Catur dan Halma

Rasanya sulit menemui orang yang masa kecilnya tidak diwarnai dengan dua jenis permainan ini. Halma, permainan dengan bidak-bidak berwarna biasanya diajarkan pertama kali kepada anak-anak dengan tujuan mengenal warna dan pelajaran strategi awal dalam board game.

Berbeda dengannya, catur merupakan tingkat lanjutan yang dimainkan di atas tikar kampung pos ronda sampai dengan kejuaraan internasional. Walaupun sama-sama masuk dalam kategori board game yang bisa dimainkan saat senggang, catur dan halma memiliki perbedaan orientasi yang secara filosofis sangat dalam.

Halma memiliki orientasi similarities, dimana semua bidak dianggap sama. Berwarna sama, bentuknya sama, bahkan langkahnya pun sama. Sangat berbeda dengan catur yang bidak-bidaknya memiliki keunikan masing-masing. Pion dengan jalan lurus satu-satu, menteri menyerong, dan kuda dengan langkah letter “L”-nya.

Sebagai seorang pemimpin tim pemasaran, seseorang dapat memiliki orientasi catur atau halma. Pemimpin tim pemasaran yang berorientasi halma akan melihat seluruh anggota tim sebagai pribadi yang sama. Memiliki keinginan yang sama, kemampuan yang sama, sifat yang sama, dan ujungnya harus mencapai target dengan cara yang sama. Lebih spesifik lagi, kecenderungan pemimpin tim seperti ini menuntut semua anggota untuk berperilaku seperti dirinya. Aku sukses dengan cara ini, maka ikutilah caraku. Demikian prinsip dasar pemimpin berorientasi halma.

Lain halnya dengan pemimpin yang melihat pengelolaan tim seperti permainan catur. Ia bisa membuka mata tentang perbedaan bahan dasar anggota timnya. Ada anggota tim yang pemalu, namun kuat dalam hal analisis data; ada pula anggota tim yang penampilannya menarik, namun kurang dalam membangun hubungan jangka panjang. Ada anggota tim tipe penggedor, dan ada pula yang tipe pemelihara. Semua perbedaan ini diterima dan diselaraskan untuk mendapatkan hasil tim yang terbaik.

Dengan orientasi ini, anggota tim diapresiasi kekuatannya tanpa menutup mata akan kelemahannya. Hal ini didukung oleh Buckingham dan Clifton (2007) yang percaya bahwa pengembangan seseorang dan pencapaian tertingginya hanya dapat diraih dengan cara memanfaatkan kekuatannya. Kekuatan ini muncul dengan cara yang “genuine” atau asli.

Dorongan kuat seseorang untuk menyelesaikan masalah dengan cara tertentu yang membawa perasaan berdaya. Orang yang memiliki kekuatan komunikasi cenderung untuk menyelesaikan masalah dengan berdialog, negosiasi, dan merangkul semua pihak yang berkepentingan. Lain halnya dengan yang memiliki kekuatan fokus pada detail, mereka akan mencari data dan menganalisis secara cermat untuk menimbang segala risiko yang mungkin terjadi.

Persis seperti seorang komandan pasukan khusus yang diterjunkan untuk sebuah misi penyerangan, komandan tim pemasaran perlu strategi yang tepat untuk menentukan bauran kekuatan yang perlu ada dalam tim. Ahli komunikasi radio, sniper penembak jitu, dan berapa penyerbu yang dibutuhkan. Tim yang baik adalah tim yang lengkap sehingga membuat sebuah puzzle tertata utuh. Kelemahan dari masing-masing anggota tim adalah sisi puzzle yang harus dicari pasangannya.

Inilah area di mana kerja sama dibutuhkan. Penyelarasan antara tugas dan target yang dibebankan kepada tim dengan kekuatan yang dibutuhkan kemudian dibandingkan dengan bauran kekuatan yang sekarang ada. Kesenjangan antara kemampuan yang dibutuhkan dan kekuatan yang saat ini tersedia nantinya menjadi prioritas untuk perekrutan anggota tim yang baru.

Tentu untuk membangun keterampilan seperti ini, seorang pemimpin tim pemasaran perlu memiliki penglihatan yang tajam akan kekuatan seseorang. Penglihatan yang tajam ini hanya dapat dilatih ketika mindset yang digunakan adalah mindset catur. Bukan sekadar tahu dan paham, namun lebih penting, percaya.(mci)