Julia Gouw | Bankir Sukses yang Filantropis

Julia Gouw lahir 1959 dibesarkan di Surabaya, Indonesia, lalu menamatkan studi akuntansi di Universitas Illinois di Urbana-Champaign pada 1978 dan menjadi Certified Public Accountant. Karirnya melesat cepat hinggi kini menjadi bankir dengan jabatan prestisius—President dan Chief Operating Officer East West Bank dan didapuk pemerintah Amerika untuk menguatkan kerja sama di bidang ekspor.

East West Bank adalah satu dari 30 bank terbesar di Amerika yang berkantor pusat di California. Dengan visi dan misinya yang unik, menjadi jembatan finansial antara Amerika dan China, bank ini terus tumbuh membesar secara fantastis. Versi Forbes, dalam lima tahun berturut-turut East West Bank berada di ‘Top 15’ dari 100 Bank Terbaik di Amerika.

Catatan yang sangat menarik, di bawah kepemimpinan seorang Julia Gouw, East West Bank berhasil bertengger selama 11 tahun berturut-turut dengan pencapaian pendapatan yang terus meningkat. Pada awal bergabung pada 1989, perusahaan perbankan ini masih sangat kecil. Asetnya 400 juta dolar, tapi kini 26 tahun berselang telah berlipat ganda menjadi 30 miliar dollar. Sungguh sangat impresif.

Selaras dengan itu, track record Julia di komunitas perbankan dan investasi juga sangat menonjol. Ia lima kali masuk dalam kategori “25 Most Powerful Women in Banking” pilihan majalah American Banker. Los Angeles Business Journal’s juga dua kali memberikan penghargaan untuk Gouw sebagai Women Making a Difference dan juga L.A.’s Top Women in Finance.
Nasihat Sang Mentor

Mulai bergabung di East West Bank pada 1989 sebagai seorang Controller, dan 4 tahun kemudian dipromosikan menjadi Executive Vice President and Chief Financial Officer selama 14 tahun, hingga sampai di posisi sekarang selaku President, Chief Operating Officer sekaligus anggota Dewan Direksi di East West Bancorp, Inc. Menapaki jenjang karir tersebut tentu bukan proses yang mudah.

“Lulus SMA di Surabaya, saya datang di Illinois pada Januari yang amat sangat dingin untuk kuliah. Saya bilang pada diri saya, saya tidak mau tinggal di mid-west. Jadi, begitu lulus, pindah ke Los Angeles, California sampai sekarang,” ujar Gouw.

Pertama bekerja di perusahaan minyak Texaco sebagai akuntan. Di situlah ia bersyukur bekerja di bawah mentor yang baik, Paul Archer, yang mewarnai karirnya kemudian. “Beruntung sekali, saya men­dapat mentor yang begitu dan memotivasi saya untuk maju. Katanya, karir seorang akuntan akan cepat melesat bila bekerja di kantor akuntan. Berkat ban­tuan­nya pula, saya dapat bekerja di KPMG LLP, sebuah firma akuntan internasional.”

Di KPMG ia banyak ditempa bersama partnernya, Norma Lawrence, dengan pekerjaan mengaudit sejumlah perusahaan berbeda. “Saya tidak hanya mempelajari peraturan akunting, tetapi juga dilatih untuk meningkatkan kapasitas diri saya tentang seluk beluk bisnis, bagaimana menjalankannya untuk dapat lebih menguntungkan, memperbaiki efisiensi dan meningkatkan revenue.”
Pada 1989, East West Bank, salah satu klien KPMG tengah men­cari seorang Controller, dan Gouw memutuskan untuk ber­gabung. Keputusannya itu tak lain termotivasi oleh nasihat sang Mentor untuk memasang cita-cita tinggi dan gigih mengejarnya de­ngan mengukir prestasi gemilang.

