Anne Patricia Sutanto: Pesaing Adalah Teman Dekat

Meskipun sudah cukup sukses sebagai profesional, Presiden Direktur PT Pancaprima Ekabrothers Anne Patricia Sutanto yang juga wakil presdir di perusahaan induknya PT Pan Brothers Tbk mengaku belum puas dengan apa yang telah diraihnya sekarang.

Selama hampir 2 jam berbincang di kantornya, dia bercerita banyak tentang perjalanan karier, perkembangan perseroan, hingga obsesinya mendirikan perusahaan kayu lapis. Berikut petikan wawancaranya:
Bisa dijelaskan kondisi pasang surut perusahaan yang Anda pimpin?
PT Pan Brother berdiri pada 21 Agustus 1980 yang memulai usaha di bidang garmen dan berkantor pusat di Tangerang, Banten. Pada 1990, perseroan mencatatkan sahamnya (IPO) di Bursa Efek Jakarta (sekarang Bursa Efek Indonesia).

Pada 2005, perseroan mengakuisisi PT Pancaprima Ekabrothers yang juga bergerak di bidang industri garmen. Tahun ini perseroan merampung kan proses akuisisi terhadap PT Hollit International, sebuah perusahaan sales agent yang memiliki jaringan luas di seluruh dunia.

Seiring dengan itu, sejak tahun lalu perseroan mengubah visi bisnis dari integrated world wide garment manu facturer menjadi garment suplier. Dengan perubahan visi bisnis ini, ruang lingkup usaha perseroan akan lebih luas, mulai dari hulu hingga hilir. Kami tidak ingin hanya menjadi perusahaan manufaktur saja.

Produk garmen kan sangat beragam. Tidak mungkin satu perusa haan memproduksi semua jenis pakaian. Oleh karena itu, dengan konsep garment supplier, kami bisa mema sok garmen ke seluruh dunia untuk berbagai jenis pakaian, baik yang diproduksi oleh kami sendiri maupun oleh pabrik lain.

Apakah tidak khawatir timbul kesan bahwa perseroan berubah haluan dari sebelumnya sebagai produsen menjadi hanya pemasok?
Oh tidak. Para pelanggan kan sudah tahu bahwa sejak 1980 kami memang sudah berstatus sebagai manufacturer, yakni memproduksi pakaian. Justru dengan berstatus sebagai supplier, kami bisa lebih leluasa, tidak hanya membuat pakaian, tetapi juga membuat desain, serta menciptakan merek sendiri atau brand holder.

Situasi tersulit apa yang pernah dihadapi perseroan dan bagaimana mengatasinya?
Kami menghadapi beberapa kali masa sulit. Pertama, pada 1997 saat terjadi krisis multidimensi yang melanda Indonesia. Saat itu, perseroan menghadapi masalah kesulitan likuiditas, sementara bank tidak berani mengucurkan kredit. Untuk mengatasi masalah ini, kami terpaksa berjalan apa adanya.

Saat itu kami minta dukungan dari pelanggan dalam hal penyediaan bahan baku. Ketika itu, kami mendapat blessing in disguise, di mana kami menjual dengan dolar AS yang saat itu nilainya melambung. Akhirnya, kami justru bisa menambah likuiditas dan equity.

Pada 2004 pada saat kebijakan kuota tekstil berakhir, hal itu juga sempat menjadi masalah, namun bisa kami atasi dengan baik. Masalah selanjutnya adalah saat krisis global pada 2008, di mana Indonesia terkena imbas dari krisis tersebut.

Kali ini giliran pelanggan yang kesulitan likuiditas. Namun harus diingat, dalam mengatasi semua masalah ini semua keputusan bukan dilakukan oleh orang per orang, melainkan secara kolektif melalui tim manajemen.

Pernahkah Anda mengambil keputusan yang keliru yang kemudian Anda sesali?
Bagi saya, keputusan dianggap keliru jika lambat dalam eksekusinya, atau plintat-plintut. Bagi kami, fast decision is good decision. Keputusan harus diambil dengan cepat, namun tetap melalui perhitungan yang matang. Jika lambat dalam mengambil keputusan, bisa kehilangan momentum. Selain itu, dalam mengambil setiap keputusan, saya selalu memberi alternatif.

Pernahkah Anda mengambil keputusan yang sangat sulit dan dilematis?
Ya. Kejadiannya pada 2008 ketika perusahaan harus cut loss divisi woven yang berdampak pada terjadinya rasionalisasi karyawan. Inilah keputusan yang sangat dilematis. Di satu sisi kami harus mencegah kerugian yang semakin membengkak, tetapi di sisi lain tidak ingin muncul keresahan di lingkungan karyawan.

Akhirnya kami harus melakukan pendekatan kepada karyawan secara persuasif. Kami jelaskan kepada mereka situasi yang terjadi dan mereka memahami. Akhirnya, kami melakukan pengurangan karyawan dengan pesangon yang memadai. Akhirnya, semua happy.

Setelah itu, saya mundur dari Pan Brother untuk lebih konsentrasi sebagai Presdir Pancaprima. Kemudian pada 2009 saya diminta kembali masuk ke Pan Brother dan menjabat preskom, dan pada 2010 dipercaya menjadi wakil presdir.

Apa keputusan Anda yang dianggap paling monumental dan strategis?
Ya, perubahan visi bisnis tadi yaitu dari integrated worldwide manufacturer garment menjadi garment supplier. Ini adalah usulan dari saya. Saya bangga karena usulan saya ini diterima oleh pemegang saham dan dewan komisaris serta direksi.

