Datang Berkunjung, Ada 16.000 Al Quran Gratis

Peserta cabang tilawah golongan cacat netra memilih ayat Alquran dengan menekan layar komputer pada ajang Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional XXVII/2018 di Medan, Sumatera Utara, Rabu (10/10). Sebanyak 47 penyandang tuna netra dari 34 provinsi mengikuti lomba bacaan hafalan ayat Alquran di MTQ Nasional. ANTARA FOTO/Septianda Perdana/nz/18

Serba-serbi MTQN

Medan | Jurnal Asia

Sebanyak 16.000 Al Quran dibagikan secara gratis kepada para pengunjung yang datang ke Astaka MTQ Nasional ke-27 di Gedung Serba Guna Provinsi Sumatera Utara di Jalan Williem Iskandar Medan maupun di beberapa lokasi yang menjadi titik perlombaan MTQ Nasional.Sakhira Zandi, Wakil Sekretaris III Panitia MTQ Nasional ke-27 tahun 2018 Provinsi Sumatera Utara mengatakan, totalnya ada 16.000 Al Quran yang dibagikan selama pelaksanaan MTQ Nasional ke-27 ini.

”Dari 16.000 Al Quran tersebut, sekitar 2.000 Al Quran dibagikan kepada seluruh peserta MTQ Nasional yang berlomba di beberapa titik lokasi perlombaan,” kata Sakhira Zandi saat membagikan Al Quran di Astaka MTQ Nasional ke-27 di Gedung Serba Guna Sumut di Jalan Williem Iskandar Medan, Rabu (10/10).

Disampaikan Sakhira, pembagian Al Quran secara gratis kepada pengunjung itu dalam rangka mencerdaskan masyarakat bisa membaca Al Quran.Al Quran yang dibagikan ini, sebut Sakhira, merupakan wakaf dari beberapa BUMN, BUMD Provinsi Sumatera Utara serta dari perbankan syariah, sedangkan Panitia MTQ Nasional yang mendistribusikan atau membagikan kepada pengunjung dan peserta MTQ Nasional.

“Masyarakat sangat antusias mendapat Al Quran tersebut dan Insya Allah pada malam penutupan MTQ Nasional ke-27 akan dibagikan Al Quran kepada pengunjung,” kata Sakhira.

Di lokasi yang sama, Direktur Penerangan Agama Islam Kementerian Agama (Kemenag), Khoiruddin mendorong pelaku seni kaligrafi untuk menjadikan kaligrafi kontemporer sebagai industri ekonomi kreatif. Karena, menurut dia, seni kaligrafi ini berbeda dengan karya kaligrafi biasanya.

Khoruddin mengatakan, cabang kaligrafi kontemporer ini juga banyak diminati oleh masyarakat saat diperlombakan dalam Musabaqah Tilwatil Quran (MTQ) Nasional ke-27 di Gedung Serba Guna Indoor, Jalan Wiliam Iskandar, Kota Medan. Perlombaan kaligrafi ini digelar selama dua hari pada 8 hingga 10 Oktober 2018.

“Ini potensi untuk dijadikan sebagai industri kreatif Alquran. Dan itu di negara-negara lain belum sampai sejauh itu membuat kreatifitas kaligrafi, hanya Indonesia,” ujar Khoiruddin saat ditemui di sela-sela acara MTQ Nasional 2018 di Medan, Rabu (10/10).

Menurut dia, ke depannya harus ada rencana untuk memasarkan industri kreatif ini ke dunia Internasional. Karena, menurut dia, kaligrafi kontemporer ini sangat berpontensi untuk go internasional. “Ini kan salah satu cara untuk menumbuhkan pergerakan ekonomi dari segi yang berbeda. Karena itu, kami dorong pelaku seni kaligrafi kontemporer ini,” ucapnya.

Untuk mendorong itu, pihaknya juga sudah menggelar dua kegiatan yang terkait kaligrafi jenis ini. Pertama, yaitu lomba kaligrafi kontemporer dalam MTQ Nasional dan juga program khusus festival kaligrafi. “Kita dua kali laksanakan dan animonya sangat bagus. Makanya sekarang di rumah-rumah tangga itu banyak lukisan kaligrafi,” kata Ketua Panitia Pusat MTQ Nasional 2018 ini.

Sementara itu, pelaku seni kaligrafi kontemporer asal Aceh, Ermi Daini (27) juga menyampaikan bahwa kaligrafi kontemporer sangat berpotensi untuk menjadi industri ekonomi kreatif di Indonesia. Apalagi, kata dia, saat ini karya-karya yang dihasilkan sudah semakin bagus dalam perlombaan kaligrafi kontemporer. “Alhamdulillah sekarang saya lihat semakin luar biasa karya-karyanya,” kata Ermi saat berbincang dengan Republika.co.id di sela-sela perlombaan kaligrafi kontemporer.

Perempuan berkacamata ini berharap ke depannya pemerintah bisa menfasilitasi untuk pengembangan seni yang memadukan lukisan dan ayat Alquran tersebut. Karena, menurut dia, kaligrafi kontemporer juga dapat memberikan kepuasaan tersendiri bagi pecinta seni dan Alquran.

“Orang kan senang melihatnya dan ada kepuasan batin melihat warna-warna dan melihat ide-ide yang luar biasa. Jadi ada kesenangan batin. Karena itu, untuk ke depannya secara usaha mungkin bisa dijadikan ekonomi kreatif,” jelas Ermi, yang dulunya pernah menjadi peserta lomba kaligrafi kontemporer di NTB pada 2016 lalu. (rol/ec/kus/put)