Dua Kafilah Sumut Melaju Final MTQN

Di Tilawah Anak dan Remaja

Medan | Jurnal Asia

Dua kafilah asal Sumatera Utara (Sumut) berhasil maju ke final untuk Golongan Tilawah Anak dan Remaja Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional XXVII. Keduanya adalah Nurhazlin dan Sri Rahmadani. Mereka kembali tampil Kamis (11/10) di Lapangan Merdeka Medan.

Nurhazlin maju ke final untuk golongan Tilawah Anak Putri. Sementara Sri Rahmadani maju pada golongan Tilawah Remaja Putri. Nurhazlin di babak penyisihan berhasil meraih poin 92.00. Ia berada di urutan kedua dari 34 peserta seluruh Indonesia. Sementara diurutan teratas adalah kafilah asal Nusa Tenggara Barat (NTB) Nurul Hidayanti dan urut ketiga yakni Nafisah Almais dari DKI Jakarta. Kedua kafilah ini merupakan pesaing Nurhazlin di babak final.

Sementara pesaing Sri Rahmadani adalah kafilah asal Jambi yakni Lutfiatunisa dan Eva Hudaevah dari Banten. Lutfia merupakan kafilah peraih nilai tertinggi yakni 93,83. Sementara Sri meraih poin diurutan kedua dengan nilai 93,50 dan Eva meraih poin 93,33.

Untuk golongan tilawah ini, kafilah putra asal Sumut belum berhasil ke final. Di tingkat tilawah anak putra, yang melaju ke final adalah Muhammad Ihsan Ramadan dari Jawa Barat, Muhammad Hafizih Fadhil dari DKI Jakarta dan M Rifqi Hawari dari Kepulauan Riau. Sementara untuk remaja putra, yang masuk ke babak final adalah Muhammad Rizqon dari Kalimantan Selatan dengan nilai 94,33, Syamsuri Firdaus, Nusa Tenggara Barat dengan nilai 94,00 dan Muhammad Reza Maulana Nurdin dari Jawa Barat dengan nilai 93,16.

Koordinator Tilawah Anak dan Remaja, Ramly kepada wartawan mengatakan, di final nanti para peserta tampil dimulai dari tingkat anak kemudian di susul tingkat remaja. “Untuk hasil nanti akan diumumkan di penutupan yang dihadiri Wapres Jusuf Kalla,” katanya.

Sementara Sri Rahmadani, kontingen Sumut yang malaju ke final kepada wartawan mengatakan, tampilan baiknya tidak terlepas dari pembelajaran tajwid dan lainnya saat training center yang dilakukan Pemerintah Provinsi selama sembilan bulan.

“Luar biasa pengajarnya. Saya tidak ada target dapat nilai berapa, yang penting sudah memberikan yang terbaik,” kata lulusan UIN Padangsidempuan tersebut.

Perempuan kelahiran tahun 1996 ini juga mengaku belajar mengaji secara otodidak. Ia mendapatkan ilmu tilawah dari kakak angkat yang sering mengajarinya mengaji di Padangsidempuan.

“Abah dan umi bukan qari dan qariah. Jadi belajarnya dari kakak dan dilatih saat baca alquran sehabis Subuh dan Salat Magrib,” ucapnya sambil mengatakan akan memberikan penampilan terbaiknya saat final nantinya.
(markus/put)