Mengais Rejeki di Tumpukan Sampah

TPA 1 (2)(1) TPA 1 (3)(1) TPA 1 (4)(2) TPA 1 (5)(1) TPA 1 (6)(1)

TPA 1 (7)(1)
Di kawasan yang ter­letak di sebelah Utara Kota Medan, terdapat Tempat Pem­buangan Akhir (TPA) sampah Terjun dengan luas 14 Hektar. Berbagai macam sampah dari seluruh wilayah Kota Medan ditampung di kawasan ter­sebut. Tumpukan sampah tampah membukit di areal TPA tersebut.

Boleh jadi bagi sebagian besar warga, sampah meru­pakan limbah yang harus dibuang, akan tetapi bagi warga yang tinggal di seputaran TPA Terjun Medan Marelan, Pasar 5 Medan, sampah justru merupakan komoditi yang bisa didaur ulang untuk menafkahi keluarga.

Seperti yang ditemui Jurnal Asia siang itu, M.Rajaguguk (53) bersama istri dan seorang anaknya terlihat berjibaku dengan puluhan pemulung lain memungut beragam jenis sampah yang bisa dijual. “Sam­pah plastik, goni, kertas dan semua yang bisa jadi uang kami pungut,” katanya singkat sambil merapikan barang pungutannya, Jumat (18/3).

Dia mengaku, kondisi ekonomi keluarganya saat ini cukup berat. Karena harus menghidupi empat anak dan seorang istri. Apalagi anak tertuanya sudah duduk di bangku SMA dan tiga orang lagi di bangku SMP dan SD.

Tuntutan ekonomi serta biaya pendidikan anak mem­buat keluarga M.Mangiring rela bergumul dengan sampah. Dengan harapan keempat anak­nya mampu melanjutkan pen­didikan ke tingkat yang lebih tinggi.

Memulung adalah pilihan terakhir. Sebab, baginya tidak ada lagi usaha yang bisa dikerjakan. “Di tempat kerjaku yang lama, aku selalu berhubungan dengan mafia minyak. Makanya aku putus­kan untuk berhenti,” katanya sembari mengaku kalau dirinya baru tiga bulan menjalani pekerjaan sabagai seorang pemulung. “Kalau dihitung per satuan, sampah plastik basah bisa empat ratus perkilonya. Kalau kering dan bersih bisa dua ribuan perkilo,” jelas M.Mangiring.

Istri M. Rajagukguk, Ida (48) mengaku mereka harus berebut saat eskavator me­ngeruk sampah yang baru diturunkan dari truk. “Kalau tidak berebut ya tidak dapat sampah yang bisa dijual dan menghasilkan uang,” ucapnya seraya menambahkan dengan menahan Bau busuk men­yengat dirinya tak pernah mengeluh atau merasa hina dengan pekerjaan sebagai seorang pemulung. (Hery)