Alween Ong : Medan Kota Berjuta Potensi

 

Alween Ong.Netty

Medan | Jurnal Asia
Kota Medan memiliki potensi yang luar biasa. Jika dikembangkan oleh pemimpin yang tepat dan kreatif bukan tidak mungkin Medan bisa mengimbangi kota-kota besar lainnya seperti Jakarta, Yogjakarta, ataupun Bandung.

Enterpreneur muda asal Medan, Alween Ong mengatakan, setiap kota memiliki identitas. Seperti Jakarta dikenal dengan Kota Metropolitan, Bandung dikenal dengan smart city dengan orang-orang kreatif, Yogjakarta itu kota seni dan jika datang ke sana pasti ingin kembali lagi dan dirindukan serta kota pelajar. Namun, bagaimana dengan Kota Medan?

Alween melanjutkan, kebanyak masyarakat tidak tahu dan banyak kesan negatif, ada yang bilang Medan kota begal, kota sejuta lubang, kota terjorok banyak sampah. Dari sisi lain, orang mengingat Medan itu terkenal dengan durian, bika ambon dan bolu Meranti, padahal jika melihat dari ruang yang lebih besar maka Medan itu kota dengan berjuta potensi.

“Banyak potensi di Medan dan itu bisa ditonjolkan. Namun, Medan belum memiliki identitas,” katanya di Medan, Jumat (9/8).

Menurutnya, identitas sebuah kota itu sangat penting. Sebab ketika ingin melakukan pembangunan maka yang pertama dilakukan ialah mencari potensi, apa yang bisa diangkat dan sejarah seperti apa. Tanpa sejarah kita tidak bisa melakukan pembangunan karena “pijakannya” tidak ada.

“Tanpa orang-orang yang mengerti tentang potensi kota maka pembangunan yang dilakukan akan “mengambang”. Dimulai dari mana bagaimana prosesnya itu tidak akan jelas,” tegas pemilik Narsis Digital Printing ini.

Jadi, lanjutannya, masyarakat Medan berusaha menyongsong Medan ini sebagai “City of Trader” (kota perdagangan). Ini karena dari segi sejarah, Medan terbentuk karena ada kepentingan orang-orang dari negara luar ataupun kota-kota yang lain untuk melakukan perdagangan.

Dengan disongsongnya Medan sebagai kota perdagangan, lanjutnya, ke depan siapapun pemimpin yang akan terjun di kota ini, harus bisa mengatur sebuah program city of trader. Ketika berbicara kota perdagangan maka Medan harus memiliki pusat bisnis, market place sendiri dan dari sisi lainnya dibuka pasar, dibentuk sentra-sentra usaha dan difasilitasi dan angkat sisi tourimsnya.

“Inilah yang harus kita dorong bersama-sama. Dari sisi anak-anak muda kreatif sudah harus memikirkan kontribusi apa yang akan diberikan. Serta dari pemerintah harus terjun ke bawah untuk melihat kebutuhan untuk menunjang bisnis,” tegasnya.

Alween melanjutkan, mendorong identitas kota perdagangan merupakan tugas bersama. Dan jika ini bisa berjalan maka Medan akan mengejar ketertinggalannya dengan kota lainnya.

Jika melihat dari rekam jejak pemimpin di Medan sebelumnya, lanjutnya, kebanyakan
mereka memiliki keinginan membangun tetapi ada power yang menekan dan ada yang punya kemampuan tetapi tidak maksimal. Padahal keinginan dan kemampuan harus berjalan bersamaan.

“Maka, pemimpin yang terpilih nantinya harus mampu dan berani membuka kanal komunikasi dengan masyarakat. Dalam arti, dapat menerima masukan-masukan positif demi kemajuan Kota Medan,” ucapnya.

Alween sendiri tidak menampik keinginan menjadi calon Walikota Medan periode 2020-2025. Namun, yang terpenting saat ini dirinya tetap “memajukan” Kota Medan dengan konsen di bidang wirausaha.

“Ketika saya maju berarti masyarakat yang memilih saya. Dan meski tidak maju, saya akan tetap membangun Kota Medan ini sesuai passion saya,” tandasnya.(nty)