Kebahagiaan Memberi

Oleh : Pdt. D.M. Peter Lim, S.Ag, MBA, M.Sc

“Ya, kita dapat melihat hasil nyata dari kedermawanan. Pemberi, si dermawan, akan dicintai dan disayangi oleh banyak orang. Inilah hasil yang nyata dari kedermawanan. Mereka yang bijaksana dan baik, meneladaninya. Inilah hasil yang nyata dari kedermawanan. Nama harumnya akan menyebar kemana-mana. Ini juga adalah hasil yang nyata dari kedermawanan. Juga, kemana pun dia bergabung, akan dihargai; diterima dengan rasa aman dan tanpa kesulitan oleh para Brahmana, para perumah tangga atau pun yang hidup menyepi. Inilah hasil yang nyata dari pemberian. Dan pada akhirnya, si pemberi, si dermawan, setelah kematiannya akan terlahir di alam surga. Inilah hasil nyata yang terlihat kemudian” Anguttara Nikaya III: 38.

Siapa bilang, kalau kaya pasti bahagia. terbukti, banyak orang kaya yang hidupnya stress, depressi dan bahkan bunuh diri. Siapa bilang dapat pasangan hidup yang rupawan (cantik/ganteng) pasti bahagia.

kenyataannnya, banyak dijumpai pasangan yang rupawan, hidupnya morat marit (bertengkar terus menerus) dan akhirnya bubar (cerai). Siapa bilang titel yang lengkap plus jabatan yang luar biasa, pasti akan bahagia. realitanya, banyak dijumpai orang-orang yang bertitel dengan kekuasaan yang luar biasa, hidupnya hambar, cemas, takut, dll karena salah memanfaatkan kelebihan yang telah dimiliki, mis. : korupsi, manipulasi, dll.

Secara tradisional di dalam agama Buddha dikenal Amisa Dana (pemberian dalam bentuk barang materi). Termasuk disini pemberian makanan, pakaian, uang dan barang-barang lain yang dapat berguna bagi orang lain.

Sang Buddha mengajak kita untuk melihat nilai-nilai yang terkandung dalam setiap pemberian dan mempertimbangkan dampak pemberian pada yang menerimanya. Dengan demikian, akan terlihat bahwa pemberian, walau sekadar materi, akan sangat berharga, baik pada pemberi juga pada penerima.

Sebagai contoh, bila kita memberi obat pada seorang, maka kita tidak hanya sekadar memberinya kumpulan bahan kimia (yang bernama obat), tapi kita telah pula memberi kesehatan dan kebahagiaan, malah kita mungkin telah pula memberi hidup.

Dalam hal pemberian makanan Sang Buddha bersabda : “Sewaktu memberi makanan, si pemberi telah pula memberi 5 hal. Apa yang 5 itu ? Dia memberi hidup, kecantikan, kebahagiaan, kekuatan dan akal budi. Dalam pemberian itu, si pemberi telah mengambil bagian pula dalam hidup, kecantikan, kebahagiaan, kekuatan dan akal budi, saat ini maupun saat akan datang”. Anguttara Nikaya II: 61.

Kunci kebahagiaan itu, tidak terletak pada kekayaan, kerupawanan, kejeniusan, kekuasaan, dll…tetapi adanya rasa syukur dan berterima kasih atas apapun yang telah dimiliki dan bisa didanakan atau diberikan kepada siapapun yang membutuhkannya.

Kelebihan yang telah dimiliki, bukanlah untuk dilekati tetapi haruslah bisa dibagikan atau diberikan kepada siapapun yang membutuhkannya. Dengan adanya keyakinan ini (memberi), maka selain akan terbebas dari kemelekatan, kita juga tidak akan kekurangan sandang pangan. Tanpa adanya kemampuan dan kemauan melepas atau memberi, maka yang namanya kebahagiaan, tidak akan pernah bisa dirasakan.

Kita dapat menyampaikan pesan, agar seorang suka berdana dengan berbagai cara dan motivasi, karena tidak semua orang memiliki semangat menolong dan cinta kasih yang diharapkan mendorongnya berdana.

Mengacu pada orang yang mengembangkan kedermawaan, Paramitasamasa menjelaskan, sebagai berikut: “Pemberi; tidak berfoya-foya, yang adalah racun; tidak mencelakakan orang lain; tidak takut dan tidak malu; dan tidak mencari-cari mereka yang dianggapnya pantas untuk menerima. Dia tidak memberi sesuatu yang perlu bila yang lainnya masih baik, atau dengan memandang rendah berpikir : “Mereka tidak pantas untuk ditawari,” dia juga tidak menurunkan nilai pemberiannya dengan mengharapkan balasan, dia juga tidak memberi tanpa ketulusan atau keraguan. Bila memberi pada orang bijaksana, dia tidak merasa bangga berlebihan; bila memberi pada orang biasa, dia tidak merasa terhina. Dia memberi dengan rela, tidak akan memandang tinggi dirinya juga tidak memandang rendah yang lainnya. Dia tidak memberi dengan maksud yang tidak baik; dia tidak memberi tanpa cita – cita mulia. Dia tidak memberi dengan kemarahan, juga tidak menyesali apa yang telah dia berikan. Dia tidak memberi banyak bila dipuji atau sedikit bila tidak dipuji. Dia tidak memberi sesuatu yang merugikan atau menimbulkan perilaku tercela”. Paramitasamasa I : 36 – 40.

Sabbe satta sabba dukkha pamuccantu – sabbe satta bhavantu sukhitata : Semoga semua makhluk terbebaskan dari derita dan semoga semuanya senantiasa berbahagia, sadhu,..sadhu,..sadhu.