Mengurangi Risiko Bencana Alam

Keistimewaan posisi geografis dan keindahan alam Indonesia merupakan anugerah. Kita memiliki banyak alam pegunungan yang menjadi tujuan wisata dan pusat kegiatan ekonomi masyarakat.

Di sisi lain, kontur tanah yang gembur merupakan lahan subur pertanian. Para petani banyak yang membuka lahan pertanian dari lembah hingga punggung bukit.

Namun di balik keindahan gunung dan lembah, tersembunyi ancaman bencana tidak terduga. Ancaman tersebut antara lain, erupsi gunung merapi, tanah longsor dan banjir bandang di cekungan lembah akibat air yang melimpah dari pegunungan.

Bencana juga mengintai akibat eksplorasi alam melampaui batas ketentuan tanpa mengindahkan etika memperlakukan lingkungan.

Sayangnya pemanfaatan ekonomi alam pegunungan tidak diimbangi dengan upaya pelestarian. Akibatnya terjadi pembabatan hutan yang membabi buta, menebang pohon penyangga erosi dan menggantikannya dengan komoditas tanaman hotikultura.

Tidak ada yang salah dengan pemanfaatan sumber daya alam untuk ekonomi, asalkan disertai dengan pengetahuan lingkungan dan mentaati aturan. Bila ketentuan itu diabaikan, akibatnya bisa ditebak. Struktur tanah perbukitan yang gembur dan subur berisiko longsor dan banjir bila musim hujan.

Sudah berkali-kali longsor dan banjir bandang melanda negeri kita, bahkan dalam beberapa peristiwa menelan korban jiwa. Hasil penelitian terhadap beberapa kasus bencana longsor dan banjir bandang diketahui, terdapat unsur kelalalaian manusia (human error).

Kelalaian itu, misalnya, menyangkut kewaspadaan dan pengetahuan ekologi yang terbatas menyangkut etika tata kelola lingkungan.

Kawasan perbukitan dengan hutan yang menghijau, memiliki fungsi ekologi sebagai penyangga resapan air. Karena itulah pepohonan tumbuh lebat dan subur di kawasan itu untuk melindungi bukit dan gunung dari ancaman longsor.

Ketika hutan di perbukitan ditebangi untuk kepentingan ekonomi dan lahannya menjadi tempat berdiri bangunan pemukiman atau industri, maka ancaman bencana harusnya sudah mulai diperhitungkan. Dalam konteks ini, pengetahuan tentang pemanfaatan dan aturan tata kelola lingkungan wajib diimplementasikan.

Dengan pengetahuan tentang fungsi lingkungan, masyarakat tidak sembarangan membabat hutan atau mengganti hutan di perbukitan dengan tanaman industri lainnya. Bila ingin memanfaatkan potensi ekonomi wilayah perbukitan, harus benar-benar ditimbang dampak lingkungannya.

Sekurang-kurangnya harus diimbangi dengan upaya pelestarian, sehingga tidak merusak ekosistem dan fungsi ekologi masih bekerja dengan baik.

Selain meningkatkan kepedulian terhadap upaya pelestarian lingkungan, pengetahuan alam juga diharapkan dapat meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman bencana, sehingga dapat meminimalisir korban.

Masyarakat kita cenderung kurang respons terhadap informasi pengetahuan lingkungan dan alam. Contohnya, informasi prakiraan cuaca yang dikeluarkan setiap hari oleh Badan Metereologi, Klimatologi dan Geo Fisika (BMKG) belum digunakan sebagai referensi masyarakat melakukan aktivitas maupun antisipasi menghadapi banjir.

Ketika ada informasi datangnya cuaca ekstrem dengan dampak-dampaknya bagi kesehatan dan ancaman banjir, masyarakat mengabaikan informasi itu. Kita baru kelabakan ketika peringatan cuaca ekstrem dan dampaknya benar-benar terjadi.

Begitu pula dengan pengetahuan dan informasi tentang mitigasi daerah rawan gempa, longsor dan zona bahaya gunung merapi. Sebagaimana disebutkan, struktur geografis negeri kita yang berada di persilangan sejumlah benua yang rawan bencana gempa tektonik karena berada di lintasan sesar lempeng bumi.

Sudah selayaknya informasi ini dijadikan referensi untuk melakukan antisipasi dan meningkatkan kewaspadaan agar terhindar jatuhnya korban.

Akhirnya, di balik bencana pasti ada hikmah. Kita harus memetik pelajaran positif dari berbagai bencana yang sering melanda negeri kita. Salah satu hal positif yang kita petik, pengalaman bencana menuntut kita untuk meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan dan lebih banyak belajar memahami karakter alam.(*)