Keindahan Danau Toba Kini Menjadi Nostalgia

Oleh : Titus Antonius Gultom
Danau Toba merupakan danau hasil ledakan tektovulka­nik antara 71.000-75.000 tahun silam yang terletak di provinsi Sumatera Utara. Danau ini me­­miliki panjang +/- 100Km, lebar +/- 30 Km dan kedalaman +/- 500M. Dengan ukuran ini Danau Toba menjadi salah satu danau tektovulkanik terbesar di dunia. Wilayah Danau Toba mencakup tujuh kabupaten yaitu Karo, Tapanuli Utara, Tobasa, Simalungun, Humbang Hasundutan, Dairi dan Samosir. Pada umunya masyarakat di tujuh kabupaten ini hidup dari hasil alam yang ada di sekitaran Danau Toba.

Selain sebagai salah satu danau terbesar di dunia, Danau Toba juga menyimpan ratusan panorama alam yang eksotis yang mengundang datangnya para wisatawan lokal dan man­canegara ke tempat ini. Mari sejenak bernostalgia.

Dulu, sekitar 10-20 tahun silam kita masih bisa jumpai hamparan pasir putih di tepi Danau Toba. Selain itu air Danau Toba juga menjadi sumber air untuk keperluan rumahtangga bagi masyarakat di sekitaran Danau Toba. Ikan khas Danau Toba “ihan” yang menjadi salah satu ikan yang sangat penting dalam adat batak kini sangat mudah ditemukan di sungai-sungai yang bermuara ke Danau Toba.

Akan tetapi panorama dan kekayaan alam Danau Toba itu kini menjadi nostalgia bagi para masyarakat sekitar dan bagi para wisatawan yang sudah pernah melihat keindahan as­linya. Saya katakan sebagai nostalgia karena saat ini tel­ah ter­jadi banyak kerusakan alam mulai dari kerusakan hu­­tan dan ekosistem airnya.

Kerusakan-kerusakan itu tidak lain adalah ulah oleh sekelompok orang yang memanfaatkan ha­sil alam di sekitar dan di Danau Toba tersebut dengan serakah. Keserakahan yang dimaksud secara singkat da­pat dikatakan “memandang alam Danau Toba hanya dari sudut pandang ekonomi tanpa mempertimbangkan sudut pan­dang ekologi.

Beberapa contoh nyata yang saat ini terjadi adalah penebangan hutan yang ter­jadi di be­berapa daerah de­ngan meng­ganti fungsi hutan menjadi tanaman monokultur. Pemanfaatan air Danau Toba sebagai pembudidayaan ikan nila dan mujahir juga kini ha­nya dipandang dari sudut eko­nomisnya saja.

Akibatnya sisa pakan ikan tersebut menumpuk di dasar Danau Toba yang se­cara perlahan namun pasti kini merusak kualitas air Danau Toba sebagai sumber air minum masyarakat pinggiran Danau Toba dan juga mengakibatkan pencemaran besar-besaran.

Dan salah satu ikan khas Danau Toba “ihan” sudah sulit ditemui hidup di habitatnya. Kalaupun hingga saat ini di pasar pada umunya itu adalah hasil dari penangkaran, salah satunya berada di Sibaganding, Parapat.

Akan tetapi kerusakan alam Danau Toba ini bukan saja hanya disebabkan oleh perusahaan-perusahaan raksasa ini. Sebagian masyarakat sekitar juga ikut ambil bagian dalam pencemaran air Danau Toba ini yakni limbah rumahtangga yang langsung dibuang ke Danau Toba melalui sungai-sungai yang bermuara ke Danau Toba. Inilah kenyataan yang terjadi, maka tidak salah jika keindahan Danau Toba itu kini hanya nostalgia.

Kini akibatnya sangat tera­sa, wi­satawan yang datang ke Danau Toba saat ini menurun de­rastis dan ekonomi masyarakat se­kitaran Danau Toba secara khusus Parapat, Tuktuk ,Tomok hingga Pangururan juga ikut menurun.

Berhubungan dengan itu kini pemerintah telah membentuk sebuah badan khusus untuk menangani Danau Toba untuk menjadi destinasi alam bertaraf internasinal. Selain itu event Karnaval Kemerdekaan Pesona Danau Toba yang berpusat di Balige dan Parapat juga dilaksanakan sebagai bentuk orasi kepada semua masyarakat dan kepada dunia bahwa pe­sona Danau Toba harus di­merdekakan/dikembalikan kare­na Danau Toba tidak mampu menyembuhkan lukanya sen­­­diri.

Maka melalui event kar­naval ini masyarakat Danau Toba dihimbau untuk bahu-membahu dalam mensukseskan pengembalian pesona Danau Toba ini. Akan tetapi ada satu hal yang mesti disadari oleh pemerintah sebagai penggerak gerakan perubahan ini yaitu pesona masyarakatnya.

Dari dulu hingga sekarang sungut-sungut pengunjung yang datang ke daerah wisata Da­nau Toba adalah masalah keramahan. Oleh karena itu sembari mengembalikan pe­sona Danau Toba itu sendiri pemerintah dan masyarakat sekitar Danau Toba juga harus memperbaiki tatakrama yang menjadi pesona masyarakatnya.
*)Penulis Mahasiswa Sekolah Tinggi Teologi Pematangsiantar