Sekali lagi, jalan itu tidaklah mu­dah, terutama bagi Julia Gouw. “Ya, dan sekaligus saya merasa sangat beruntung. Saya suka ber­pikir ada 3 minoritas di diri saya, yaitu saya seorang imigran, orang Asia dan perempuan, plus pendek. Tapi, saya percaya California adalah negeri yang mem­beri banyak kesempatan. Yang pasti, selama perjalanan karir saya, saya berterima kasih pada mentor saya, sehingga saya mendapatkan pelatihan dan peluang untuk mengembangkan karir,” lanjut Julia, penuh syukur.

“Pada 1989 saya bergabung di East West Bank di mana pendapatan nettonya 1 juta dollar per tahun, dan catatan tahun lalu telah mencapai 245 miliar dollar. Dengan pendapatan sebesar itu, East West Bank menjadi bank terbesar yang berkantor pusat di California Selatan.”

Kini East West Bank memiliki 130 kantor cabang di Amerika Serikat, sekitar 100 Kantor Ca­bang di Southern dan Northern Cali­fornia, lalu New York, Boston, Seattle, Houston, Dallas, Atlanta dan Las Vegas.

“Target kami adalah menarik minat non-asia menjadi nasabah, karena sejauh ini konsumen kami mayoritas orang Asia. Secara bisnis, kami ingin menjadi jembatan ekonomi bagi pengusaha dan individual di China-Amerika. Untuk itu kami diperkuat oleh para ahli di bidang industri, teknologi, ekonomi yang mampu memberi masukan dalam hal bisnis. Kami menyebutnya, accross border business strategy.”

Jumlah karyawan East West Bank kini sebanyak 2.700 orang, telah berlipat dibanding ketika Gouw bergabung di mana jumlah pegawainya kurang dari 200 orang. Ia gembira sekali, karena banyak SDM yang bekerja dan ikut berkembang dalam bisnis perbankan bersama East West Bank. Kunci Sukses Sebagai Presiden dan COO East West Bank, apa kelebihan Julia Gouw sebagai bankir? Barangkali, ujar Julia, adalah selalu melakukan trading value, baik kepada perusahaan, pemegang saham dan para mitra.

“Kami adalah sebuah tim besar dan membutuhkan banyak orang untuk menjaga keberlanjutan dari bisnis ini agar dapat terus menguntungkan. Kuncinya adalah me­ngerti bisnis perbankan, mema­hami value proposition, manfaat apa yang bisa diberikan kepada nasabah. Sebagai seorang bankir, kita harus rajin dalam me­ngelola risiko, karena jenis usaha ini me­mang berisiko tinggi. Tapi ba­gaimanapun, kita harus siap menghadapi risiko itu, dengan rajin dalam bekerja,” jelas Gouw.

Gouw melihat pentingnya bagi seluruh sumber daya manusia (SDM) dalam perusahaan me­mahami kekuatan dan ke­lemahan diri masing-masing. Tekun mencari cara melipatgandakan kekuatan atau kelebihan itu, sebaliknya me­minimalisir kelemahan yang ada. Dalam berkarir harus terus termotivasi dan memasang target yang lebih tinggi lagi.

“Ada sementara orang takut memiliki cita-cita yang tinggi, karena takut gagal. Padahal tidak perlu takut, karena dengan mencoba, ia akan mengoptimalkan diri melakukan yang terbaik, se­hingga hasil yang dicapainya pasti lebih baik dibandingkan ia tidak memasang target yang tinggi.

Di samping itu, tetap fokus dalam meraih target dengan melakukan yang terbaik. Tetapi bila belum berhasil, jangan terlalu menekan diri. Stop cemas dan meratapi kegagalan, sebaliknya tetap fokus mengulik cara lain untuk mengejar cita-cita itu. Bisa jadi belum berhasil karena strategi yang diterapkan belum tepat. Jadi, penting bersikap fleksibel.

Seorang Filantropis
Duduk di pucuk pimpinan, Julia tentu memiliki tanggung jawab yang sangat besar. Waktu 24 jam bisa jadi serasa kurang untuk bekerja. Diminta untuk berbagi tentang aktivitas kerjanya keseharian dalam hitungan jam, Gouw tak urung tergelak.

