Kidung Malam Parangkusuma

Oleh : Irul S Budianto

Untuk kesekian kalinya Puguh mendatangi pantai Parangkusuma. Kali ini bukan untuk menikmati deburan ombak laut selatan atau suasana alam yang begitu indah. Tujuannya tiada lain hendak liputan sebuah ritual yang katanya digelar di tempat itu. Tapi setelah sampai di pantai yang sering dikunjungi itu keadaannya sepi. Tak ada tanda-tanda sebuah ritual digelar di sana.

Puguh menyeka keringat di wajahnya. Kamera yang sejak tadi tak lepas dari tangannya lalu dimasukkan ke dalam tas. Sejenak kemudian matanya memandang hamparan laut selatan dengan ombak yang bergulung-gulung. Sebuah pemandangan yang begitu menakjubkan.

Puas menikmati suasana pantai selatan yang tak pernah membosankan meski sering dikunjungi, Puguh lalu mengangkat kakinya menuju perkampungan penduduk di dekatnya. Siapa tahu bisa mendapatkan informasi tentang ritual yang sekarang diburunya.

Tapi hasilnya nihil. Tak ada satu pun warga yang tahu tentang ritual itu. Dengan agak kecewa dan yakin tak ada ritual sebagaimana yang diperintahkan Pemimpin Redaksinya, Puguh pun memutuskan untuk kembali ke terminal Yogya dan kemudian berganti bus melanjutkan perjalanan ke Solo.

“Mas Puguh nanti malam datang ya di Parangkusuma. Padepokan Sekar Jagad menggelar acara labuhan lagi.”

Pesan lewat whatsapp dari Jeng Rahayu itu ditatap lekat-lekat. Pikirannya diputar. Daripada pulang ke Solo tak membawa hasil, acara labuhan malam nanti bisa jadi gantinya berita. Pun diakui Puguh, kedekatannya dengan Jeng Rahayu selama ini membuatnya terasa berat jika sampai menolak undangan itu.

Sembari menunggu acara labuhan yang baru akan dimulai malam nanti sekaligus beristirahat setelah menempuh perjalanan Solo-Yogya, Puguh akhirnya mencari sebuah losmen yang banyak bertebaran di sekitar pantai Parangkusuma.

Begitu masuk kamar tubuhnya lalu dilemparkan ke atas tempat tidur. Keinginannya cuma satu, ingin tidur meski hanya sebentar. Tapi ketika matanya dicoba dipejamkan tetap tak bisa tidur. Dan entah mengapa pikirannya justru teringat pada sebuah peristiwa yang terjadi di pantai Parangkusuma, satu tahun lalu.

***

Kedatangannya ke pantai Parangkusuma tiada lain untuk memenuhi undangan dari Jeng Rahayu yang akan menggelar acara labuhan. Sembari menunggu acara dimulai Puguh menyempatkan berjalan-jalan untuk menikmati suasana malam di pantai yang melegenda itu.

Tapi belum jauh langkahnya menyusuri pantai tiba-tiba terdengar sebuah tembang Jawa yang sedang dilantunkan seseorang. Penasaran dengan tembang itu Puguh pun mencoba mencari asal suara. Dari keremangan malam matanya tertancap pada sosok wanita dengan anak kecil yang sedang duduk di pantai.

“Apa kamu yang nembang tadi?”

“Ya, daripada sepi.”

“Suaramu bagus dan enak didengar.”

“Bagus apanya, asal nembang saja.”

Puguh diam sejenak. Matanya kemudian memandang ombak laut selatan yang malam itu terlihat begitu indah terkena sinar bulan. “Siapa nama Mbak dan mengapa malam-malam begini duduk di pantai sambil nembang?”

“Namaku Murni. Aku memang sering ke pantai ini. Di sini aku bisa leluasa memandang luasnya langit dan lautan yang tanpa batas. Entah mengapa, memandang alam bebas di malam hari dan keadaannya sepi hatiku menjadi tenang dan tenteram. Berbeda sekali dengan keseharian yang harus dihadapkan dengan tetek bengek pekerjaan dan permasalahan,” wanita itu diam sesaat, tangannya membetulkan jaket yang dikenakan anak kecil di dekatnya.

Bisa jadi apa yang dilakukan itu agar anak kecil itu tak kedinginan terkena angin malam yang cukup kencang.

“Aku nembang karena aku amat suka dengan tembang itu. Kamu tahu tembang itu?”

“Itu tembang Jawa klasik. Tembang itu konon katanya berbeda dengan tembang lainnya. Tapi sayangnya tembang itu sekarang sudah jarang terdengar lagi.”

“Aku maklum jika orang sekarang tak tahu lagi tentang tembang itu. Zamannya memang sudah berbeda. Dan bagiku tembang itu bukan sekadar tembang biasa, sebab di dalam tembang itu terdapat kekuatan yang cukup besar.”

Mendengar perkataan seperti itu Puguh lalu diam. Di dalam hatinya bertanya-tanya sendiri siapa sebenarnya wanita yang sekarang ada di dekatnya itu.

