Sofyan Tan : Pancasila Harus Jadi Pegangan Generasi Milenial 

 

 

Anggota DPR RI Komisi X, dr Sofyan Tan.Netty

Medan | Jurnal Asia
Anggota DPR RI Komisi X, dr Sofyan Tan menegaskan, Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara harus terus menjadi pegangan generasi milenial khususnya mahasiswa. Apalagi generasi milenial terkenal dengan serba instannya.

Sebab, kata dia, dari penelitian tahun 2018, setidaknya ada 33 persen guru yang menganjurkan berperang untuk mewujudkan negara Islam. Ada juga penelitian yang menyebutkan 7 kampus terpapar ekstrimisme agama dan 36,5 persen mahasiswa kampus Islam yang setuju dengan khilafah.

Bukan hanya itu saja, dari hasil penelitian juga ada 10 kota di Indonesia yang dinilai intoleransi. Dari sepuluh kota di Indonesia itu, Medan merupakan salah satu kota yang masuk sebagai kota intoleransi.

“Penguatan Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945 sebagai konstitusi negara, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan negara harus terus diperkuat,” katanya di acara Sosialisi Empat Pilar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara di Aula GMI Gloria, Selasa (3/12/2019) malam.

Politikus PDI-P ini juga menambahkan bahwa suatu daerah ataupun negara akan maju jika toleransinya tinggi. Ia mencontohkan Thailand yang bisa meraih 34 juta wisatawan, Malaysia bisa meraih 27 juta wisatawan dan Singapura dengan penduduk yang sedikir juga bisa meraih jumlah wisatawan yang lebih banyak dibandingkan Indonesia.

“Kita hanya bisa meraih 17 juta wisatawan. Masih kalah dengan Thailand, Malaysia dan Singapura,” ujarnya.

Indonesia juga katanya memiliki 1300 suku, dan 700 bahasa. Bayangkan karena suku yang beragam ini, satu ideologi yang melekatkannya yakni Pancasila dan nilah yang menjadi pegangan kita.

Ia sendiri sebagai anggota DPR juga telah menerapkan Pancasila ini dalam kerjaannya sehari-hari. “Selama menjadi anggota DPR saya sudah membantu ratusan ribu pelajar dan ribuan mahasiswa. Ini juga bagian dari pengamalan Pancasila itu,” katanya.

Di sekolahnya, Sofyan Tan membangun rumah ibadah dari berbagai agama. Itu salah satu bentuk amalan Pancasila. Begitu juga dalam membantu sekolah-sekolah dan siswa yang dapat beasiswa. Ia tidak melihat suku, agama dan ras.

“Ini bagian dari pengamalan sila kedua yakni kemanusian yang adil dan beradab. Saya mencoba adil kepada semuanya,” ucapnya.

Ketika sudah adil, maka munculah persatuan Indonesia. Kemudian jika segala sesuatunya juga sudah dimusyawarahkan maka akan terciptanya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Inilah yang dicita-cita oleh semuanya.(nty)