Jaga Pangan dan Energi dari Musuh

Oleh : Budi Setiawanto
Kekayaan alam Indonesia ternyata bisa memicu perang pada masa mendatang tatkala krisis pangan dan energi diperkirakan melanda pada beberapa dekade ke depan. Ancaman musuh yang ingin menguasai wilayah Indonesia untuk dieksploitasi pangan dan energinya telah menjadi perhatian Tentara Nasional Indonesia (TNI) sebagai institusi pertahanan negara.

Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo mengatakan pada masa depan berbagai kepentingan dunia akan tertuju pada penguasaan pangan dan energi yang bersumber pada tumbuh-tumbuhan karena hal tersebut merupakan kebutuhan hidup dunia yang sangat vital.

Panglima TNI sejak tahun lalu telah menyosialisasikan ancaman perang ini agar seluruh komponen bangsa mewaspadainya. Saat berbicara di hadapan para mahasiswa di Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Jawa Tengah, bertema “Memahami Ancaman, Menyadari Jati Diri Sebagai Modal Membangun Menuju Indonesia Emas”, pekan lalu misalnya, Panglima TNI mengatakan pada tahun 2043 diperkirakan jumlah penduduk dunia mencapai 12,3 miliar jiwa di mana 80,2 persen atau 9,8 miliar jiwa dari jumlah tersebut hidup di luar wilayah ekuator dan hampir bisa dipastikan akan makin berupaya mencari pangan, air, dan energi di daerah ekuator, termasuk ke Indonesia.

Di kawasan ekuator, ada tiga negara dan kelompok negara yaitu Republik Indonesia, negara-negara di kawasan Afrika Tengah, dan Amerika Latin. Kawasan ini mempunyai kesuburan sepanjang tahun, dan bisa bercocok tanam sepanjang tahun. Di Asia, hanya Indonesia yang terletak di ekuator.

Masyarakat yang berada di daerah nonekuator akan mengalami krisis. Mereka akan mencari pangan di sekitar ekuator. “Inilah sebenarnya mengapa saya perlu bicara, karena perang masa kini adalah perang energi, perang ekonomi, pangan, air. Dan beralih lagi ke ekuator, inilah ancaman bagi bangsa kita,” ujar Gatot.

Saat ini konflik yang terjadi di sejumlah negara berlatar belakang penguasaan energi fosil tetapi konflik masa depan akan bermotif penguasaan sumber pangan, air bersih, dan energi hayati yang semuanya berada dalam satu lokasi yaitu di daerah ekuator.

Dihadapkan pada kondisi geografis Indonesia yang memiliki potensi vegetasi sepanjang tahun dan kekayaan alamnya maka Indonesia merupakan sumber energi, sumber pangan dan sumber air bersih yang akan menjadi incaran kepentingan nasional negara-negara asing di masa depan.

Indonesia negara yang kaya akan sumber daya alam tidak akan dibiarkan berkembang dan maju karena akan menjadi ancaman bagi negara-negara asing. Indonesia akan terus dijadikan konsumen dan pasar bagi produk mereka.

Kondisi geopolitik Indonesia yang dikepung oleh negara-negara “Five Power Defence Arrangement” (FPDA) menambah besarnya ancaman nyata yang dihadapi oleh Indonesia. Kecenderungan peningkatan penggunaan bio-energi ini bahkan pada tahun 2007-2008 telah memicu krisis harga pangan dunia yang meningkat sangat tajam hingga 75 persen, antara lain diakibatkan karena pengalihan penggunaan bahan pangan menjadi bio-energi atau energi hayati. Apabila energi habis digantikan bio-energi dan penduduk membeludak maka wilayah kita akan menjadi rebutan.

Pada tahun 2011 British Petroleum (BP) mengeluarkan sebuah laporan yang menyatakan bahwa sisa energi fosil dunia tinggal 45 tahun lagi sedangkan sisa energi fosil di Indonesia hanya tinggal 11,8 tahun.

