Putin Mengaku Prihatin

Darurat Militer Ukraina

Moskow | Jurnal Asia

Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan keprihatinan serius atas keputusan Ukraina yang memberlakukan darurat militer. Pernyataan itu disampaikan setelah konfrontasi di laut antara kedua negara.

“Presiden Rusia, Vladimir Putin menyatakan keprihatinan serius atas keputusan pemerintahan di Kiev untuk menempatkan pasukan bersenjatanya dalam posisi siaga dan untuk memperkenalkan darurat militer,” kata pemerintahan di Kremlin dalam sebuah pernyataan.

Dalam percakapan telepon dengan Kanselir Jerman Angela Merkel, Presiden Rusia Vladimir Putin juga mengatakan dia berharap pemimpin Jerman dapat campur tangan untuk mengendalikan situasi.
“Dia juga mengatakan, berharap Berlin dapat mempengaruhi pihak berwenang Ukraina untuk mencegah mereka melakukan tindakan yang lebih sembrono,” tambahnya.

Sebuah krisis baru terjadi pada hari Minggu (25/11) ketika pasukan Rusia naik ke atas kapal Ukrania dan menahannya. Pemerintah Moskow menuduh kapal-kapal itu memasuki perairan Rusia secara ilegal di lepas pantai Krimea di Laut Azov.

Insiden berawal ketika dua kapal artileri Ukraina, Berdyansk dan Nikopol dan kapal tunda Yana Kapa berlayar dari Pelabuhan Odessa di Laut Hitam menuju ke Mariupol di Laut Azov.

Ukraina menuduh Rusia mencoba menghalangi pelayaran tiga kapal itu. Ketiga kapal itu melanjutkan pelayaran ke arah Selat Kerch, namun dihadang kapal tanker. Beberapa awak kapal dilaporkan mengalami luka-luka.

Lonjakan ketegangan mendorong parlemen Ukrania memberikan suara pada hari Senin (26/11) untuk mendukung pemberlakukan darurat militer di daerah perbatasan selama 30 hari.

Status darurat militer memberikan otoritas bagi Ukraina untuk memobilisasi warga yang berpengalaman militer untuk bekerja di fasilitas pertahanan, mengatur media dan membatasi unjuk rasa.

Bentrokan yang terjadi di laut Azov itu merupakan kali pertama Rusia dan Ukraina terlibat dalam konflik terbuka dalam beberapa tahun terakhir, meski pasukan Ukraina memerangi kelompok separatis yang pro Rusia dan di wilayah timur sejak tahun 2014.

Presiden Ukraina, Petro Poroshenko, menyebut Rusia melakukan agresi baru selepas Moskow menahan tiga kapal angkatan lautnya ketika melewati Laut Hitam.

“Setelah penyerangan terhadap kapal militer Ukraina, (Rusia) telah meluncurkan agresi fase baru,” ucap Poroshenko dalam pidatonya yang disiarkan televisi nasional pada Senin (26/11) malam.
Poroshenko mengatakan insiden yang terjadi di Laut Azov dekat Semenanjung Krimea itu

menunjukkan arogansi dan keinginan terbuka untuk berkonflik. Menurutnya, perubahan situasi ini terjadi karena Rusia sebelumnya menolak tudingan bahwa personel militernya terlibat dalam konflik Ukraina.

Poroshenko menetapkan status darurat militer yang berlaku selama 30 hari ke depan setelah sebelumnya sempat mengajukan 60 hari. Dia menganggap status darurat militer diperpendek guna menghindari tumpang tindih dengan masa kampanye pemilihan umum.

“Kami harus segera memperkuat pertahanan kami agar dapat bereaksi cepat jika terjadi invasi,” tuturnya seperti dikutip AFP.

Sejumlah oposisi Poroshenko menuding status darurat militer diterapkan guna menunda pemilihan presiden yang diperkirakan berlangsung Maret mendatang.
(dc-cnn-adp)