Kedatangan Wisma ke Sumut Terus Menurun | Pemerintah Daerah Harus Tanggap

Medan – Sektor pariwisata menjadi salah satu penyumbang terbesar bagi devisa negara ataupun daerah. Pemerintah daerah diharapkan berperan aktif dan tanggap mencari solusi untuk meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) sebab sektor ini mengalami penurunan jumlah kunjungan.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Utara, Syech Suhaimi mengatakan, selama Januari 2018 jumlah kunjungan wisman di Sumut hanya mencapai 14.999 kunjungan atau mengalami penurunan sebesar 46.39 persen jika dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai27.978 kunjungan.

Angka ini juga lebih kecil 25,79 persen jika dibandingkan dengan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara pada Januari 2017 lalu dari 20.212 kunjungan pada bulan Januari 2017 menjadi 14.999 kunjungan.

“Jumlah kunjungan wisman ke Sumut mengalami penurunan. Pada Januari 2018, wisman dari Malaysia merupakan pengunjung yang terbanyak dengan 8.900 kunjungan atau 59,34 persen dari total wisman yang berkunjung di Sumut,” katanya, Senin (12/3).

Anggota DPR Komisi X Sofyan Tan mengakui, perkembangan industri pariwisata di Sumut masih berjalan lambat. Ada tiga faktor yang perlu menjadi fokus pemerintah guna meningkatkan kunjungan wisatawan yakni faktor keamanan, infrastruktur dan kejelasan agenda.

Karena faktor infrastruktur jalan serta jarak tempuh yang terlalu lama untuk sampai ke lokasi wisata. Namun hal itu kini perlahan sudah diperbaiki saat Jokowi telah meresmikan Tol Medan-Tebingtinggi dan Bandara Silangit di Tapanuli Utara sebagai pintu masuk internasional ke Danau Toba.

“Persoalan-persoalan di Sumut ini bukan hanya kita bilang bahwa kita punya danau yang indah, terindah dan terbesar tetapi harus disiapkan sejak awal. Pembenahan infrastruktur juga sangat penting demi kemudahan mencapai tempat destinasi,” ucapnya.

Faktor lain adalah keamanan yang masih harus jadi perhatian. Masih ada terdengar wisatawan yang dicopet di Sumut dan itu sangat mempengaruhi jumlah kunjungan wisata. Hal tersebut jadi pekerjaan rumah kepolisian dan kita bersama untuk memberikan rasa aman di destinasi wisata.

Hal ketiga yang perlu dibenahi, agenda wisata besar seperti Festival Danau Toba yang kerap berubah-ubah. Hal ini menimbulkan kebingungan bagi para wisatawan yang hendak menyusun agenda perjalanannya.

Menurutnya, untuk agenda besar seperti Festival Danau Toba, sudah selayaknya dipromosikan jauh-jauh hari agar informasinya bisa menjangkau lebih banyak wisatawan baik dalam maupun luar negeri. Promosi yang dilakukan terkait agenda wisata daerah ini pun kurang luas.

Seharusnya, penyelenggara acara bisa melakukan promosi lebih luas hingga ke mancanegara dengan menggandeng para penyedia jasa layanan wisata baik dalam maupun luar negeri, terlebih dengan negara yang memiliki kedekatan sejarah dengan Indonesia.

Namun, lagi-lagi, perubahan jadwal yang beberapa kali terjadi tentu mempersulit promosi kegiatan wisata ini di luar negeri.

Untuk itu, dia menyarankan agar penyelenggara acara bisa merangkul atau bekerja sama dengan tim profesional dalam merancang perhelatan ini sehingga bisa ditata sedemikian rupa demi menarik pengunjung yang lebih banyak.

(netty/rol)