Gereja Bethel Marindal Diterorm | Pelaku Tinggalkan Tas Berhasil Diciduk

Polisi bersenjata dari Satuan Brimob Polda Sulawesi Tengah berjaga di sekitar salah satu gereja di Palu, Sulawesi Tengah, Jumat (23/12). Selain menugaskan polisi yang ditempatkan di seluruh gereja, Polda Sulawesi Tengah juga menurunan sekitar 955 personel polisi untuk mengamankan perayaan Natal dan Tahun Baru. ANTARAFOTO/Basri Marzuki/kye/16


Medan – Gereja Bethel Jalan Marindal/Bajak II-H, Kelurahan Harjosari II, Kecamatan Medan Amplas, Kamis (22/12) malam diteror. Seorang pelaku berhasil diamankan dalam kejadian ini. Pihak kepolisian dan TNI tampaknya ha­rus bekerja ekstra keras jelang Natal dan Tahun Baru ini.

Pasalnya, kelompok pela­ku terorisme diduga masih terus beren­cana melancarkan gangguan keamanan. Sumut bahkan dalam kondisi siaga 1 seperti yang disampaikan Kapoldasu kemarin, dalam apel bersama.

Adalah Syamsari alias Ari (24), pemuda asal Kam­pung Karang Anyer, Kecamatan Langsa, Pro­vinsi Aceh diserahkan ke polisi. Sebelumnya ia berhasil mengelabui para jemaat. Kuat dugaan Syamsari tergabung dalam jaringan teroris kelompok KGR. Dia berhasil merangsek masuk ke dalam gereja, sambil membawa tas ransel yang disandangnya.

Belum diketahui apa isi di dalam tas ransel tersebut, apakah bom atau benda mencurigakan lainnya. Beruntung aksi mencurigakan yang dilakukan Syamsari dipergoki dua warga yang bermukim di sekitar gereja, M Riski Nasution (22) warga Jalan Bajak 5 Ujung, Kecamatan Medan Amplas dan Rahmad Suryadi Nasution (21) warga Jalan Bajak II-H, Kecamatan Medan Amplas.

Saat itu Riski dan Rahmad sedang berada di sekitar gereja lalu didatangi Syamsari. “Kami lagi berdiri di samping gereja itu. Kemudian datang pelaku (Syamsari) menghampiri kami dan menanyakan apakah gereja ini ada penghuninya. Lalu kubilang ada karena ada kereta dan mobil,” kata Riski.

Karena curiga, Riski kembali bertanya kepada pelaku. “Aku sempat curiga sama dia bang, makanya kutanya lagi ada kepentingan apa abang di Gereja Bethel itu. Katanya dia mau jumpai kawannya, karena dia mau pindah agama. Lantaran dia mau pindah agama, kusuruh aja dia masuk ke dalam gereja,” beber Riski.

Dikatakan Riski, sebelum masuk ke dalam gereja, pelaku juga sempat ditanyai jemaat gereja. Beberapa menit di dalam gereja, seorang jemaat tampak berlari keluar dari dalam gereja sambil berteriak ada teroris dan menghampiri Riski dan Rahmad.

“Jemaat itu nanya sama kami, apakah ada melihat orang yang membawa tas ransel masuk ke dalam gereja tadi. Lalu kubilang ada, tapi dia barusan keluar tanpa membawa tas ranselnya lagi. Itu dia masih diluar pagar gereja,” beber Riski.

Kontan saja jemaat gereja tersebut berteriak ada teroris. “Ada teroris, pria tadi itu adalah teroris,” teriak mereka. Akibat teriakan itu, para jemaat lainnya pun lari tunggang langgang untuk menyelamatkan diri. Sedangkan jemaat lainnya berhasil menangkap pelaku dan menghubungi petugas Polsek Patumbak.

Sejurus kemudian, sejumlah personel Polsek Patumbak tiba di lokasi dan langsung melakukan penggeledahan badan dan barang bawaan terlapor. Setelah dipastikan tidak ada bom ataupun bahan peledak di dalam tas ransel milik pelaku, kemudian polisi mengamankan pelaku ke Mapolsek Patumbak, guna penyelidikan lebih lanjut.

“Di dalam tas itu hanya berisi baju kemeja 2 potong, kacamata 2 , charger HP, Handset, 3 kartu HP dengan No 082370385623, 082367154617 dan 1 satu kartu hp Tri,” kata Kapolsek Patumbak, AKP Afdhal Junaidi, Jumat (23/12) pagi.

Afdhal mengatakan, pihaknya sudah berkoordinasi dengan Kapolsek Ulim Langsa, Iptu M Daud tentang identitas pelaku. “Sabar ya, nanti kalau ada perkembangan terbaru terkait kasus ini, akan saya kabarkan,” sebut Afdhal.

Sumut Siaga 1
Sementara itu sebelumnya, Kapolda Sumut menyatakan, jelang natal dan tahun baru 2017 Sumut Siaga 1, Kamis (22/12). “Polda Sumut menetapkan stasus Siaga I untuk seluruh personel Polri di jajaran Polda Sumut,” kata Kapolda Sumut Irjen Pol Rycko Amelza Dahniel usai gelar Pasukan Operasi Lilin Toba 2016 di Lapangan Merdeka Medan.

Polda Sumut memprioritaskan pengamanan lima obyek dengan menggunakan pola maksimum sekuriti, yaitu rumah ibadah, lokasi wisata, pusat perbelanjaan, pemukiman, dan obyek-obyek vital seperti kantor-kantor.

“Kita juga memberi pengamanan terhadap pemukiman etnis tertentu,” ucapnya. Dia menyebutkan, pihaknya mengedepankan upaya pencegahan proaktif. Memberdayakan sistem pengamanan swakarsa.
“Kita sudah mengumpulkan pimpinan gereja di Sumut untuk membahas pola pengamanan yang dilakukan,” jelasnya.

Rycko meminta masyarakat memaklumi pengamanan yang terkesan super dan menerima adanya pembatasan-pembatasan yang diterapkan petugas. “Ini untuk memberikan jaminan keamanan kepada masyarakat, terutama yang sedang melaksanakan ibadah,” tandas dia. Sebanyak 10.000 personel diturunkan untuk pengamanan Natal dan malam pergantian tahun nanti.

Sebanyak 7.500 orang merupakan anggota kepolisian. Selebihnya adalah personel bantuan dari TNI, SAR, Satpol PP, Bankom, dan Pramuka. (ial/kcm)