Erotisme Dalam Balutan Film Horor

Beberapa film horor Indonesia membuat banyak penonton berlari ketakutan. Beberapa di antaranya, film akan hadir yang diperankan Luna Maya mengangkat film lama artis Suzzana, membuat sang artis disebut Ratu Horor hingga saat ini. Di film Rintihan Kuntilanak Perawan, Angel Lelga tampil berani dalam mengekspos tubuhnya dengan hanya mengenakan bikini.

Bahkan, beberapa dari cerita film horor ini justru terkesan vulgar, menampilkan pemainnya yang seksi. Beberapa artisnya pun berani mengekspos tubuh indahnya. Ceritanya mengenai seorang pembunuh berantai, korbannya orang-orang di sekitarnya. Rupanya pembunuh tersebut ternyata seorang wanita cantik dan seksi. Bahkan, teror kuntilanak perawan juga sempat beredar. Mati di Ranjang tayang 2010 silam. Film ini diperankan oleh Dewi Perssik yang dikenal sebagai penyanyi dangdut seksi.

Selain itu, ada juga Jenny Cortez yang berani mengekspos tubuhnya dengan mengenakan lingerie. Film horor kini lebih identik dengan adegan syur berbau seksual dibanding adegan mencekam. Hal ini juga tak ditepis oleh beberapa sutradara film horor. Seperti yang diungkapkan produser, sutradara, dan penulis naskah ‘Hantu Cantik Kok Ngompol’, Emil G Hampp.

Saat membuat film yang dibintangi oleh Sarah Azhari dan Nana Mirdad ini, Emil tak terlalu mementingkan unsur ceritanya. Blak-blakan, Emil mengaku hanya menjual eksploitasi keseksian pemain serta unsur seram yang pada saat itu memang tengah digemari. Banyak adegan syur dan adegan mandi. Film ini enggak menjual cerita, hanya sensasi. Ada saat bikin film mau pengakuan, ada saat cari duit dengan esek-esek. Makanya tidak filmis banget, bergaya FTV.

Industri film layar lebar adalah sebuah industri hiburan yang memikat. Setiap orang ingin datang ke bioskop untuk menikmati sajian gambar dan cerita, yang meskipun hanya pendek durasinya tapi mampu mengendap dalam memori sepanjang masa.

Bisa jadi, atau suatu kebetulan, setiap orang yang pergi menonton film hanya karena mereka jenuh terhadap rutinitas harian, maka pergilah mereka ke bioskop, untuk memenuhi hasrat akan hiburan sesaat terkadang juga tidak perlu dihayati mendalam hingga sampai ke makna-makna. Esok hari mereka telah lupa, dan kembali beraktifitas seperti biasa. Film juga merupakan pesona yang rumit.

Kemudian film dibagi-bagi ke dalam berbagai genre: drama, horor, komedi, sejarah, dan lain-lain.

Memungkinkan pada masing-masing genre itu untuk menciptakan diferensiasi atas sistem produksi, konsepsi-konsepsi, maupun target konsumen. Anggap saja, ada film yang bisa dikerjakan dengan sangat cepat dengan proses produksi tak sampai sebulan. Ada pula yang butuh waktu setahun, bahkan itu minimum, karena musti melewati tahap riset yang tidak gampang, misalnya untuk genre sejarah.

Alih-alih menjadikan film sebagai media hiburan, justru film bisa menimbulkan kontroversi. Film tidak hanya sebagai hiburan sesaat, melainkan sebagai arena pertarungan ideologi. Penonton yang datang ke bioskop lantas tidak hanya mengisi kekosongan dengan mencari hiburan sesaat, melainkan ada niat yang lebih dalam dari itu.

Film juga tidak hanya berisi gambar bergerak dan narasi yang berbicara secara eksplisit, tetapi ada elemen lain yang musti ditafsir kembali oleh penonton, bersifat implisit. Salah-satunya adalah erotisisme. Artinya, film yang kerap menampilkan sosok perempuan seksi dengan ditandai pakaian minim dan lekuk bagian tubuh yang menonjol, mampu menggugah hasrat laki-laki. Tak jarang sebaliknya, penampilan pemuda yang gagah dengan bidang badan yang proporsional dari atas ke bawah, kerap menarik perhatian perempuan. Lantas film menjadi normatif. Unsur seksualitas kemudian menjadi pilihan topik yang menarik mengenai film.

