Tahun Baru, Hidup Baru

Sangatlah tidak berarti hilangnya hal-hal seperti kekayaan dibanding dengan kehilangan kebijaksanaan. Sangatlah tidak berarti menimbun hal-hal seperti kekayaan dibanding dengan menimbun kebijaksanaan” Anguttara Nikaya I: 15

Tanpa terasa, tahun 2016 telah berganti ke tahun 2017. Dengan bertambahnya tahun, otomatis usia kita pun bertambah tua dan kesempatan hidup semakin berkurang.

Bertambahnya usia, hendaknya kebijaksanaan juga bertambah dan spiritual semakin matang atau dewasa. Orang yang hari ini, sama dengan yang kemarin adalah orang yang terkasihani atau pecundang.

Tetapi orang yang semakin baik dibandingkan dengan yang kemarin, itulah “the winner : pemenang”. Dalam hidup ini, yang kita cari dan dambakan, hanyalah satu yaitu kebahagiaan hidup.

Orang yang hidupnya bahagia, walaupun miskin harta duniawi, akan tetap bergairah, semangat dan tersenyum ramah kepada siapapun juga. Hidupnya, penuh arti dan bermanfaat bagi semua makhluk hidup.

“Pohon memberi naungan bagi yang lain, sementara dia sendiri ditimpa panas matahari. Buah yang dihasilkannya diperuntukkan bagi yang lain. Demikianlah orang baik adalah bagaikan pohon” Subhasitaratnakhosa 1229. Agar hidup ini senantiasa bahagia, ada tiga jenis kekotoran bathin yang harus disirnakan dari jalur kehidupan ini.

1. Dosa: Kebencian.
Orang yang dipenuhi dengan kebencian, hidupnya akn selalu dicengkram oleh ketakutan, kecemasan dan kefrustasian. Sulit mempercayai orang lain dan selalu curiga.

Ciri-ciri khasnya adalah senang melihat orang lain susah dan susah melihat orang lain senang. Jika merasa disakiti, kebenciannya tidak akan pernah terhapuskan walaupun telah balas dendam. Jantungnya akan selalu berdebar-debar dan sangat riskan diserang penyakit jantung.

Spiritualnya, juga hancur. Tiada cinta kasih dan welas asih dalam dirinya. Kapan dan dimanapun berada, dia lebih banyak dimusuhi daripada dijadikan teman.

Dengan bertambahnya usia, fisiknya akan berubah menjadi semakin jelek karena “aura” kebajikannya telah sirna. Segala jenis penyakit, akan semakin mudah menyerang dirinya dan masa kehidupannya akan semakin pendek dari yang semestinya.

Tetapi jika dia sadar dan selalu mengembangkan metta (cinta kasih universal), memiliki caga (kemurahan hati), suka melepaskan makhluk hidup, donor darah, dan lain sebagainya, maka kehidupannya akan semakin baik dengan bertambahnya waktu.

2. Lobha: Keserakahan.
Orang serakah, apapun yang telah berhasil diraihnya, tidak akan ada rasa puas. Dia sama ibaratnya dengan orang yang kehausan (dahaga) tetapi yang diminum adalah air laut yang asin. Semakin banyak yang diminum, maka akan semakin haus (dahaga) dirinya. Selain itu, juga kikir, egois dan banyak perhitungannya.

Orang tipe ini, akan hancur rezekinya. Hidupnya akan luntang lantung dan susah memenuhi kebutuhan sandang pangan alias melarat.

“Ya, kita dapat melihat hasil nyata dari kedermawanan. Pemberi, si dermawan akan dicintai dan disayangi oleh banyak orang. Inilah hasil yang nyata dari kedermawanan. Mereka yang bijaksana dan baik, meneladaninya. Inilah hasil yang nyata dari kedermawanan. Nama harumnya akan menyebar kemana – mana. Ini juga adalah hasil yang nyata dari kedermawanan. Juga, kemana pun dia bergabung, akan dihargai; diterima dengan rasa aman dan tanpa kesulitan oleh para Brahmana, para perumah tangga atau pun yang hidup menyepi. Inilah hasil yang nyata dari pemberian. Pada akhirnya, si pemberi, si dermawan, setelah kematiannya akan terlahir di alam surga. Inilah hasil nyata yang terlihat kemudian”. Anguttara Nikaya III: 38.

Satu-satunya cara untuk merubah / memperbaiki nasib (* Kemiskinan), adalah dengan selalu rajin dan suka berdana (* Memberi). Tanpa menanam, kita tidak akan pernah bisa memetik.

Demikian juga dengan perbuatan. Jika rajin dan suka berdana, maka esok atau lusa, kehidupannya (* Secara materi) akan segera berubah. Jangan sekali-kali menunda atas apapun yang bisa dikerjakan di hari ini. Karena esok, tidaklah pasti.

“Engkau hendaknya merenungkan para sahabat spiritual seperti ini : “Sebenarnya adalah keberuntungan bagi saya. Sebenarnyalah, sangat baik bagi saya memiliki sahabat-sahabat yang indah, penuh kasih sayang, senantiasa mengharap kesejahteraan bagi saya, senantiasa memberi dorongan dan mengajar saya” Anguttara Nikaya V: 336.

3. Moha: Kebodohan.
“Seseorang yang dicengkram oleh kebodohan, apapun perbuatan tercela, akan senang selalu senang diperbuat olehnya. Dia tidak takut akan hukum karma. Intinya, kehidupan nya akan sia-sia dan tidak berguna. “Mereka yang mengikuti jalan Dhamma, hendaknya tidak minum minuman keras Atau menyarankan seseorang untuk meminumnya, karena mengetahui akibat dari kemabukan.

Disebabkan mabuk, seorang yang bodoh berbuat sesuatu yang tercela. Dan juga menyebabkan orang lainnya tidak berhati-hati. Hindarilah akar dari tindakan salah ini, Kebodohan ini hanya disenangi mereka yang bodoh”. Sutta Nipata: 398 – 399.

“Sabbe satta bhavantu sukhitata : semoga semua makhuk hidup selasa berbahgia.

Sabbe satta sabba dukkha pamuccantu – sabbe bhavantu bhavantu sukhitata: semoga semua terbebaskan dari derita dan semoga semuanya senantiasa berbahagia, sadhu ,…sadhu,…sadhu.