Solidaritas Bangsa

Senin (28/10) kemarin, bangsa Indonesia tengah memeringati momentum penting dalam sejarah: peringatan lahirnya Sumpah Pemuda 1928. Sejarah mencatat, kita adalah bangsa yang mendirikan dan membangun negeri dengan semangat kebersamaan yang tinggi. Semangat kebersamaan inilah yang memodali para pejuang dalam merintis kemerdekaan hingga mencapai tujuannya. Pergerakan Boedi Utomo dan pergerakan serupa yang kemudian menelurkan deklarasi “Sumpah Pemuda 1928” merupakan salah satu bukti nyata perjuangan yang dibangun di atas pondasi kebersamaan sebagai bangsa.
Kesetiakawanan sosial kemudian tumbuh secara nasional, hingga ke seluruh pelosok tanah air, dan mewujud dalam berbagai gerakan sosial yang ditandai dengan bangkitnya kepedulian rakyat secara serentak untuk bahu membahu mendorong percepatan kemerdekaan dari cengkeraman penjajahan.
Berkat semangat solidaritas bangsa melalui jiwa Sumpah Pemuda yang berikrar untuk satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa: Indonesia itu, kini kita menjadi bangsa besar yang berdaulat sejajar dengan negara-negara lainnya di dunia. Sebagai bangsa besar, kita dibentuk oleh beragam-ragam suku bangsa yang bersatu. Meski kemerdekaan bangsa telah tercapai, namun semangat solidaritas bangsa masih dibutuhkan dalam kerangka mempertahankan negara kesatuan Republik Indonesia.
Apa jadinya sebuah negeri besar dengan lebih 200 juta penduduk dan memiliki sumber daya alam yang kaya raya, tanpa kebersamaan warganya. Satu sama lain tidak peduli, hanya fokus pada kepentingan diri sendiri, tidak menyisakan hati untuk melihat penderitaan orang lain dan tidak pernah punya memiliki rasa kebersamaan sebagai sebuah bangsa. Apa jadinya, sebagai bangsa setiap saat warganya gontok-gontokan dan tidak pernah memiliki sifat toleran pada sesamanya?
Bila seperti itu kondisinya, sebuah negeri pasti tidak nyaman didiami karena setiap saat menebar keresahan. Pasti tidak nyaman karena warganya acuh, tidak ramah, individualistis dan tidak peduli sesama. Untungnya kita—bangsa Indonesia—bukanlah bangsa yang berdiam di sebuah negeri dengan karakter masyarakat yang a-sosial seperti itu. Kita adalah bangsa yang toleran, ramah, peduli dan menjunjung tinggi kesetiakawanan, persatuan dan kesatuan.
Sebenarnya, banyak warisan budaya dalam tatanan kehidupan masyarakat yang menjelaskan, kita adalah bangsa besar dengan kepribadian yang menjunjung nilai-nilai luhur warisan nenek moyang itu. Simaklah berbagai acara tradisi yang masih berlaku dalam masyarakat kita. Sebagai bangsa multi etnik, kita memiliki banyak upacara adat dan tradisi masyarakat dalam banyak hal, mulai adat perkawinan, tradisi ungkapan rasa syukur, tradisi menghadapi kemalangan dan tradisi menghadapi masalah dalam kehidupan masyarakat.
Karakter bangsa yang ramah dan menjunjung tinggi semangat kesetiakawanan sosial yang mewujud ke dalam beragam tradisi pada kehidupan sehari-hari, merupakan modal membangun bangsa. Kesetiakawanan sosial dengan nilai-nilai kebersamaan dalam kehidupan bermasyarat merupakan modal spiritual untuk membangun bangsa besar dan kuat menghadapi tantangan.
Semangat kesetiakawanan sosial yang menjadi karakter bangsa kita merupakan modal yang tidak bisa dinilai dengan uang dalam rangka mengatasi berbagai kesulitan bangsa. Bayangkan bila semua beban musibah itu diserahkan ke pundak pemerintah tanpa solidaritas masyarakat kita. Menelaah fakta sejarah dan merenungkan berbagai peristiwa—bencana alam–yang menimpa negeri kita, tampak bahwa rasa kesetiakawanan sosial itu merupakan sistem amunisi dan persenjataan sosial menghadapi tantangan bangsa. Solidaritas sebagai bangsa yang bersatu merupakan modal spiritual yang telah terbukti sangat andal dalam rangka menghadapi berbagai kesulitan.*