“Sebenarnya tembang itu tak sekadar sebagai pengisi waktu luang, tapi di dalam tembang itu terkandung sebuah permohonan yang luhur.”

“Maksudnya?”

“Makna dari tembang itu sejatinya wujud permohonan kepada Tuhan. Entah itu tentang keselamatan, kesehatan, kebahagiaan dan lainnya sekaligus dijauhkan dari segala mara bahaya.”

Puguh kembali diam. Matanya kini tertuju pada hamparan langit yang malam itu dihiasi bulan yang tak sempurna. “Lalu anak kecil ini siapa?”

“Ini anakku. Anakku satu-satunya.”

“Mengapa malam-malam begini diajak ke tempat seperti ini?”

Wanita itu tak lekas menjawab. Pandangannya kini tertuju pada laut selatan dengan deburan ombaknya yang begitu keras. “Sejak kecil anakku sudah kuajari dekat dengan alam. Sebab alam tak pernah bohong dan mengajari siapa saja agar berbuat baik dan benar. Dari alam pula siapa saja bisa belajar kebijaksanaan, keteguhan dan lainnya.”

Mulut Puguh kini seakan terkunci dan tak bisa berkata-kata lagi begitu mendengar penuturan wanita itu. Perkataan yang menyiratkan makna kehidupan yang begitu dalam.

“Aku selalu punya keinginan agar anakku nanti mengerti dan mau menjaga warisan para leluhur. Pun mau dekat dan belajar pada alam. Alam tak pernah bohong, alam yang memberi kekuatan, alam yang harus diajak bersahabat bukan sebaliknya sering disalahkan.”

Puguh masih diam membisu. Perkataan wanita itu lagi-lagi dirasakan penuh filosofi dan makna kehidupan yang begitu luas. Seperti luasnya lautan dan langit. Meski Puguh ingin tahu lebih banyak lagi tentang siapa wanita itu, tapi karena harus melakukan liputan terpaksa meninggalkan tempat itu.

Dan belum sampai langkahnya genap tujuh langkah, telinganya kembali mendengar tembang itu dilantunkan lagi.

***

Waktu berjalan pelan tapi pasti. Puguh pun sudah meninggalkan losmen dan berjalan menuju tempat acara labuhan. Dan entah mengapa, bayangan wanita yang nembang di pantai Parangkusuma satu tahun lalu masih menghiasi kepalanya.

“Nanti setelah selesai acara mampir dulu di padepokan. Ada berita menarik,” ucap Jeng Rahayu di sela-sela acara labuhan yang digelar.

Puguh tak bisa mengelak dari ajakan itu. Dan tepat jam dua belas malam acara labuhan telah selesai. Tanpa menunggu rombongan lainnya Puguh dan Jeng Rahayu bergegas kembali ke padepokan. Kira-kira setengah jam perjalanan mobil yang ditumpangi sudah masuk halaman padepokan.

“Ada berita menarik dan sekiranya bisa kauangkat.”

“Apa itu?”

“Aku punya anak buah seorang wanita dengan anak kecilnya. Ibu dan anak itu dua tahun lalu datang ke sini hanya ingin numpang hidup dan mencari secercah harapan. Tentu saja aku tak bisa menolak permintaannya.”

“Bagaimana ceritanya?”

Jeng Rahayu diam sejenak, tangannya mengambil segelas kopi di meja depannya. Diminum sedikit dan kemudian diletakkan ke tempat semula. “Wanita itu dulu adalah kembang desa yang polos di daerah sini.

Entah apa sebabnya tahu-tahu ia mau dijadikan isteri seorang dalang yang terkenal suka berganti-ganti pasangan. Singkatnya, setelah punya anak ia lalu ditelantarkan begitu saja oleh dalang yang tak tahu diri itu.”

Puguh seakan menikmati cerita itu.

“Wanita yang bernama Murni itu kesukaannya nembang dan suaranya bagus, enak didengar. Tapi yang membuatku tak habis pikir ia selalu memilih tembang Jawa yang itu-itu saja. Yang mengherankan lagi, kalau kuajak ke pantai Parangkusuma atau pantai lainnya Murni selalu mencari waktu untuk melantunkan tembang itu sambil menghadap lautan.”

Puguh seketika tersentak kaget begitu mendengar nama wanita itu. Ia tak mengira jika wanita yang selalu nembang dan ditemui di pantai Parangkusuma satu tahun yang lalu itu ternyata Murni yang sekarang diceritakan Jeng Rahayu.

Oh, hati Puguh mendadak terasa seperti tersayat-sayat. Tak menduga sama sekali jika wanita itu menanggung beban hidup yang amat berat. Mengalami peristiwa pahit yang tak semua wanita mampu melakoninya.

Malam terus merambat dan dingin semakin menggigit kulit. Puguh hanya bisa mendesah sendiri. Sepertinya kidung malam Parangkusuma sulit dilepaskan dari kepalanya.