“Wah, secara keseluruhan sulit ya mengatakan waktu kerja saya dalam jam. Karena saya dituntut selalu siap bekerja dan memang selalu ada saja yang harus dikerjakan. Di samping menjalankan tugas kepemimpinan, yakni memastikan segala sesuatunya berjalan lancar di perusahaan, mengelola seluruh divisi dan melakukan kolaborasi agar semua berjalan menuju target yang sama, saya juga harus menghadiri acara, undangan atau seminar.”

Hebatnya lagi, di samping sibuk berkutat dengan masalah pekerjaan, Gouw masih sempat peduli terhadap pendidikan dan masalah isu lingkungan, tepatnya dalam hal kegiatan konservasi alam. “Saya adalah orang yang pro business dan pro growth. Akan tetapi saya juga merasa apa yang kita lakukan harus memiliki keseimbangan. Walaupun saya orang yang pro business dan senang melihat perumbuhan perusahaan akan tetapi saya juga mengelola bisnis tersebut sedemikian rupa untuk turut serta menjaga kelsetarian lingkungna hidup, supaya kita dapat di lingkungan yang baik.”

Untuk itulah dalam beberapa tahun ini ia turut berkontribusi melalui sebuah lembaga organisasi nirlaba Amerika Serikat yang bernama The Nature Conservancy (TNC). Lembaga ini mempunyai program khusus untuk Indonesia.

“Banyak illmuwan tergabung dalam organisasi TNC. TNC memiliki program-program dalam pelestarian lingkungan hidup, di antaranya membantu nelayan kecil di Indonesia. Mereka diberikan penyuluhan tentang cara menangkap ikan dengan baik dan benar. Stop memakai bom ikan, dan juga memberi bimbingan teknologi yang benar. Diharapkan, pada akhirnya perekonomian para nelayan tersebut dapat terus berkembang,” urai Gouw lagi.

Bidang pendidikan juga menjadi perhatian besar bagi Gouw. Menurut tokoh Philanthropist of the Year dari National Association of Women Business Owners di Los Angeles ini, pendidikan memiliki kekuatan dahsyat dalam memperbaiki kualitas hidup manusia.

Gouw juga peduli pada kesehatan perempuan, dan namanya tercatat sebagai anggota Board of Overseers for the UCLA Health System. Ia juga pendiri Chair of the Executive Women’s Advisory Board untuk the Iris Cantor-UCLA Women’s Health Center, selain aktif di kegiatan pemberdayaan perempuan sesuai kiprahnya sebagai anggota Dewan Trusteeship, organisasi yang berafiliasi dengan International Women’s Forum.

“Kami sangat kagum pada Julia Gouw, pemimpin bank internasional dengan latar belakang global, tapi berkenan memberi kontribusi kepada UCLA Indonesian Studies Program. Seperti kami semua di UCLA International Institute, ia sangat peduli terhadap siswa-siswi yang ingin belajar isu internasional dan kelak menjadi warga global. Kami senang bermitra dengan Julia Gouw dalam memperluas dan mendalami riset dan pendidikan mengenai Indonesia,” ujar C. Cindy Fan, Ph.D, Vice Provost for International Studies and Global Engagement dan Professor of Geography, UCLA.

Sebagai filantropis, Gouw belum lama bergabung di dalam UCLA Foundation’s Philanthropy Committee, mempromosikan semangat filantropi dalam pengembangan sekolah dan program pendidikan di UCLA. Sebuah prestasi lain diukir Gouw. Belum lama ia didapuk oleh Secretary of Commerce America menjadi anggota District Export Council untuk mendukung pemerintah dalam meningkatkan kegiatan industri dan ekspansi ekspor.

Dengan prestasi demikian bagus, Julia Gouw tetap seorang rendah hati. Semua itu didukung oleh motto hidup yang dipegangnya terus, yakni tetap positif, berperilaku baik kepada sesama, hidup sehat dan selalu bahagia. Saat Musim Semi, ia selalu sempatkan diri menikmati pertunjukan seni para seniman di taman dan alun-alun. (knc)