketulusan dari para ibu janda itu,” kata Junita.

Rahasia
Jamu Temulawak
Dikaruniai tubuh demikian indah, Junita bersyukur dengan selalu merawat dan tampil maksimal di segala suasana. Ia tak memungkiri menyenangi produk fesyen kelas dunia seperti Balmain, Lanvin, Louis Vuiton, dan sebagainya. Alasannya kenyamanan dan itu tadi, postur tubuhnya memang berbeda dengan orang Indonesia kebanyakan.

Wanita kelahiran 9 juni 1970 ini mengaku banyak yang kerap penasaran dengan tubuhnya. Asli atau tidak ya? Apalagi jika menyaksikan foto-fotonya dalam balutan bikini. “Wajar kalau orang berpikir begitu. Bahkan salah satu temanku dari Surabaya yang sudah lama tidak ketemu, dia pegang seluruh badanku. Dia nanya, ‘Liposunction nggak? Ini nggak? Itu nggak?’ Untuk badan aku tidak melakukan apa-apa lho. Mungkin ada faktor genetik juga dari papa mama. Aku punya dua saudara perempuan sama seperti aku juga. Tapi aura dan bahasa tubuh yang keluar yang mungkin berbeda,” katanya.

Junita menambahkan, tubuhnya tidak sepenuhnya sempurna. Kalau dibuka pasti ada kekurangannya. Ia juga tak gengsi mengakui foto-fotonya diedit terlebih dahulu sebelum diunggah.
“Tapi aku bersyukur setelah punya anak masih diberikan badan seperti ini. Itu karena aku juga menjaganya,” lanjut ibunda Gabriella Lovisa Lyanto dan Gilvin Leonard Lyanto ini.
Ia lantas membuka rahasia perawatan tubuhnya. Prinsip Junita, jangan terlalu larut dalam modernitas. Karena dampaknya juga belum tentu baik.

“Makanya sampai sekarang setiap pagi aku masih rajin minum jamu. Itu dibuat sendiri oleh asisten rumah tanggaku, ada temu lawak, kunyit putih, kunyit kuning, asam dan jahe, ditambah madu sama jeruk nipis sedikit,” ungkapnya.

Nah, bagaimana badannya bisa kembali normal setelah melahirkan 2 anak? Rupanya Junita selalu pakai bedung, sebuah kain panjang berkait besi yang dililit ke perut hingga pinggangnya. Dengan alat warisan ibundanya yang turun temurun dipakai kakak-kakaknya ini, tubuh Junita kembali ke ukuran asal hanya dalam waktu sebulan.

Untuk perawatan muka, Junita mengaku biasa saja. Cukup rajin membersihkan wajah serta menggunakan krim pelembab. Selebihnya ia rajin olah raga renang dan yoga. Semua kegiatan itu dilakukannya di rumah. Junita bahkan lebih memilih membayar personal trainer dan hair stylist daripada harus pergi ke salon.

“Sebagian besar waktuku ya habis di kantor dan rumah. Karena aku masih punya anak bungsu yang masih tinggal di sini. Sekarang sih sudah mau berangkat sekolah di LA. Dalam waktu dekat aku akan mengantarnya. Jadi nanti begitu pulang tinggal aku dan bapaknya. Dua kakaknya juga tinggal di luar negeri, satu di LA satu di Boston,” cerita penggemar travelling ini, tersenyum.

Junita melanjutkan, putra bungsunya, Gilvin, tertarik dengan dunia perfilman, cita-citanya jadi sutradara. Sementara anak keduanya, Gabriella Lovisa Iyanto, menyukai bidang fesyen namun lebih ke sisi bisnisnya. Sementara anak kakaknya yang sudah ia anggap sebagai putra pertamanya, sudah meraih gelar master dan bekerja di Amerika.

Hingga saat ini memang belum ada tanda-tanda dari salah satu buah hatinya punya minat untuk melanjutkan bisnis keluarga. Namun Junita berusaha legowo. Ia berharap suatu saat nanti ada diantara mereka yang akan pulang ke Indonesia dan merasa memiliki usaha yang sudah dirintis ayah ibunya.

Jikapun itu tidak terjadi, Junita dan suami sepakat menyerahkan bisnis mereka ke tangan profesional. “Aku percaya, yang punya hidup dan memberi rezeki sudah menentukan akan bagaimana. Makanya sebagai ibu aku tidak pernah mem-brainwash anakku untuk jadi ini itu. Intinya apapun yang mereka inginkan akan aku support. Kalau mengikuti keinginan kami takutnya tidak sepenuh hati. Nanti ada gejolak atau apa,” ujarnya, benar.

Dukungan itu tentu saja termasuk ketika anak-anaknya ingin melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Bukannya tak ada sekolah terbaik di Indonesia, tapi seperti dia jalani dulu, banyak pengalaman dan wawasan yang bisa ditimba di negeri orang. (wic)