China Beri Bantuan Alat Medis ke Sejumlah Negara

Petugas di Slovakia menurunkan masker dan alat uji corona dari China.AFP

 

China | Jurnal Asia
Dalam beberapa pekan terakhir, China telah menyumbangkan ratusan ribu masker dan alat alat pemeriksaan virus corona ke Kamboja, menerbangkan bantuan ventilator, masker, dan petugas medis ke Italia dan Prancis.

Tak hanya itu, China juga menjanjikan bantuan serupa untuk Filipina, Spanyol, dan negara lain. Sementara untuk Iran dan Irak, Negeri Tirai Bambu berencana mengirim serta tenaga medis.

Dilansir dari AFP, Jumat (20/3/2020), kini China memposisikan diri sebagai pemimpin dan donatur dalam sektor kesehatan masyarakat di tengah pandemi virus corona. Media pemerintah pun mulai melaporkan berbagai dukungan China untuk negara-negara lain yang menghadapi wabah tersebut.

Sementara itu Jack Ma, orang terkaya Tiongkok, menyumbangkan dua juta masker untuk didistribusikan di seluruh Eropa, dengan pengiriman telah tiba di Belgia, Spanyol dan Italia.

Satu juta topeng lainnya menuju Prancis dari China pada hari Rabu (18/3/2020).

“Sekarang kita melihat pejabat China dan media pemerintah mengklaim bahwa China memberi dunia waktu untuk mempersiapkan pandemi ini,” kata seorang peneliti di Loqy Institute Sydney dan mantan diplomat Australia, Natasha Kassam seperti dikutip┬áThe Guardian.

Presiden China Xi Jinping, mengatakan siap bekerja sama dan membantu negara-negara di dunia yang tengah ‘berperang’ melawan penyebaran virus corona.

Xi dilaporkan telah menyampaikan kesiapan China itu lewat percakapan telepon dengan Presiden Rusia Valdimir Putin.

Namun, para ahli berpendapat bahwa dukungan yang diberikan China dijadikan sebagai alat propaganda untuk memperluas dan memperkuat pengaruhnya di seluruh dunia.

“Jelas bahwa Beijing melihat bantuannya sebagai alat propaganda,” kata Noah Barkin dari Institusi German Marshall Fund.

Dalam dua hari terakhir, untuk pertama kalinya China mencatat nol kasus infeksi virus corona. Laporan ini merupakan pertama kalinya sejak China berperang melawan penyebaran Covid-19 saat kasus pertama kali terungkap pada akhir Desember 2019.(nty)