Nurul Amirah Gondol Tiga Medali Panahan

Medan | Jurnal Asia

Pemanah asal Medan Denai Nurul Amirah berhasil menggondol 3 medali pada cabor panahan Pekan Olahraga Kota (PORKOT) Medan X/2018 di lapangan kecamatan Medan Helvetia yang berakhir, Minggu (25/11).

Atlet yang akrab disapa Nurul ini membukukan prestasi dengan raihan 1 keping medali emas di nomor kwalifikasi standat bow kategori SMA, meraih perak di nomor eliminasi standar bow kategori SMA dan mendulang perunggu di nomor berebow kategori SMA. Hasil yang diraih membuat kontingen kecamatan Medan Denai menduduki peringkat ketiga dengan raihan 3 emas, 2 perak dan 3 perunggu.

Keberadaan komunitas panahan Sakera Archery Club di Lanud Soewondo Polonia Medan turut membawa andil yang baik dalam perkembangan panahan. Salah satunya, dengan melahirkan Nurul Amirah yang meraih prestasi di PORKOT. Dirinya tidak berhenti sampai disitu saja dan terus menggenjot latihan untuk mencapai level nasional.

Usai melakoni arena olahraga bergengsi kota Medan. Atlet yang dilahirkan di Bukittinggi ini akan semakin fokus latihan untuk persiapan meraih tiket Popnas Papua 2019 dan Pra Pon di Bengkulu 2019. sebagai ajang seleksi antar atlet se-Sumatera menuju pesta olahraga akbar nasional di Papua 2020. “Hasil yang diraih tak lepas dari bimbingan sang pelatih Pak Robby Cahyadi yang penuh kesabaran melatih para atlet dengan teknik-teknik memanah. Kedua orang tua yang selalu memberikan dukungan saat berlaga. Tentunya tak lupa berdoa sebelum dan sesudah laga untuk dimudahkan Allah SWT membidik sasaran tepat dengan target,” ujar atlet berhijab ini di Medan, Selasa (27/11).

Ia menjelaskan, sejak duduk dibangku kelas 1 SMP sudah mulai latihan memanah di salah satu klub panahan di Medan. Apalagi panahan salah satu jenis olahraga yang disunnahkan Rasulullah SAW.

Selain dapat menyegarkan badan, menghilangkan suntuk dari segala rutinitas pekerjaan maupun pendidikan, meraih prestasi juga dapet bonus pahala. Manfaat panahan tersebut membuat perkembangan olahraga panahan di Medan terus mengalami peningkatan yang signifikan.

Dia menuturkan, memanah saat ini bukan lagi sebuah olahraga yang terkesan mewah. Dulu pernah terlintas di benak olahraga memanah ini kayak berkuda atau golf, tipikal olahraganya orang kaya.

Harus beli alatnya, sewa area memanahnya, sasaran membidiknya, dan lain lainnya. Belum lagi gak boleh asal shoot, pastinya kita mesti tau dulu dasar-dasarnya dan belajar dari awal untuk memanah.

Capaian prestasi cewek yang dilahirkan 8 Februari 2003 ini tidak bisa diraih dengan instan, terlebih olahraga panahan memiliki trik tertentu. Anak dari drg Wahid Khusyairi, MM dan drg Syawalini Fitri Sinaga ini mengatakan latihan tiga kali seminggu harus fokus dan rajin ibadah agar mendapat prestasi maksimal.

“Untuk mencapai prestasi tentunya butuh latihan yang keras dan memperbaiki teknik panahan untuk mencapai sasaran bidikan,” terangnya.
(bambang nl-adp)