Ironi Melambungnya Harga Cabai

Oleh : Satriana Sitorus S.Pd.I

Cabai merupakan salah satu produk pertanian yang permintaannya cukup tinggi baik untuk pasar domestik maupun ekspor ke mancanegara.

Jumlah konsumsi cabai terus mengalami peningkatan seiring dengan pertamba­han jumlah penduduk setiap ta­­hunnya, serta sebagian besar penduduk Indonesia yang merupakan pengge­mar masakan pedas. Bagi masyarakat Indonesia, cabai merupakan bahan wajib yang tidak bisa dipisahkan dengan masakan sehari-hari.

Sayangnya, sekarag ini di­tengah fungsi vital cabai da­lam memenuhi kebutuhan pa­ngan masyarakat, harga ca­bai (khususnya rawit) justru mengalami kelonjakan yang sangat tinggi.

Sejak penghujung Desember tahun lalu, dibebera wilayah Indonesia harga ca­bai rawit bahkan sempat me­nyentuh angka ratusan ribu rupiah per kilogramnya.

Ma­halnya harga cabai ini tentu sa­ngat meresahkan msyarakat, khususnya di kalangan ibu ru­mah tangga dan pengusaha kuliner (rumah makan).

Untuk menciptakan cita rasa masakan yang ideal da­­lam se­buah makanan, sangat ti­dak mungkin mengganti­kan po­sisi cabai rawit dengan bum­bu instan yang saat ini ma­rak diperjual belikan.

Apalagi jika mengurangi porsinya, maka dapat dipastikan akan mengurangi cita rasa ma­sakan tersebut. Alhasil ma­syarakat harus pandai-pandai mensiasati masalah ini dengan tetap membeli cabai yang har­ganya selangit itu.

Dampak
Di beberapa daerah sentra produksi, harga berubah ham­­pir setiap waktu, ter­gan­­tung jumlah barang dan per­mintaan. Bila barang tidak ada karena iklim yang tidak mendukung, maka harga cabai akan melonjak tinggi. Sebaliknya bila barang sedang membanjir harga bisa turun drastis.

Penurunan harga yang sangat tajam juga terjadi bila cuaca mendung dan kondisi lembab karena mutu cabai me­nurun dan cabai tidak tahan lama disimpan. Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS), cabai rawit merah tercatat sebagai penyumbang inflasi terbesar sepanjang tahun 2016.

Cabai merah memberikan andil inflasi 0,35%. Di minggu perta­ma ta­hun 2017, harga cabai rawit merah naik lagi. Harga cabai rawit merah melonjak hingga di atas Rp 100.000/kg.

Seperti kenaikan harga yang terjadi di Pasar Kebayoran La­ma, Jakarta Selatan, se­jum­lah pedagang sayur di sana menjual cabai rawit merah dengan harga Rp120.000/kg. Harga itu mengalami kenaikan dari sebelumnya Rp90.000/kg.

Tingginya harga cabai ra­wit merah tersebut karena ku­ra­­­ng­nya stok cabai dari para pe­tani. Selain itu curah hujan yang tinggi juga dinilai menjadi penyebab mahalnya harga cabai rawit merah. (DetikFinance.com).

Kenaikan harga cabai yang mulai terlihat beberapa ming­gu terakhir ini juga mem­per­lihatkan pola yang tidak biasa. Berdasarkan pola historis, inflasi cabai biasanya diikuti oleh deflasi pada bulan selanjutnya dengan magnitude yang kurang lebih sama sehingga harga cabai cenderung kembali turun di sekitar level harga ketika sebe­lum terjadi kenaikan.

Namun, hingga awal tahun 2017 kini harga cabai masih bertahan pada level yang tinggi.

Dengan kata lain, harga cabai lambat untuk turun kembali. Meningkatnya harga cabai yang cukup signifikan tersebut, terkait dengan menurunnya pasokan yang dipengaruhi oleh adanya gangguan produksi yang cukup parah.

Curah hujan yang lebih tinggi (kemarau basah) yang terjadi hampir disepanjang tahun tidak mendukung produksi tanaman cabai dan tana­­man hortikultura lainnya pada umum­nya.

Petani adalah kunci dari penyelesaian melonjaknya harga pangan (cabai) ini. Seharusnya yang dilakukan oleh pemerintah adalah me­ningkatkan perha­tian kepada para petani mis­kin yang ada di Negara ini.

Pemerintah perlu mendorong berkembangnya teknologi dan inovasi dalam bidang pertanian di dalam negeri. Kemudian untuk mengendalikan stok pangan nasional perlu dibentuk suatu badan pengawasan pangan yang dapat mengawasi kondisi pangan di dalam negeri.

Solusi yang terakhir bagi pemerintah adalah dengan me­lakukan stabilisasi harga pangan nasional. Untuk itu diperlukan adanya regulasi pengaturan harga agar pe­merintah dapat berperan penting dan berperan langsung dalam mengendalikan harga pangan khususnya cabai.

(*)Penulis Alumni FAI Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara, bekerja sebagai guru di pesantren Al-Ihsan di Labura