Pojok Baca Tingkatkan Minat Baca Siswa

 

Para siswa sedang serius membaca.Netty

Medan | Jurnal Asia
Dalam mendorong budaya baca dan metode pembelajaran di kelas, SD 040451 Kabanjahe membuat pojok baca di setiap kelas. Dengan adanya pojok baca para siswa lebih gemar membaca.

Seperti diakui Kepala Sekolah 040451 Kabanjahe, Rosmiati Br Tarigan SPd Mpd, setelah ada pojok baca, anak-anak mudah mendapatkan buku di kelas dan membuat mereka senang membaca. Tanpa disuruh membaca, mereka berinisiatif membaca sendiri.

“Setiap kelas ada pojok baca. Di pojok baca itu ada buku cerita sesuai dengan kelasnya. Misalnya kelas 1, buku cerita yang disediakan lebih banyak gambar sedikit tulisan dan kelas 4-6, sedikit gambar banyak tulisan,” katanya, kemarin.

Ia melanjutkan, sebelum ada pojok baca, minat anak-anak untuk membaca sangat minim, contohnya perpustakaan jarang dikunjungi dan dijadikan gudang. Buku yang tidak dipakai diletakkan di perpustakaan sampai berdebu.

Setelah mengikuti pelatihan dari Tanoto Foundation, katanya, pihaknya langsung berubah dan menata semua buku. Mereka sadar betapa pentingnya perpustakaan untuk anak-anak dan pentingnya membaca itu.

“Anak-anak semakin berminat membaca. Kegiatan pojok baca ini sudah berlangsung satu tahun dan ini memberikan dampak positif bagi anak-anak,” ucapnya.

Selain pojok baca, tambahnya, setiap hari Rabu juga digelar Rabu Membara (Rabu membaca gembira). Setiap siswa, diajak membaca di luar kelas (saung) dan mereka bebas memilih tempat duduk disediakan.

Seorang siswi kelas VI SD, Puput mengatakan, pojok baca membuat dirinya gemar membaca. Yang biasa hanya membaca buku pelajaran, kini ada buku cerita yang bisa dibaca.

“Senang ada pojok baca di kelas. Jadi kalau sudah selesai belajar, bisa dilanjut membaca buku cerita. Maunya semakin banyak lagi buku-buku ceritanya,” ucapnya.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Karo :
DR. Drs. Eddi Surianta M. Pd mengungkapkan, dinas pendidikan mendorong setiap sekolah agar menggunakan metode bervariasi seperti belajar di dalam ataupun luar kelas. Dan guru juga dituntut kreatif sehingga proses belajar mengajar lebih menarik.

Di Kabupaten Karo, kata dia, ada 24 sekolah yang sudah disasar Tanoto Foundation dan ada perubahan pembelajaran. Hampir setiap sekolah sudah ada literasi misalnya ada pojok baca, saung baca, ada juga tempat duduk yang bervariasi yang bersifat mobile.

“Di setiap ruangan itu karya siswa juga dipajang sehingga menimbulkan semangat belajar. Dengan bergairahnya proses belajar di sekolah maka siswa akan lebih cepat menangkap pelajaran,” pungkasnya.(nty)