Energi dunia akan habis pada tahun 2056 dan Indonesia pada tahun 2023, dengan asumsi bahwa kebutuhan energi dunia tidak mengalami peningkatan. BP pada awal tahun 2014 memperkirakan bahwa konsumsi energi dunia pada 2035 akan meningkat sampai 41 persen dari kebutuhan hari ini.

Pada pertengahan Desember lalu, Panglima TNI saat menjadi pembicara dalam Sosialisai Empat Pilar MPR RI dan Seminar Bela Negara di hadapan ribuan anggota Resimen Mahasiswa di Makassar, Sulawesi Selatan, Gatot mengatakan, idealnya bumi ini hanya mampu menghidupi 3-4 miliar penduduk, namun saat ini jumlah penduduk dunia sudah mencapai lebih dari 7 miliar jiwa. Kelebihan penduduk itu telah menyebabkan kelaparan dan kemiskinan. Hampir 15 juta anak meninggal karena kelaparan dalam satu tahun.

Selain itu dunia kerap dilanda peperangan. Yang tadinya terjadi perang energi, maka jadi perang pangan, energi dan air. Tadinya konflik di bumi Arab maka ke depan bisa jadi akan pindah ke negara kita.

Di hadapan ratusan kepala daerah pada sebuah acara yang diadakan Kementerian Dalam Negeri pada Mei lalu, Jenderal TNI juga mengatakan bahwa tantangan Indonesia saat ini dan ke depan bukan menyangkut perang dengan penggunaan senjata melainkan perang ekonomi.

Perang ekonomi yang dimaksudkan Gatot antara lain melonjaknya jumlah penduduk, menipisnya energi, pangan dan air. “Eksploitasi sumber daya alam dan sumber daya manusia di Indonesia. Ini adalah cara perang terkini, perang melalui kehidupan berbangsa dan bernegara,” tuturnya.

Untuk menghadapi berbagai tantangan itu, Panglima TNI meminta agar para kepala daerah bersatu dan bisa bersama-sama memanfaatkan perangkat daerah setempat seperti Dandim dan Polres agar siap berkoordinasi untuk antisipasi dan penanganan atas imbas, krisis maupun konflik keamanan yang sewaktu-waktu bisa terjadi.

Para elite harus bersatu bersama pemerintah mulai dari daerah sampai pusat. Tidak mungkin daerah sendiri-sendiri. Juga jangan berwacana, ribut, dan saling menyalahkan, yang justru tidak produktif.

Turun ke sawah Oleh karena itu, Gatot menekankan, Indonesia harus bersatu, bersiap dan bangkit. Ia mengkhawatirkan Indonesia dikooptasi lewat tangan politikus busuk yang jadi antek kepentingan asing. “Semua ingin menguasai Indonesia. Apakah 28 tahun lagi, pada 2043, anak dan cucu kita bisa hidup layak? Kalau kita tidak bangkit dan bela negara, maka kita tak bisa selamatkan anak cucu kita,” imbuhnya.

TNI telah menyadari ancaman itu sejak beberapa tahun lalu. Salah satu antisipasinya adalah dengan menerjunkan para prajurit TNI ke sawah untuk bercocok tanam dan pada rentang ke depan memastikan menjaga seluruh wilayah pangan Indonesia dari ancaman musuh.

Kodam II/Sriwijaya, misalnya, terus memaksimalkan mencetak sawah baru di wilayah Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel) yang meliputi sejumlah provinsi, untuk mendukung program pemerintah pusat dalam meningkatkan ketahanan pangan.

Kepala Penerangan Kodam II/Sriwijaya Kolonel Arh Syaepul Mukti Ginanjar menyebutkan untuk 2016 ini, di Sumbagsel yang meliputi provinsi Sumsel, Jambi, Lampung, Bengkulu, dan Bangka Belitung) ditargetkan cetak sawah baru seluas 33.440 hektare yang di antaranya dikerjakan jajaran Kodam II/Sriwijaya. (ant)