Apa rencana aksi korporasi dalam 1-2 tahun mendatang?
Kami akan meningkatkan jumlah pelanggan. Kebetulan kami baru saja mengakuisisi Hollit, sebuah perusahaan sales agent yang memiliki jaringan luas di seluruh dunia. Melalui Hollit inilah kami akan mendapatkan buyerbuyer baru.

Apa pula rencana jangka panjangnya?
Untuk mencapai skala garment supplier, kami akan melanjutkan akuisisi perusahaan yang potensial di samping memperkuat sinergi antara Pan Brother dan Pancaprima. Selain itu, kami akan mendesain sendiri produk pakaian untuk kami tawarkan kepada pelanggan. Selama ini, desain sudah ditentukan sendiri oleh pelanggan.

Pada tahap selanjutnya kami akan membuat brand sendiri, di mana selama ini kami hanya menjahit pakaian dari brand-brand yang sudah ada seperti Adidas, Nike, The North Face, Hugo dan Marks & Spencer. Dengan memiliki brand sendiri, kami akan lebih leluasa dalam beraktivitas, termasuk menjual produk secara ritel.

Bagaimana Anda memersepsikan serta memperlakukan pelanggan dan pesaing?
Saya punya filosofi bahwa musuh adalah teman. You keep your friend close, you keep your enemy closer. Begitu pentingnya pesaing, sehingga posisinya lebih dekat dari teman sendiri. Kedekatan dengan pesaing ini penting untuk mengetahui budaya mereka, strategi mereka, dan kekuatan mereka. Bukankah untuk memenangi persaingan kita harus mengetahui kekuatan pesaing itu sendiri. Musuh yang paling nyata adalah diri kita sendiri.

Siapa orang di balik sukses Anda?
Karier saya tidak terlepas dari peran serta tiga orang yang saya nilai menjadi motivator dan sangat menginspirasi saya sehingga mampu mengangkat semangat juang saya. Orang yang pertama adalah paman saya Hardiman Cokrosaputro.

Dia adalah pendiri Batik Keris. Dia orangnya rajin, ulet dan selalu positif thinking. Yang kedua adalah ayah saya Andi Su tanto. Dia adalah pemilik dan pendiri PT Kayu Lapis Indonesia. Dari beliaulah saya mendapat pendidikan bagaimana menghargai orang lain dan bersikap rendah hati. Kita harus mensyukuri apa yang telah kita peroleh. Orang yang ketiga adalah Bambang Setijo, pemilik dan pendiri Pan Brother. Dari dia, `mutiara’ yang saya dapat adalah bagaimana bersikap toleran terhadap orang lain.

Bagaimana Anda menyeimbangkan pekerjaan dan keluarga?
Sebagai Presdir PT Pancaprima dan Wapresdir PT Pan Brother, boleh dibilang jam kerja saya adalah 24-7, yaitu 24 jam sehari dan 7 hari seminggu. Namun, dalam praktiknya, tentu harus ada waktu untuk keluarga. Waktu yang paling tepat adalah hari Minggu.

Sebagai penganut Katolik, saya memanfaatkan hari Minggu untuk ke gereja bersama suami dan anak-anak saya. Setelah itu, kami jalan ke mal atau sekadar makan siang bersama. Saya beruntung punya anak yang sangat pengertian terhadap profesi saya.

Siapa tokoh idola Anda?
Pendiri Ikea , perusahaan furnitur modern, dan pendiri perusahaan garmen Zara. Para pendiri kedua perusahaan berbeda bidang usaha ini memiliki ketekunan dan keuletan luar biasa dalam menjalankan usahanya. Mereka sangat humble. Meski sudah kaya, mereka masih mau makan bersama karyawannya.

Apa cita-cita Anda saat masih kanak-kanak?
Saya sebenarnya ingin menjadi scientist atau lawyer. Setelah lulus SMA, saya diterima di UI dan ITB. Namun, ayah saya ingin saya kuliah di Amerika Serikat. Saya ambil jurusan teknik kimia.

Baru beberapa semester, ayah saya kena stroke, dan saya kembali ke Indonesia menggantikan usaha ayah. Lalu saya percepat kuliah, dan selesai gelar S1 bisa diraih hanya dalam waktu 2,5 tahun. Akhirnya, karena sudah terbiasa menjalankan bisnis ayah, saya jadi senang berbisnis. Karena itu, program S2 saya ambil bisnis.

Adakah obsesi Anda yang belum tercapai?
Saya ingin membangun industri kayu lapis, mengikuti jejak ayah saya. Namun, saya tidak akan melanjutkan bisnis ayah. Industri kayu lapis ini akan saya bangun sendiri mulai dari nol. Industri tersebut merupakan industri yang ramah lingkungan.

Namun, andaikata obsesi tersebut akhirnya terwujud, saya tidak akan meninggalkan grup Pan Brothers sepanjang pemegang saham masih memercayai saya untuk menduduki jabatan ini. Jadi, saya akan menjalankan keduanya secara beriringan, yaitu sebagai profesional di grup Pan Brothers dan sebagai pemilik di perusahaan kayu lapis.

Bagaimana rencana setelah pensiun nanti?
Saya baru berpikir pensiun jika sudah merasa cukup memberikan kontribusi bagi negara. Kontribusi bagi negara tidak hanya bayar pajak, melainkan juga tenaga dan pikiran.
(bc)