Virus Corona Terus Menyebar, Prancis Tutup Museum Louvre

 

Prancis tutup Museum Louvre.AP

Paris | Jurnal Asia
Prancis menutup Museum Louvre yang terkenal di dunia, Minggu (1/3/2020) ketika wabah mematikan membuat ketakutan meningkat di Eropa Barat. Kasus coronavirus dianggap mengancam industri pariwisata.

Dikutip dari Associated Press (AP), jumlah negara yang tertular virus ini telah melampaui 60 negara. Dan jumlah kematian di seluruh dunia mencapai setidaknya 3.000.

Lebih dari 88.000 di seluruh dunia telah terinfeksi, dengan virus bermunculan di setiap benua kecuali Antartika.

Prancis meningkatkan jumlah kasus yang dilaporkan menjadi 130, meningkat 30 dari hari sebelumnya, dan mengatakan telah melihat dua kematian.

Pemerintah AS menyarankan warga Amerika agar tidak bepergian ke dua wilayah Italia utara yang paling parah, di antaranya Lombardy, termasuk Milan. Maskapai-maskapai besar Amerika mulai menangguhkan penerbangan ke Milan. American Airlines mengumumkan pada hari Minggu bahwa akan membebaskan biaya untuk mengubah semua penerbangan selama dua minggu ke depan.

Pembatasan perjalanan terhadap Italia dan meningkatnya alarm di Prancis dapat memberikan pukulan berat bagi industri pariwisata negara tersebut. Musim semi, terutama Paskah, adalah waktu yang sangat populer bagi anak-anak sekolah untuk mengunjungi Prancis dan Italia.

“Kami telah mencatat penurunan jumlah orang Amerika yang datang ke Italia dalam beberapa hari terakhir,” kata Presiden Asosiasi Hotel Italia, Bernabo Bocca.

Pejabat Prancis juga menyarankan orang-orang untuk tidak mencium pipi mereka ketika menyapa orang lain.

Louvre, rumah dari “Mona Lisa” dan karya seni tak ternilai lainnya, ditutup setelah para pekerja menyatakan takut terkontaminasi oleh arus pengunjung dari seluruh dunia. Para staf juga khawatir tentang pekerja museum dari Italia yang datang ke Louvre untuk mengumpulkan karya-karya Leonardo da Vinci yang dipinjamkan untuk pameran.

Louvre, museum paling populer di dunia, menerima 9,6 juta pengunjung tahun lalu, hampir tiga perempat dari mereka dari luar negeri.

“Kami sangat khawatir karena kami memiliki pengunjung dari mana-mana,” kata Andre Sacristin, seorang karyawan Louvre dan perwakilan serikat pekerja.

“Risikonya sangat, sangat, sangat besar.” Meskipun tidak ada infeksi yang diketahui di antara 2.300 pekerja di museum, itu hanya masalah waktu,” katanya.

Penutupan itu menyusul keputusan pemerintah pada Sabtu untuk melarang pertemuan publik di dalam ruangan yang terdiri lebih dari 5.000 orang.(nty)