Indonesia Pernah Cetak Uang Repoeblik Indonesia Tapanuli

Mesin Pencetak Uang Repoeblik Indonesia Tapanuli (ORITA).Vii

Medan | Jurnal Asia
Perjuangan bangsa Indonesia bukanlah hanya sebatas angkat senjata, namun disamping itu juga adalah berjuang untuk menjadi bangsa yang mandiri di bidang ekonomi.

Apalagi Pasca kemerdekaan, Indonesia masih berusaha untuk memperbaiki sistem perekonomian pasca ditinggalkan tentara Jepang akibat kalah dalam perang dunia kedua.

Penjaga Museum Uang Sumatera, Dicky Armanda mengatakan, pada saat terjadinya Agresi Militer Belanda tahun 1947, Indonesia mengalami keterpurukan ekonomi untuk menghadapi Belanda. Dikarenakan uang dicetak pada saat itu masih terbatas.

“Maka untuk memenuhi kebutuhan perang maka Presiden Soekarno memerintahkan Ferdinan Lumban Tobing untuk mencetak uang sendiri yaitu Uang Repoeblik Indonesia Tapanuli,” katanya, Kamis (17/1).

Ia menambahkan, pemilik cetakan uang tersebut adalah Arun Siregar. Ia merupakan generasi pertama, kemudian kedua Philemon Bin Harun dan generasi ketiga adalah Bistok.

“Pada saat itu uang yang dicetak masih bersifat terbatas”, tambahnya.

Saat ini, terangnya lagi, wewenang keresidenan Tapanuli untuk mencetak uang sendiri adalah dikarenakan Uang ORI yang dikeluarkan oleh pemerintah Indonesia tidak mencukupi. Akibatnya Presiden Soekarno memberikan wewenang untuk mencetak uang sendiri. Namun pencetakan uang tersebut atas perintah Residen Tapanuli.

“Kemudian Dr. Ferdinan Lumban Tobing meminta Bistok yang saat itu sebagai Komandan Brigade Pasukan Ksatria sekaligus pemilik percetakan untuk mencetak uang bagi keperluan perekonomian di Tapanuli dalam menghadapi Agresi Militer Belanda,” ucapnya.

Untuk bahannya sendiri, kertas yang digunakan untuk mencetak uang adalah HVS dan hanya bisa di sebarkan dan digunakan apabila sudah di tanda-tangani

Namun pada saat terjadi Agresi Militer Belanda II 1948 percetakan tersebut di segel oleh Belanda dan di jaga Polisi dengan ancaman tembak mati jika barang tersebut hilang.

Pada malam harinya Pertahanan Rakyat Semesta membongkarnya penyegelan tersebut dan semua barang milik keresidenan diangkut ke pedalaman yang susah di deteksi oleh Belanda.

“Setelah Indonesia berdaulat pasca Konferensi Meja Bundar, maka Percetakan itupun kembali mencetak uang Tapanuli. Namun pada tahun 1950 semua uang daerah tidak lagi digunakan dan diganti dengan uang federal yang dikeluarkan oleh The Javansche Bank atau yang menjadi Bank Indonesia”, tandasnya.

Setelah tidak digunakan mesin pencetak uang tersebut kini dimuseumkan. Keberadaan mesin pencetak uang Tapanuli tersebut kini berada di Museum Uang Sumatera Jalan Pemuda, Medan.(vii/net)