Mengapa demikian? Dalam film, erotisisme adalah nilai jual yang dijadikan konsep dalam bingkai komoditas film, sebagian pengamat menyebutnya sebagai “bumbu”. Seksualitas, sebagai unsur dari erotisisme, menjadi penanda yang diwakili oleh objek-objek berupa tubuh yang dikemas dengan strategi konstruksi visual tertentu.

Sajian yang erat kaitannya dengan unsur erotisisme tersebut menjadi pilihan para produser film, bersanding dengan film drama, komedi, animasi, dan lain-lain. Sejauh ini, film horor merupakan sebuah genre yang mampu mengundang pesona tersendiri bagi masyarakat penonton. Ia mampu mengundang banyak perhatian, lebih tepatnya pergunjingan. Pada umumnya melalui kritik-kritik yang datang dari masyarakat penonton yang tidak menyukainya.

Mereka punya alasan logis, terkait mitos-mitos yang beredar mengenai film horor Indonesia, yaitu film horor Indonesia terkesan irasional, misalnya menghadirkan cerita dialog antar pocong, sisipan-sisipan komedi yang lucu namun tidak mendidik. Sajian erotisisme dalam film horor tidak berbeda dengan film porno, karena kemudian erotisisme dipahami sebagai pornografi, meskipun telah lulus sensor lembaga perfilman Itu juga merupakan dialektika yang lain. Yang jelas, film horor telah berhasil menjadi genre yang dianggap potensial oleh para produser film, terbukti pada jumlah produksi yang cukup banyak dibanding komedi, drama, atau sejarah.

Proses produksi film horor pun kerap tidak membutuhkan waktu yang lama. Cukup berlokasi syuting di satu atau dua tempat (misalnya area kuburan dan sebuah rumah tua), maka selesailah film itu, bahkan tidak perlu pemeran yang tersohor. Hanya saja yang menarik, untuk menguatkan sajian erotisisme, dipilihlah pemeran-pemeran yang “menjual” untuk ditampilkan. “Menjual” ini sangat multi-tafsir.

Tetapi bisa dikatakan, bahwa pemeran (perempuan) yang hadir di film merupakan pemeran terpilih, yang pertama-tama dipilih atas pertimbangan produser atau sutradara, dan biasanya dipilih yang sudah terkenal. Dalam tuntutan itu, biaya produksi (honor pemeran), menjadi berlipat ganda dibanding membayar pemeran yang rating-nya biasa-biasa saja.

Alasan yang lebih khusus lagi dari pertanyaan mengapa aspek erotisisme yang dibahas di dalam film ini, dan tidak yang lain, misalnya komedinya, mekanisme produksinya, politik medianya? Yaitu karena aspek erotisisme adalah aspek yang, pertama, paling misterius.

Misterius karena erotisisme di dalam film adalah erotisisme yang telah dianggap lulus sensor. Atas sebab itu, sajiannya pun sifatnya implisit. sebagai aspek yang “disembunyikan” keberadaannya tidak vulgar dan tidak selalu tampil terus menerus, namun hanya menyelip di scene-scene tertentu saja. Lantas selalu muncul rasa penasaran untuk melihat apa sebetulnya konteks sajian erotisisme tersebut.
Dalam masyarakat banyak orang kesulitan membedakan erotisisme dari pornografi terutama karena erotisisme berpotensi memunculkan hubungan subjek objek, dengan objek menjadi sasaran dorongan seksual subjek (bentuk yang ekstrem adalah pemerkosaan).

Akibat hal ini, banyak orang yang menentang segala ekspresi erotisisme atas dasar perlindungan terhadap objek atau karena latar belakang budaya menganggap bahwa memiliki dorongan seksual bukanlah tindakan yang layak disetujui (berdosa). Pembela ekspresi erotisisme, sebaliknya, beranggapan bahwa potensi bukanlah kenyataan dan tidak seharusnya dianggap sebagai kenyataan, karena fokus apresiasi seharusnya pada aspek estetika, bukan pada dorongan seksualnya.
Dosen UMSU

Kaukus Perempuan Sumatera Utara