Penuturan Warga Soal Ruko Penampungan Imigran Bangladesh : Tertutup dan Tak Ada Aktivitas

Ruko tempat penyimpanan ratusan imigran terlihat sepi. Ist

Medan | Jurnal Asia
Pasca ditemukannya rumah toko (ruko) di Jalan Pantai Barat Kelurahan Cinta Damai Kecamatan Medan Helvetia, Selasa (5/2) malam kemarin.

Warga sekitar mengaku terkejut dan tidak menyangka ruko itu dijadikan tempat penampungan ratusan orang asing.

“Seharinya ruko itu gak ada aktivitas, tertutup,” kata Eva (42) warga sekitar kepada wartawan.

Namun, saat dinihari dikatakannya, sering terdengar suara klakson mobil yang datang ke mobil tersebut.

“Tapi gak curiga kalau ada orang didalamnya, heran juga gimana mereka masukannya ya sampai ratusan gitu,” ujarnya.

Eva mengatakan terbongkarnya ruko itu menjadi penampungan imigran setelah sejumlah pemuda yang nongkrong di warung mendengar suara gaduh dari dalam ruko.

“Setelah diintip di dalam ruko ramai ada ratusan orang, terus ada yang jaga dua orang langsung marah menutup pintu ruko. Selanjutnya bersama Kepling mendobrak ruko ini,” katanya.

Dari penuturan imigran, yang bisa berbahasa Indonesia, Eva mengatakan hidup imigran sangat memprihatinkan hanya diberi makanan dan minuman yang kurang cukup.

“Mereka kelaparan makanya mengamuk. Kalau kata mereka masih teman mereka di lokasi lain di Medan,” tandasnya.
Ratusan Imigran gelap asal Bangladesh yang ditemukan di sebuah ruko di Jalan Pantai Barat Kelurahan Cinta Damai Kecamatan Medan Helvetia diduga hendak berangkat ke Negara Malaysia untuk mencari pekerjaan.

Kepala Imigrasi Kelas I Khusus Medan Ferry Monang Sihite menyampaikan setelah dilakukan pendataan, imigran Bangladesh yang masuk ke Medan berjumlah 193 orang, dan semuanya laki laki berusia sekitar 20 tahun.

“Mereka (imigran) tidak memiliki dokumen perjalanan,” ujarnya, Rabu (6/2).

Terkait dengan dugaan ratusan imigran ini datang ke Medan untuk selanjutnya berangkat mencari pekerjaan di Malaysia, Ferry mengatakan pihaknya masih melakukan pemeriksaan lebih lanjut.

“Kami lakukan pemeriksaan lebih mendalam untuk mengetahui modus dan apa tujuan mereka berada di Medan tanpa dokumen perjalanan,” ujarnya.

“Selanjutnya nanti akan kami laporkan bagaimana penanganannya apakah nanti akan kami lakukan deportasi, atau dimungkinkan kami lakukan pro justisia,” sambungnya.(wo)