Trump Diminta Pastikan Peran MBS

Kasus Pembunuhan Kashoggi

Washington | Jurnal Asia

Senat Amerika Serikat meminta Presiden Donald Trump memastikan apakah putra mahkota Arab Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman (MBS), berperan dalam pembunuhan wartawan Jamal Khashoggi.

Untuk itu, Trump didorong menggelar investigasi kedua yang secara khusus tertuju kepada sang pangeran sehingga bisa menentukan apakah orang asing bertanggung jawab atas pembunuhan ekstrayudisial, penyiksaan, atau pelanggaran berat lainnya. Permintaan tersebut dituangkan Senator Bob Menendez dan Senator Bob Corker selaku pemimpin fraksi Demokrat dan Republik di Komite Hubungan Luar Negeri Senat AS dalam sebuah surat.

Berdasarkan Undang-Undang Pertanggungjawaban Hak Asasi Manusia Global Magnitsky, permintaan tersebut harus ditanggapi dalam kurun 120 hari. Sementara itu, Senator Lindsey Graham dari Partai Republik memprediksi adanya sokongan bipartisan di Kongres AS dalam menjatuhkan sanksi terhadap Arab Saudi, termasuk anggota keluarga kerajaan.

Melalui pernyataan resmi, Trump mengatakan putra mahkota Saudi amat mungkin mengetahui pembunuhan Khashoggi. Tapi kemudian dia menambahkan, mungkin ya, mungkin tidak.

Dia juga menyatakan badan intelijen CIA belum memastikan 100% mengenai kasus pembunuhan Khashoggi. “Dunia ini adalah tempat yang sangat berbahaya,” cetus Trump, sembari menyanjung Arab Saudi sebagai sekutu AS dalam menghadapi Iran.

Arab Saudi menghabiskan miliaran dollar dalam memimpin pertempuran melawan terorisme Islam radikal sedangkan Iran membunuh banyak orang Amerika dan orang tak bersalah lainnya di Timur Tengah.

Trump menekankan pentingnya investasi Saudi dan pembelian senjata dari AS. “Jika kita dengan bodoh membatalkan kontrak ini, Rusia dan Cina akan menjadi penerima manfaat yang sangat besar,” tambahnya.

Walaupun mengakui pembunuhan Jamal Khashoggi mengerikan, Trump menyatakan “kita mungkin tidak pernah tahu tentang semua fakta” tentang kematiannya. “Amerika Serikat bermaksud untuk tetap menjadi mitra setia Arab Saudi untuk memastikan kepentingan negara kita, Israel dan semua mitra lain di kawasan ini.”

Harus Diadili

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Turki, Mevlut Cavusoglu mendesak Arab Saudi mengadili dalang yang memerintahkan pembunuhan Jamal Khashoggi, wartawan pengkritik Raja Salman, di Istanbul pada 2 Oktober lalu. Meski hingga saat ini belum ada bukti, tetapi tudingan itu diduga kuat mengarah kepada Putra Mahkota Saudi, Pangeran Muhammad bin Salman.

“Siapa pun yang memberikan perintah (pembunuhan) harus diadili. Siapa pun yang melakukan kejahatan ini harus diadili,” kata Cavusoglu seusai bertemu dengan Menlu Amerika Serikat Mike Pompeo di Washington, Selasa (20/11).

Turki menyatakan ketidakpuasan atas cara Saudi menangani kasus Khashoggi. Dalam kesempatan itu, Cavusoglu mengatakan Turki akan bekerja sama dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengusut tuntas kasus tersebut, jika hubungannya dengan Saudi menemui jalan buntu.

Dikutip AFP, Cavusoglu juga menegaskan pemerintah Turki akan merampungkan penyelidikan dan mencari tahu siapa otak di balik pembunuhan Khashoggi. Pernyataan itu diutarakan Cavusoglu ketika nama Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman, terus disebut-sebut sebagai dalang pembunuhan Khashoggi.

Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat (CIA) bahkan dilaporkan sudah menarik simpulan Pangeran Muhammad adalah orang yang memerintahkan pembunuhan Khashoggi.

CIA menarik simpulan ini setelah menggali berbagai sumber intelijen, termasuk panggilan telepon antara Khashoggi dengan saudara Putra Mahkota yang juga menjabat sebagai Duta Besar Saudi untuk AS, Khalid bin Salman.

Dalam percakapan tersebut, Khalid mengatakan kepada Khashoggi wartawan itu harus pergi ke konsulat Saudi di Istanbul untuk mengambil dokumen yang dibutuhkan. Khalid menjamin segalanya akan aman ketika Khashoggi datang ke konsulat. Meski demikian, Presiden Donald Trump menilai kesimpulan CIA itu terlalu prematur dan menginginkan laporan lengkap badan intelijennya itu terkait kasus ini.

Trump bahkan mengatakan bahwa pembunuh Khashoggi mungkin tidak akan terungkap selamanya dan berjanji akan tetap setia bersekutu dengan Saudi. Di sisi lain, keluarga kerajaan Saudi juga dikabarkan mulai menjauhi Pangeran Mohammed. Mereka juga disebut-sebut hendak menggagalkan supara Pangeran Mohammed tidak naik tahta menggantikan sang ayah, Raja Salman. (dc-cnn-adp)