Tilang CCTV Dinilai Efektif Ciptakan Masyarakat Tertib Berlalulintas

Medan – Program Tilang CCTV dinilai efektif diberlakukan sebagai salahsatu langkah untuk menciptakan budaya tertib berlalulintas.

Namun demikian sebelum terobosan ini dilaksanakan hendaknya terlebih dahulu dilakukan sosialisasi, untuk menghindari tidak terjadi pendapat-pendapat miring yang menuding kalau Tilang CCTV itu hanyalah jebakan-jebakan baru yang dibuat polisi bagi para pengendara di jalan raya saja.

“Selain pendidikan berlalulintas, Tilang CCTV yang kabarnya akan dipasang di setiap persimpangan jalan juga sangat bagus dan tepat untuk menekan angka pelanggaran lalulintas di jalan raya. Akan tetapi sebelum diberlakukan ketengah-tengah masyarakat hendaknya disosialisasikan terlebih dahulu,” terang Sekretaris Pusat Studi Hukum dan Pembaharuan (PUSPHA), Nuriono SH kepada wartawan, Rabu (11/10).

“Jangan sampai masyarakat menuding kalau itu merupakan jebakan-jebakan baru yang dibuat aparat penegak hukum untuk melakukan penilangan,” sambungnya.

Dengan semakin macatnya kondisi lalulintas khususnya di kota Medan dikatakan Nuriono, terkadang pengendara sudah tidak peduli lagi dengan aturan dan risiko yang nantinya bakal terjadi, yang ada dibenaknya hanyalah bagaimana bisa sampai ke tempat tujuan dengan cepat.

‎Hal itu sudah mulai gampang kita dapati dan dlihat di setiap lokasi-lokasi terjadinya kemacatan lalulintas, dicontohkan Nuriono seperti ketika lampu traffick light berwarna merah yang seharusnya berhenti, malah digunakan pengendara tersebut untuk tetap menjalankan kendaraannya meskipun harus menyelip disela-sela kendaraan pengendara lainnya, melewati zebra cross bahkan yang lebih mencengangkannya lagi tidak sedikit pula pengendara kendaraan bermotor yang memanfaatkan trotoar jalan yang seharusnya digunakan bagi pejalan kaki malah dilaluinya untuk agar lebih cepat sampai ke tempat tujuannya.

Dengan adanya fakta-fak­ta tersebut mantan Direktur Lem­baga Bantuan Hukum (LBH) Medan ini juga menyarankan selain pemasangan kamera CCTV hendaknya ada juga petugas kepolisian yang selalu berjaga-jaga di di setiap lokasi rawan kemacatan.

Sehingga dengan adanya keha­diran polisi disana setidaknya akan membuat para pengendara-pengendara nakal itu menjadi takut dan tidak mau lagi sesuka hatinya mengendarai kendaraannya.

“Kalau ada polisi di setiap titik lokasi rawan kemacatan dan melakukan penindakan (tilang) terhadap pengendara yang melanggar lalulintas seperti di antaranya naik ke trotoar merupakan suatu tindakan yang tepat sebagai shockteraphy bagi pengendara nakal tersebut, dan apabila shockteraphy itu terus saja dilakukan secara terus menerus nantinya akan memicu perasaan takut dan menjadi efek jera baginya. Sehingga lamban laun masyarakat tidak akan lagi melakukan pelanggaran lalulintas,” katanya.

Maka dari itu dalam men­ciptakan budaya tertib berlalulintas dirinya juga mengaku semua bisa saja terwujud asalkan seluruh elemen masyarakat serta instansi terkait mau bersama-sama dan bergandeng tangan untuk menyadari betapa pentingnya keselamatan di jalan raya.

(bowo)