Anak Jangan Sering Dimarahi

Pada saat menghadapi perilaku anak yang kurang menyenangkan, orang tua cenderung langsung marah dengan penuh emosi seakan-akan anak tersebut adalah musuhnya. Bahkan anak menjadi korban karena amarah orang tua seperti yang saksikan di media masa maupun elektronik.

Orang tua tak segan-segan memukul anaknya yang masih kecil sehingga ada beberapa kasus seorang anak harus kehilangan anggota tubuhnya dan cacat seumur hidup. Selain itu, sering terjadi orang tua memarahi anaknya untuk mengikuti keinginannya, jika tidak anak diberikan ganjaran atau hukuman.

Kadang-kadang hukuman yang diberikan tidak didasarkan pada kesalahan, dan usia anak.Penyebab lain karena orang tua tidak punya banyak waktu untuk anaknya. Untuk itu orang tua rela mengeluarkan dana yang cukup besar untuk pendidikan anaknya.

Orang tua tidak menyadari dampak negatif bila hal tersebut terjadi pada anak. Kebutuhan primer anak bukan hanya materi semata, melainkan mendapatkan kasih sayang, belaian, perhatian yang cukup, tauladan dari kedua orang tua, mempunyai waktu bermain bersama, menjalin keakraban, hubungan emosional yang erat antara orang tua dengan anak.

Setelah orang tua mencari nafkah dan pulang ke rumah, mereka lelah dengan aktivitas seharian dan mengabaikan waktu untuk bermain dengan anak, lambat laun hubungan yang seharusnya terjalin dengan harmonis lama kelamaan berubah menjadi kurang harmonis.

Anak cenderung meminta perhatian lebih sehingga anak memperlihatkan perilaku yang bisa membuat orang tua marah peran orang tua teramat vital. Semua orang tua sayang dengan anaknya, namun dalam keseharian anak sering berperilaku yang menjengkelkan, sehingga membuat orang tuanya marah.

Acap kali orang tua tidak dapat mengendalikan emosi hingga memukul atau melakukan kekerasan fisik pada anak. Kadang kala orang tua menegur anak bukan ingin meluruskan kesalahan, tetapi justru meluapkan amarah.

Sebagai orang tua perlu belajar secara terus-menerus untuk meredakan emosi saat menghadapi anak. Jika tidak, teguran seseorang akan tidak efektif. Bahkan, justru semakin menunjukkan “kenakalannya”. Ancaman yang diberikan tidak menghentikan kenakalan anak, justru membuat anak berontak dan menentang. Anak merasa orang tua tidak menyayanginya lagi.

Selain itu, seseorang sering lupa menunjukkan apa yang seharusnya dikerjakan anak manakala seseorang asyik melontarkan ancaman. Orang tua marah kepada anak merupakan teguran sehingga anak berperilaku yang baik.

Perlu seseorang lakukan duduk bersama-sama anak dalam suasana yang mesra untuk berbicara tentang berperilaku yang baik, dan membangun komunikasi antara orang tua dan anak terutama pada anak usia dini.

Berdasarkan hal tersebut, Bredekamp (1987) menyarankan orang tua penting memahami fase perkembangan anak sesuai dengan DAP (Developmentally Appropriate Practice). Orang tua yang paham karakteristik anak sebagai sang peniru ulung, akan berhati-hati dalam bertutur kata, bertingkah laku, dan bertindak saat anaknya melakukan kesalahan.

Sebaiknya dalam memarahi anak disesuaikan dengan tingkat usia, serta kesalahan anak, karena akan berdampak buruk pada perkembangan kepribadian anak. Orang tua memarahi anak dengan cara yang tidak baik sejak kecil akan ditiru dan akan membekas hingga dewasa nanti.

Ada beberapa cara yang tepat memarahi anak dengan sapaan yang sopan, lemah lembut dan tidak menyakitinya baik fisik maupun nonfisik, sehingga anak dapat berkembang secara optimal.

Orang tua harus menyadari perannya dalam mendidik anak dan belajar menerima anak apa adanya, sabar menghadapi anak, perlu melakukan pendekatan secara psikologis, memberikan kebutuhan primer anak lainnya seperti menjadi tauladan, menghargai, memberikan kasih sayang, memperlakukan dengan baik sehingga anak dapat berkembang menjadi pribadi yang baik.
Penulis Alumni UMSU