Heboh Ancaman Bom Tiga Gereja di Sumut Polisi Pastikan Hoax

Medan | Jurnal Asia
Polrestabes Medan memastikan isu adanya ancaman bom di tiga gereja yang berada di Sumatera Utara (Sumut) merupakan kabar tidak benar alias bohong.
Hal ini disampaikan Kasat Reskrim Polrestabes Medan AKBP Putu Yudha Prawira kepada wartawan, Selasa (15/5) malam.
“Setelah kita cek dan selidiki ternyata informasi hoax,” ungkapnya ketika dihubungi wartawan melalui selular.
Oleh karenanya, ia mengimbau masyarakat agar tetap menjaga kekondusifan Sumut, dengan tidak memperkeruh suasana, dengan terpancing isu yang belum dapat dipertanggung jawabkan di media sosial (medsos).
“Masyarakat diharapkan tidak mudah percaya dengan informasi di Medsos, kita terus berupaya maksimal untuk menjaga kota Medan tetap aman dan kondusif,” pungkasnya.
Informasi diperoleh wartawan, kabar ini merebak setelah akun media sosial bernama “Cintaiaq Apa Adanya” menebar ancaman teror bom.
Dalam akun media sosialnya itu sang pemilik akun memposting “Daftar gereja mau saya bom Pentakosta Tembung, Katolik St. Maria Marelan dan HKBP Tarutung”.
Namun, setelah sang pemilik akun memposting ancaman itu, tak lama kemudian postingan langsung dihapus.
Atas ancaman lewat media sosial itu, pendeta P Nainggolan dari gereja Pentakosta Indonesia Jalan Medan-Batangkuis, Lorong Kapuk, Kecamatan Percut Seituan membuat laporan ke Polrestabes Medan dengan nomor STPL/966/V/ 2018/ Restabes Medan.
Diketahui, sejak Senin (14/5) kemarin, Polrestabes Medan dan Polsek sejajaran siaga satu terkait dengan aksi teror bom yang terjadi di Surabaya.
Dalam pelaksanaan siaga satu, polisi memperketat penjagaan keluar masuknya orang ke markas kepolisian. Selain itu, personel bersenjata laras panjang yang berjaga di pos penjagaan juga diperbanyak. Kendati melakukan penjagaan ketat, pelayanan di Polrestabes Medan tetap berjalan lancar.
“Ya saat ini mungkin rekan rekan sudah mengetahui adanya beberapa serangan insiden insiden bom di wilayah Surabaya terutama, dan kami diperintahkan bapak Kapolri untuk melaksanakan siaga satu namun siaga satu ini tetap kita memberikan pelayanan tetap humanis kepada masyarakat,” jelas Wakapolrestabes Medan AKBP Bagus Suropratomo, Senin kemarin.
Pria dengan dua melati emas dipundaknya, menjelaskan siaga satu ini tidak berarti membuat situasi mencekam. “Bukan berarti membuat situasi mencekam, kita berwaspada karena bagaimanapun ancaman itu harus kita respon dengan bijak dengan terukur sesuai dengan aturan perundang-undangan yang berlaku,” katanya.
Ia mengimbau kepada masyarakat agar tetap waspada, namun tetap melaksanakan kegiatan rutinitas seperti biasa.
“Imbauan kepada masyarakat Kota Medan, kita harus tetap waspada, kita harus tetap melawan apa yang dinamakan teroris tersebut, teroris ini sesuatu yang menggangu keamanan mengancam jiwa masyarakat, dan ini tidak bisa dikerjakan sendiri oleh aparat saja, semua warga masyarakat harus bersatu me­­­la­­­­­w­a­n teror,” pung­kasnya. (bowo/rol)