Konflik Rusia-Ukraina Jerman Siap Jadi Penengah

BERLIN, GERMANY – OCTOBER 29: German Chancellor and leader of the German Christian Democrats (CDU) Angela Merkel speaks at a press conference the day after elections in the state of Hesse on October 29, 2018 in Berlin, Germany. Merkel announced that she will not seek re-election neither as party chairwoman nor as chancellor, and that she will withdraw from political office once her terms end. The CDU came in first place in Hesse but at 27% a full 11 points less than in the last election. (Photo by Sean Gallup/Getty Images)

Berlin | Jurnal Asia
Menteri Luar Negeri Jerman Heiko Maas mengatakan, Jerman bisa jadi penengah antara Ukraina dan Rusia. Kanselir Jerman Angela Merkel menelpon Presdien Rusia Vladimir Putin dan menekankan pentingnya de-eskalasi.

Menteri Luar Negeri Heiko Maas mengatakan, Perancis dan Jerman menawarkan diri untuk menengahi konflik Ukraina dan Rusia di Laut Asov. Selama ini, Perancis, Jerman, Ukraina dan Rusia memang melakukan pertemuan berkala dalam rangka mengawasi pelaksanaan perjanjian gencatan senjata antara Ukraina dan pihak separatis yang didukung Rusia di Donetsk dan Luhansk.

Pertemuan terakhir berlangsung hari Senin (26/11) di Berlin. “Ke-empat negara ketika itu sepakat untuk fokus pada solusi,” kata Maas dalam acara Forum Kebijakan Luar Negeri di Berlin hari Selasa (27/11). “Kami harus melakukan segalanya untuk mencapai de-eskalasi guna mencegah krisis berubah menjadi bahaya yang jauh lebih serius bagi keamanan Eropa.”

Ketegangan antara Rusia dan Ukraina dipicu insiden hari Minggu (25/11) ketika Rusia menembaki dan menyita tiga kapal angkatan laut Ukraina yang memasuki Laut Azov. Rusia menuduh para kru kapal-kapal itu melakukan pelanggaran perbatasan dan tidak bereaksi setelah diperingatkan. Kru kapal itu sekarang ditahan di Rusia.

Kanselir Jerman Angela Merkel menelepon Presiden Rusia Vladimir Putin Senin malam untuk menekankan “keharusan untuk de-eskalasi dan dialog,” kata juru bicara pemerintah Steffen Seibert. Putin mengecam apa yang disebutnya perilaku provokatif dari Ukraina, dan mengatakan dia berharap Berlin dapat mempengaruhi Ukraina untuk menahan diri dari tindakan seperti itu di masa depan. Putin juga menyatakan keprihatinan tentang keputusan Presiden Ukraina Petro Poroshenko untuk memberlakukan darurat militer selama 30 hari.

“Merkel dan Putin sepakat akan menunggu analisis insiden perbatasan Rusia dan Ukraina itu dengan partisipasi para ahli keamanan,” kata Steffen Seibert.

Presiden Ukraina Petro Poroshenko Selasa (27/11) memperingatkan adanya ancaman perang. Dia mengatakan Rusia telah meningkatkan kehadiran militernya di perbatasan: “Ukraina berada di bawah ancaman perang skala penuh dengan Rusia,” katanya dalam wawancara di televisi nasional.

Agresi
Duta besar Ukraina untuk Jerman Andrij Melnyk meminta Jerman untuk memberikan bantuan militer. “Kami berharap dari mitra Jerman kami, agar kapal-kapal angkatan laut Uni Eropa dan NATO dikirim ke Laut Hitam dan Laut Asov sesegera mungkin untuk mencegah tindakan perang dari Moskow,” katanya kepada harian Jerman Bild.

Mengenai insiden antara Angkatan Laut Rusia dan Ukraina di Laut Azov, Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada harian Washington Post: “Saya tidak suka agresi itu”.

Donald Trump mengatakan, dia mungkin tidak jadi bertemu dengan presiden Rusia Vladimir Putin disela-sela KTT G20 yang diadakan di Argentina pada Jumat dan Sabtu. “Mungkin saya bahkan tidak akan mengadakan pertemuan,” dengan Putin, kata Trump. Moskow tidak memberi tanggapan tentang pernyataan Presiden AS itu. (dc-adp)